Tags

, , , ,


“dont judge the book from its cover”

Minggu lalu saya mampir ke Popular Toa Payoh. Ini toko buku, bukan judul majalah dewasa. Ga ada yang dicari kecuali diskon…haitss.. Sampailah saya pada bagian stationery, coba2 pulpen satu demi satu. Asyik dong…pakai pulpen baru tapi ga perlu beli. (Di bagian ini pasti istri saya uda komentar, “Dasar Iseng…”).

Selagi saya eksperimen dengan pulpen2 ini, diseberang saya agak ke sebelah kiri kira2 5 meter, ada seorang bapak2 yang sedang berdebat dengan salah satu anaknya. Anaknya kira2 sih SMP atau SMA pakai baju sekolah. Ada yang badannya tinggi kurus, satunya lagi bongsor. Sedangkan si bapak berbadan besar, pakai kaos Barcelona biru. Umur mungkin uda mau nyampe 50 kali ya. Dari penampakannya sepertinya ketiga2nya ras Chinese. Tebakan saya ya Singaporean (Warga Negara Singapura).

Si bapak bertanya dengan anaknya dengan logat Singlish. Si anak yg menjawab dengan dialek Singlish pula. Khas Singapura. Saling tanya dan menjawab ini lama2 jadi kenceng…orang2 juga uda mulai nengok pada bapak-anak ini. “Ah…singaporean…ngomong dipelanin dikit kek…kayak punya sendiri aja.”, batinku. Sedikit2 saya mulai mendekati mereka. Pengen tau apa sih yang diributin.
“….show me what’s the different between this and this. Everything looks same to me…”, kata si bapak dengan irama mandarin.
Jawaban si anak rada ga jelas se-ga-jelas apa yang diributin. Tapi si anak mau item A, sedangkan si bapak ga paham kenapa ada item B dia ga mau pakai. Padahal sama menurutnya.
“….OK…OK….just call the guy here! Maybe he can explain”, kata si bapak gusar.
Si anak ga mau pergi panggil SPG, malah kembali menjelaskan jawaban yang sama. Yang terjadi selanjutnya begitu klimaks!

“Loh…terus bedanya ini sama ini itu apa? Aku nanya sama kamu, ga jauh beda gitu loh!! Makanya panggil tu SPG biar dia jelasin!!”, si bapak uda setengah menjerit tertahan dengan muka merah padam. Si anak yang lain buru2 manggil SPG.

Gubrakkk !!!!
Saya mo nahan ketawa. Ternyata orang Indonesia tuh karena ga keliatan logat melayunya.

Jadi intinya si bapak uda rada stres, kelepasan ngomong bahasa Indonesia ga terkontrol. Bahkan pas SPGnya datang pun, masih meluncur bahasa Indonesianya sebelum diganti Singlish lagi.

Hahaha…kadang kalo saya di-push bos (dari ras lain) pun, kalo uda kewalahan ngomong, “Sik…sik...” Entar dulu dalam bahasa jawa.

🙂