Tags

, , , , , , , ,


Ribut-ribut soal KHL (yang mana kenaikannya tidak signifikan), saya jadi berpikir apakah pemerintah dan pengusaha pernah berhitung soal daya beli.

Saya termasuk yang beruntung karena berpendapatan di atas UMR dan KHL. Alhamdulillah. Tapi satu tahun terakhir, saya merasa kehilangan daya beli. Sungguh bukan karena life style berubah, normal2 aja kok.

Saya hanya berpikir, kenapa pendapatan saya naik, tapi ga diimbangi daya beli. Sesuatu yang saya pikir (setahun sebelumnya) akan bisa saya beli (jika pendapatan saya naik) ternyata tetap saja tak terbeli.

Betulkah saya kehilangan daya beli?

Sampai akhirnya saya inget dengan alat tukar universal yaitu EMAS. Satu dinar (emas 4.25 gram 22 karat) di masa Rasulullah SAW bisa ditukar dengan 1 ekor kambing sehat berkualitas bagus. Pas hari raya kurban kemaren, satu dinar masih bisa beli satu ekor kambing. 1 Dinar beberapa minggu terakhir ‘anteng’ di angka 2.2jt-an (sempat tembus 2.3 juta malah). Sedangkan harga kambing ga sampai 2 juta.

Hakikat uang adalah sebagai alat tukar. Besarnya ‘nilai’ nominal uang yang begitu besar tidak akan berarti bila daya tukarnya melemah. Coba pahami fakta di Zimbabwe berikut ini:

Di bulan Maret 2008, sekantong kecil kopi produk lokal berharga 1 trilyun Z$ yang mana, satu dekade yang lalu dengan jumlah yang sama kita bisa mendapatkan 60 mobil baru. Dari sumber lain dikatakan bahwa, sekarang ini, 1 US$ berharga sama dengan 20 trilyun Z$ di bank central setempat, sementara di pasar gelap pecahan yang sama berharga 90 trilyun Z$. Dengan uang segitu, kita mendapatkan 1 kantong gula, berukuran 4 lbs (1.8 kg). Sekarang ini, a sebuah roti (a single loaf of bread) bernilai hampir 100 milyar Z$. Tenaga kerja non-terampil bisa mendapat 200 trilyun Z$ per bulan (ato sekitar 10 US$ menurut kurs resmi pemerintah).

Jadi di Zimbabwe, semua orang adalah trilyuner karena gaji tenaga non-terampil aja 200 trilyun.🙂

Di Indonesia sendiri, kata jutawan juga sudah kehilangan makna eksklusif. Banyak jutawan di Indonesia. UMR yang dirilis pemko Batam senilai 1.3 juta sekian mengindikasikan mayoritas penduduk Batam adalah Jutawan. Tapi, para jutawan ini juga masih berjuang mendapatkan angka kelayakan hidup minimum. Pertanda mereka belum cukup makmur. Belum hidup selayaknya. Ini tahun 2011. Di sisi lain, laptop dan handphone cerdas telah membanjiri pasaran dengan nilai jutaan. Handphone cerdas ala Samsung galaxy Mini baru dibandrol 1.4 juta, hampir sebanding UMR 1 orang pekerja. Kendaraan bermotor semakin terjangkau harganya dibanding 10 tahun yang lampau. Anda boleh berkilah itu akibat kredit konsumtif yang membanjir. Walaupun ada benarnya, saya juga berpendapat manufaktur semakin bisa efisien, mampu menekan ongkos produksi dan bahan baku. Dengan demikian harga barang sesungguhnya semakin murah. Hanya karena daya beli kita yang semakin berkurang saja maka kita kembali menggerutu, gaji naik tapi tetap tak mampu.

Di tahun 80-an, denger kata computer yang berharga 900rb saja…. Wah… sophisticated item, hi tech, dan mahal. Bukan termasuk kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Hanya orang yang BUTUH dan MAMPU saja yang beli. Di tahun 80-an ini pula, orang tua saya mulai mencicil sebuah rumah tipe 45 lokasi hook. Besar cicilannya seinget saya cuma 160rb (kalo ga salah inget) selama 15 tahun. Saya kurang tau berapa gaji PNS saat itu. Mungkin uda masuk kelas Jutawan level 1. Tapi kata Jutawan akan disematkan pada orang yang suka berderma hingga berjuta-juta, naik mobil, ato minimal punya video player, nintendo, dan mampu sewa kaset minimal sebulan sekali. Pokoknya orang hebat dan kaya deh…

Saya jadi mencoba-coba mengkonversi daya beli dan nilai tukar pendapatan terhadap nilai intrinsik emas (ato dinar). Saya berasumsi daya beli seseorang itu berbanding lurus dengan jumlah emas yang dibelanjakannya. Dia susah membeli di luar jumlah tersebut KECUALI berhutang, ato harga kebutuhannya turun. Basis yang saya gunakan adalah historical data emas dari Kitco.com, http://www.kitco.com/charts/popup/au3650nyb.html.
Karena nilai emas per ounce disajikan dalam dolar, maka diperlukan historical data IDR terhadap emas. Saya mengambil data dari Google Finance, http://www.google.com//finance?chdnp=1&chdd=1&chds=1&chdv=1&chvs=Linear&chdeh=0&chfdeh=0&chdet=1322030243560&chddm=2651520&q=CURRENCY:USDIDR&ntsp=0

Google Finance hanya mencatat nilai tukar tersebut hingga bulan April 2004. Anomali grafik IDR terhadap dollar (1 dollar ~ Rp 12000) pada akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009, tidak berpengaruh banyak terhadap kenaikan harga emas terhadap dollar. Volatilitas akan selalu ada mengingat barang ini juga diperjualbelikan dimana harga ditentukan oleh supply dan demand.

Inget, kita mengkonversi pendapatan (yang dihargai secara nominal) terhadap volume emas yang bisa kita dapatkan. Semakin tinggi volumenya, maka diasumsikan daya beli meningkat.
Inget, 1 dinar (1 koin emas seberat 4.25 gram 22 karat) di 14 abad yang lalu bernilai 1 ekor kambing kurban sehat. Barang kebutuhan semakin murah, maka sesungguhnya kenaikan pendapatan menaikkan porsi emas dan selanjutnya meningkatkan daya beli. Jika tidak, tentu kita bertanya dimana missing link nya.

Pada Desember 2004, harga emas senilai 400 USD / ounce. Konversi USD ke IDR pada bulan desember 2004 adalah 9276 IDR/USD.
Sehingga pada bulan tersebut, emas senilai 400*9276=3710400 IDR /ounce. 1 ounce emas adalah senilai 31.1034768 gram.
Maka, 3710400/31.1034768 = 119292. 130 IDR/gram. Satu dinar seharga = 4.25x(22/24)x119292.13 = 464742.265 IDR. Belum termasuk ongkos cetak, sertifikat dan ongkir.
Maka, jika anda punya uang satu juta rupiah itu sebanding dengan (1000000/119292.130) = 8.383 gram. Atau (1000000/464742.265)=2.15 Dinar.
Di tahun 2004, anda (seorang jutawan) mampu membeli 2 ekor kambing !🙂
Di tahun 2003 ini pula, saya membeli sebuah PC rakitan standar (bukan buat game) dihargai 4.8 juta rupiah. Handphone mutakhir adalah Nokia 8110 senilai satu juta sekian.

Hari ini, harga emas telah menyentuh 1705.06 USD/ ounce. Sedangkan nilai tukar USD ke IDR sendiri sekitar 9050 IDR/USD.
Dari perbandingan valas di atas, IDR menguat 2.4% dari tahun 2004. Sedangkan nilai tukar emasnya sendiri sudah melompat 4 kali lipat.
Menengok gerai dinar hari ini, 1 dinar senilai dengan 2192076 IDR.
Hari ini jika anda jutawan, 1 juta rupiah, tak mampu beli kambing 1 ekor !!
Sekarang sebuah PC rakitan kelas standard sekitar 4 juta rupiah dengan spek yang jauh lebih baik di masa 2004.

Saya mencoba menghitung daya beli saya sendiri tadi malam, dan terkejut. Walaupun secara nominal pendapatan saya telah naik, ternyata daya beli saya terus berkurang dari tahun ke tahun.

Itu menjawab pertanyaan saya sendiri.

Note:
1. Saya bukan ekonom makro atau praktisi financial planner malah pasien financial planner.🙂
2. Saya sadar studi saya tidak dilandasi dengan struktur logika yang baik. Seperti misalnya mengacuhkan pengaruh ekonomi global. Begitu juga, kebutuhan dasar tidak diasumsikan secara jelas sebagai acuan. Kan ga semua orang butuh kambing.🙂
3. Karena ini untuk pemuas pribadi, maka saya tidak ada niatan ‘memprovokasi’ dengan konversi ke emas. Jika terpengaruh, itu karena anda sendiri.🙂
4. Sengaja saya mempublikasikan pemikiran ini, mungkin saja ada yang bisa memperbaiki kerangka berpikir saya. Juga mengkritisinya. Dengan anda mengkritiknya, saya mendapat ilmu baru.🙂
5. Jika tertarik lebih lanjut, anda bisa membaca artikel tentang emas dan valas dalam ekonomi global di geraidinar.com, baca buku think dinar karya @endykurniawan, ato referensi lain.