Tags

, ,


Seperti biasa gw barengan ama mas Rizqi shalat Maghrib di Masjid dekat rumah. Dan seperti biasa pula, anak itu selalu pengen cepat sampe, nyelonong sana-sini dengan langkah kakinya yang cepat. Gw sengaja pelan-pelan sambil menengok jajaran rumah tetangga sepanjang jalan menuju masjid. Ada satu dua (eh…barangkali 3 ato lebih) yang lampunya masih mati. Mungkin penghuninya belum pulang kerja. Tapi, sebagian besar sudah tidak berpenghuni. Ada satu rumah yang menarik perhatian. Jemuran masih nyantol di depan jendela, lampu depan menyala terang sehingga saya bisa membaca tulisan itu. “DIJUAL”.

Di gang sebelah, gw tau 3-4 rekan karib istri gw juga sudah pindah ke luar Batam mengikuti suami pindah tugas. Satu dan dua orang yang lain sudah ‘digosipkan’ akan dipindahtugaskan.🙂

Sementara beberapa teman kerja gw juga ada yang pindah rumah karena pindah kerja.😀

Banyak orang masih susah beli rumah, tp banyak rumah yang dijual juga.
Beberapa orang yg gw kenal, masih mencari lokasi rumah yang nyaman, sedangkan beberapa yg lain mencari kenyamanan di luar rumah.
Ada yang ga betah di rumah sendiri, ada pula yang masih betah numpang orang lain?
Ada yang bela2in meninggalkan rumah demi kehidupan lebih layak, tp ada juga yang mati2an bertahan di rumah sendiri walaupun susah.

Rumah. Apa sih rumah?

Dulu saya dinasehati untuk segera membeli rumah daripada mengontrak. Menguntungkan dari sudut finansial, karena kita mendapatkan aset sebagai ganti “accomodation consumable”. Beli rumah secara kredit ato ngontrak tetap saja cost ada di sisi credit, ato expense. Itu adalah beban hidup seperti makan dan pakaian.  Jadi inget kategorisasi kebutuhan pas pelajaran ekonomi di SMP. :p

Ada bentuk fisik di sana. Nilai fisiknya juga bisa mempengaruhi nilai asetnya. Tanah luas, bangunan bagus, lokasi strategis, tentu saja jauh lebih mahal daripada Rumah Sangat Sederhana Sehingga Susah Selonjor (RSSSSS)😀. Sementara orang bermental investor, ingin “value”nya terus meningkat. Suatu saat nanti dijual kembali. Itu cuman benda mati, tak ada ikatan emosi.

Secara psikologi, rumah adalah comfort zone. Feel at home adalah perasaan nyaman. Buat perantau, “feel at home” adalah tanda2 keberhasilan. Merasa aman, nyaman, dihargai dan dicintai. Ada sejarah keluarga di sana. Makanya seorang teman mati2an mempertahankan rumah warisan keluarga karena ikatan emosionalnya, itu rumah pemberian neneknya pada bapaknya. Keempat bersaudara itu lahir di rumah, berantem hingga dewasa. Ada pohon seumuran adik bungsunya.

Buat gw, rumah adalah studio gw. Tempat gw ngeblog, nulis, ngoprek laptop kesayangan. Tempat gw motret kue2 produk cakeq (baca keik-ku), tempat gw eksperimen lighting, dan galeri pribadi gw… yeee… (tepok tangan….).

Ini rumah pertama gw. Sewaktu gw pertama merit, ga pernah ngebayangin mo punya rumah. Ga pernah direncanakan sebenarnya.

Jujur, sampe sekarang Batam bukan kota favorit gw walaupun uda hampir 6 taun di sini. Dibanding Surabaya, Jogja ato Bandung, sangat jauh tingkat kenyamanannya. Tapi, gw kerasan karena gw banyak ketemu orang baik di sini.

Buat gw, rumah adalah tempat dimana gw diterima kapan pun, ngerasa aman dan nyaman, serta banyak cinta di sana, tidak tergantung geografis, ato fasilitas. Rada naif ya? :p

Buat lu?🙂