Tags

, , , , , ,


Hmmm… memang saya bertanya. Ada sedikit keraguan. Okeh… tulisan ini akan saya bagi dalam 2 hal. Teknis dan Non Teknis.

TEKNIS

Secara teknis, sebenarnya timnas Indonesia tidak banyak berbeda dari sebelumnya. Mengandalkan kecepatan sayap. Dulu ada Elie Aiboy, kemudian muncul Boaz Salossa. Sekarang Okto Maniani. Perbedaannya adalah sekarang timnas berani bermain menyerang dengan umpan2 pendek. Di pertahanan, saya lihat bek tengah tidak pernah kalah dalam perebutan bola2 atas. Bahkan melawan tim Filipina dengan tinggi layaknya orang eropa, timnas masih menang duel di udara. Beberapa error memang bisa menjadi gol, seperti gol Malaysia di babak penyisihan (karena counter attack dan bek masih kocar kacir). Juga tendangan Younghusband yg hampir jd gol, akibat salah paham antara Maman dan Markus. Sementara di depan, hehehe… mirip Arsenal tapi kebalikannya. Kalo di Arsenal, punya Chamakh yang jago udara, tapi yang bisa crossing dengan bagus cuma Bacary Sagna. Sehingga banyak gol tercipta malah dari tendangan pemain tengah, ato gocekan bola di kotak penalti. Sedangkan Indonesia, lebih banyak yang bisa crossing, tapi striker selalu kalah duel dengan bek. Sundulan Christian Gonzalez sewaktu lawan Filipina leg 1 bisa masuk karena errornya bek dan kiper Filipina dalam menanggapi umpan lambung. Sehingga antara Arsenal dan Indonesia, kesamaannya adalah punya pemain tengah yang bisa memecah kebuntuan serangan.

Saya setuju dengan opini Riedl bahwa pertandingan melawan Filipina adalah yang terberat (sebelum final). Saya sempat deg2an mengingat timnas Filipina melawan dengan tangguh. Positioningnya sama rata dan menghasilkan peluang gol yang sama. Hanya tinggal masalah waktu saja, apakah Indonesia dan Filipina yang bikin gol. Dan, alhamdulillah timnas kita yang menang. Beberapa saat sebelumnya, timnas Malaysia melawan timnas Vietnam. Permainan Vietnam mirip2 dengan timnas Indonesia. Berani menyerang, umpan2 pendek, melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Pokoknya segala cara dicoba untuk membobol gawang Malaysia. Seinget saya, Malaysia lebih banyak bertahan di babak pertama. Dua gol di babak kedua tentu mengejutkan saya. Itu hasil Counter Attack yang sempat menghasilkan 1 gol ke gawang Indonesia. Itu serangan khas mereka.

Kemenangan 5-1 di penyisihan sudah harus dilupakan. Itu penampilan terburuk mereka. Dalam hati saya sempat bertanya, “inikah penampilan timnas yang sedang naik daun di asia?”  Malaysia sudah merambah level Asia, sodara-sodara. Sebelumnya, timnas yang sama (U-23) telah juara Sea Games 2009 ! Timnas yang sama juga berlaga di Asian Games bersama Jepang, China dan Kyrgyzstan. Rajagopal berkilah 8 pemain mereka cedera dan duet bek tengah mereka juga barusan dipasangkan. Sehingga banyak miskomunikasi dan berakibat banyak gol pada laga pertama. Toh, akhirnya mereka bisa lolos ke Final dengan mengalahkan Vietnam, juara tahun lalu.

Teknisnya, Indonesia bisa menang jika hati2 pada counter attack Malaysia. Jangan terlalu asyik menyerang. Dan semua cara harus dicoba, bisa long shoot, ato penetrasi ke kotak penalti. Christian Gonzalez harus diberikan ruang lebih untuk bikin gol. Walaupun ini juga akan susah, karena pasti Rajagopal akan memberi perhatian lebih padanya. Arif Suyono, menurut saya, bisa dijadikan starter. Gocekannya dan umpannya pasti akan lebih berbahaya daripada Okto. Justru, pake Okto di menit terakhir supaya tambah kocar-kacir… hehehe…

Non teknis

  1. Terlalu banyak perhatian yang tidak perlu, seperti diundang ke petinggi partai. Bahkan juga diminta ke KBRI di KL, padahal 2 hari menjelang final. Ini sudah terlalu lebay. Padahal, ini masih di tengah2 kompetisi.😦
  2. Terlalu banyak harapan. Menang besar di babak penyisihan dan bermain bagus di semifinal, menjadikan mereka sangat diharapkan jadi juara. Padahal belum.
  3. Muatan politis. Persoalan diplomasi Malaysia-Indonesia yang hangat, tentu akan dibawa dan dijadikan alasan untuk mengalahkan mereka. Beban moral bertambah

Dengan alasan2 di atas, plus sejarah pertemuan Indonesia-Malaysia dimana Malaysia lebih banyak kalah, menjadikan Malaysia sebagai underdog. Takutnya seperti Arsenal yang dikatakan Cesc Fabregas setelah dikatakan MU, “tim kami bermain dengan mental takut kalah, sedangkan MU bermain dengan mental tidak takut menang”. Kira2nya… jangan sampe dengan ekspektasi tinggi ini, timnas Indonesia jadi terlalu berhati2, tidak berani ambil resiko bisa2 malah kalah.

Prediksi saya, Indonesia bisa juara dengan skor tipis di 2 pertandingan Away dan Home. Masing-masing 1-0.