Tags

, , , , , , ,


Capek abis ngurus rumah seharian, saya berharap dapat hiburan murah meriah dan menyenangkan. NONTON BOLA. Buat saya nonton bola itu adalah Arsenal !šŸ˜€. Berhubung ada penundaan akibat cuaca buruk di London, dan lagi euforia timnas Indonesia, jadinya nonton bola Malaysia vs Indonesia. Pernah menang 5-1 di Indonesia, tentu besar harapannya Indonesia akan menang lagi. Saya sempatkan nonton bareng tetangga di komplek sebelah. Ada door prize nya lagi…šŸ™‚

Seperti yang saya bilang, kayaknya Indonesia akan menang tipis saja di Bukit Jalil. Tapi, ternyata kami sekampung histeris pada gol pertama, kaget pada gol kedua, dan tentu melongo, terdiam dan lemas pada gol ketiga. Seingat saya, tidak ada yang teriak pada gol ketiga. Terlalu cepat untuk refleks kami yang sudah shock karena 2 gol pertama. Norsahlan Idlan, jadi momok di sektor kiri pertahanan Indonesia. ‘Mencopet’ bola dari Maman yang ingin membiarkan bola keluar, kemudian melewati 2 pemain, dan assist pada Safee Sali. GOL ! Mirip Dr.Azahari, ternyata terornya tidak berhenti di situ, dengan cara yang sama, Idlan melewati beberapa pemain untuk kemudian passing (tp ternyata malah belok). Gol lagi. Gol ketiga tidak usah dikomentarin.

Saya pikir babak pertama, Indonesia masih OK. Hanya saja, saya uda kepikiran kenapa M.Ridwan jadi mati di sektor kanan. Jarang terlihat penetrasinya, dribling mudah dipatahkan, umpan2nya pun jarang. Beda dengan pertandingan2 sebelumnya. Okto masih bagus di kiri. Juga lini tengah hingga pertahanan.

Malaysia sendiri tampilannya lebih bagus daripada lawan Vietnam. Kalo anda belum pernah melihat leg 1 semifinal Malaysia vs Vietnam, Harimau Malaya ini malah tertekan di babak pertama, susah menyerang. Bisa menang karena serangan balik dan blunder pemain Vietnam. Jadi di atas kertas, Indonesia yang gaya bermainnya lebih ofensif harusnya bisa dapat lebih banyak peluang.

Memang sih, setelah insiden gangguan laser dan memicu walkout pemain indonesia, sepertinya pemain Indonesia jadi kayak orang digendam. Biasanya berani tackling keras berubah menjadi “hadang-seadanya-toh-ada-teman-saya-dan-moga2-berhasil”. Pasrah dilewatin lawan, tidak tau harus bagaimana dan semangat menurun.

Tentu, yang kaget bukan hanya pemain di lapangan. Saya yakin, pemain dan pelatih Malaysia juga kaget, kok bisa menang besar. Penonton juga kecewa, “Kok kalah?”

Kekecewaan ini dibahas di semua media hari ini. Dari observasi teknis, kayaknya hampir sama seperti yang saya tulis di atas. Sedangkan non-teknisnya ini yang lebih menarik. Tentu, acara kunjungan politik jadi porsi besar. Tim finalis yang diperlakukan bak juara tentu menambah stress pemain. Belum lagi harapan fans bola pada prestasi timnas yang selama hampir 2 dekade, memble. “Kok kalah?” tentu menyiratkan bahwa kita (juga saya) tidak siap menerima kekalahan itu. Padahal, namanya bertanding kalah dan menang itu biasa.

Saya berpendapat Malaysia pantas menang. Ini tim dengan level penantang Asia di masa depan. Tidak ada error sedikit pun. Di hari itu, Malaysia 3 level di atas kita. Harapan Rajagobal bahwa Malaysia seperti Madrid kayaknya terkabul. Dan hari itu saya menyesal, kenapa saya bandingkan Indonesia dengan Arsenal di posting sebelumnya. Dooh !

Sekaligus menutup pandangan saya pada piala AFF 2010 ini, Indonesia masih bisa menang di Gelora Bung Karno 29 Desember nanti. Kayaknya menang tipis nih (dan moga2 saya salah). Alasan saya, momentum Malaysia masih bagus, dan akan mempertahankan kemenangan. Indonesia, menang ato kalah, juara ato tidak, kiranya menjadi pembelajaran buat semua bahwa naturalisasi bukan “jamu-jadi-juara”. Tapi, “reinforcing”. Politisasi olahraga sudah layaknya dihentikan. Prestasi tertinggi adalah tujuan dengan menjunjung fair-play.

Sebagai penutup, (ini tidak layak dijadikan kutipan dan saya tidak bangga mengutipnya), seorang teman mendoakan bahwa timnas tidak juara sewaktu penyisihan supaya alasan menurunkan Nurdin Halid dan kroninya semakin valid.

May the best team wins and Bring Nurdin Down !!!

note:
Harusnya dibandingkan B**** ya cak?
No way…Ā šŸ˜”