Tags

, , , , , , ,


Gw uda punya buku ini 3 tahun yang lalu. Tapi baru selesai baca 3 minggu lalu! Tebal? Enggak. Bacanya lama sekali. Ga bisa baca? Bisa dong.🙂

Alasan terkuat kenapa gw baru menyelesaikannya 3 minggu lalu adalah buku ini ga terlalu menarik untuk dibaca. Gw dulu pengen baca novel yang bukan bikinan orang amerika. Eh, apa ya? Saya milih karya Amin Maalouf (Novelis Lebanon) ini dan “My Name is Red” – Orhan Pamuk (Turki). Apalagi di cover belakang ada embel2nya “Pemenang Penghargaan Prix Goncourt 1993”, penghargaan tahunan untuk karya sastra Perancis.

Paruh pertama buku ini menceritakan tentang kehidupan Omar Khayyam (1048-1131) dan situasi & kondisi politik  lokal di masa dia hidup. Khayyam adalah ahli Matematika,  Astronomi, Teologi dan Filosof Persia kelahiran Nisyapur. Kemudian pindah ke Samarkand, yang menjadi sentra jalur sutra abad 14, dan diceritakan Omar diberikan fasilitas oleh pemerintah lokal setempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan disinilah hampir separuh cerita novel ini dibangun. Mulai dari sejarah dan penggambaran Persia, dari pemerintahnya, intrik politik dan keluarga dan (ga lupa) bumbu cintanya dengan Djahan. Juga jalan hidupnya yang ‘eksentrik’ di luar norma Islam pada umumnya.  Mungkin latar belakang sejarahnya bener (sori, gw bukan ahli sejarah persia abad pertengahan dan ga ada niatan untuk jadi gitu🙂 ). Begitu juga kisah interaksinya dengan Hassan Sabbah (pendiri satuan elit pembunuh Hashihin/Assasin) dan juga Nizam Al-Mulk (Wazir Kerajaan Seljuk). Sempat cek di wiki, sepertinya ceritanya cocok. Diceritakan di bagian pertama ini, Omar diminta Nizam Al-Mulk untuk menuliskan semua pemikiran2 baik yang normal atau yang nyentrik dalam sebuah buku dan rubaiyatnya ( Quatrain ala Persia). Naskah Omar sempat dicuri oleh kaum Hashihin dan menjadi koleksi perpustakaan di benteng Alamut. Alamut sendiri akhirnya runtuh di era penyerbuan kaum Mongol dipimpin Hulagu Khan 1255 – 1256. Dikabarkan perpustakaan tersebut dibakar dan warisan Khayyam diduga juga hilang.

Paruh kedua, menceritakan tentang Benjamin O Lesage. O diambil dari kata Omar, karena orang tuanya mengagumi tokoh tersebut. Benjamin sendiri hanya sekedar kenal Khayyam dari orang tuanya. Justru semakin tertarik mendalaminya setelah mengunjungi kakeknya di Perancis dan kemudian diperkenalkan dengan Rochefort (seorang Marxis Perancis) dan Djamaluddin (Pencari suaka politik dari Persia) yang mengetahui masih ada naskah asli Khayyam. Benjamin tertarik untuk untuk mendatangi Persia dan berhasil menjalin hubungan dekat dengan Syirin, putri dari penguasa lokal di Persia. Tokoh Benjamin sendiri mungkin fiktif tapi tetap mengambil latar belakang sejarah kota Tabriz di era Revolusi Konstitusi Iran yang menuntut pembentukan parlemen di tahun 1905 -1911. Naskah asli Khayyam memang ditemukan. Namun dalam perjalanan kembali ke Amerika, Benjamin dan Syirin ternyata dipisahkan oleh kecelakaan kapal “Titanic” 1912. Naskah tersebut hilang untuk selamanya.

Sebenarnya inti ceritanya itu kisah kehidupan pribadi dan situasi politik di kota dimana orang2 seputar naskah tersebut hidup. Dari Omar, Djahan. Sponsor utamanya Nizam Al-Mulk, kompatriotnya Hassan Sabbah. Kemudian fans beratnya dari Benjamin dan Syirin.

Gw sendiri mencoba baca novel ini 3 kali, dan selalu berhenti sebelum nyampe separuh jalan. Dan jarak ‘percobaan’ pertama, kedua dan ketiga itu berbulan2. Uda lupa nyampe mana, ulang lagi dari depan.😀

Kalo gw bilang sih jalan ceritanya OK sih, cuman penyajiannya kurang menarik. Mungkin (mungkin loh ya… kembali soal terjemahan), terjemahannya mungkin kurang ‘nendang’. Novel berlatar belakang sejarah gini memang menarik untuk dibaca untuk bahan pengetahuan ringan. Se-enggak2nya gw ngerti kalo Hashihin ternyata adalah cikal bakal pembunuh bayaran profesional yang dikenal kemudian sebagai Assassin. Bisa juga, gw ga cocok ama cara Amin bercerita. Memang detil lokasi dan ilustrasi yang diberikannya cukup bagus, bahkan menuai pujian dari kritikus sastra sebagai strong point beliau. Tapi…. ah, entahlah… gw ngerasa novelnya ‘berat’, ‘ga terlalu menghibur’.

Di minggu berikutnya, gw berhasil menyelesaikan novel 200 halaman karya penulis Indonesia dalam tempo 3 hari. Tunggu aja posting berikutnya.