Tags

, , , , , , ,


Mewaspadai Filipina seperti mewaspadai Yunani di Piala Eropa 2004!

Yunani lolos ke putaran final Piala Eropa 2004 setelah 24 tahun dari keikutsertaan sebelumnya! Yunani juga bukan kekuatan tradisional sepakbola eropa. Sehingga menjadi juara piala Eropa setelah mengalahkan tuan rumah Portugal 2x (di penyisihan grup 2-1, dan di partai final 1-0) tentu saja mengejutkan. Beberapa analisa yang saya baca mengatakan itu buah tangan Otto Rehhagel, bertahan secara ketat dan menyerang balik secara efisien. Coba kita liat, kebanyakan Yunani menang dengan skor 1-0 saja. Sementara analisa lain mengatakan itu karena pemain2 Yunani berkembang skillnya lewat kompetisi elit Eropa. Waktu itu ada Charisteas di Ajax, Karagounis di Inter Milan, selain juga pemain2 yang bermain di liga lokal. Liga lokal Yunani pun juga kurang terdengar. Kiprah klub Yunani juga kurang terdengar di liga Champions. Mungkin satu2nya yang bikin heboh adalah ketika Rivaldo memutuskan untuk pindah ke Olympiacos Piraeus dari AC Milan ketika di puncak karirnya. Pendek kata, Yunani, tim yang tidak punya tradisi juara, bisa menjadi juara dengan strategi yang tepat, pemain2 yang bersinergi dan sedang dinaungi Dewi Fortuna.

Irfan Haarys Bachdim, usai mencetak gol pada pertandingan Piala Suzuki AFF 2010 melawan Laos, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (4/12/2010). Foto: Dokumen Kompas

Filipina.

Sejauh yang saya tahu, tim ini juga tim kacangan. Belum pernah unjuk gigi untuk menunjukkan tanda2 bahwa dia adalah kekuatan baru Asia Tenggara, kecuali sekarang. Bahkan wiki mencatat, rekor kemenangan terbesar timnas Indonesia adalah melawan Filipina. Di tahun 1972, Indonesia menang 12-0 atas Filipina di Seoul, Korea Selatan. Tahun 2002, Indonesia kembali menang 13-1 lawan Filipina di Jakarta, Indonesia.
Bahkan wiki mencatat di bulan September 2006, Filipina duduk di rangking 195 dari 198 negara peserta FIFA. Sedangkan Indonesia duduk di ranking 139. Bulan November 2010, Indonesia di peringkat 135 (dunia) dan 20 (zona Asia) sedangkan Filipina ada di 151 (dunia) dan 29 (zona Asia).

Prestasi Filipina dengan menumbangkan Vietnam di penyisihan grup AFF 2010 dan lolos sebagai juara grup B tidak bisa diremehkan. Materinya pun bukan main2. Dengan jalan naturalisasi, federasi sepakbola filipina mencari bakat2 terpendam berdarah Filipina di Eropa. Beberapa pemain tersebut ternyata berhasil menembus klub eropa. Younghusband Brothers sempat training di akademi sepakbola Chelsea. Neil Etheridge, sang kiper, adalah kiper ketiga Fulham di Liga Primer. Selanjutnya baca disini.

Selebihnya adalah pemain2 lokal di liga lokal yang konon katanya juga terhenti (liga profesional Filipina terjadi di 2008 dan terhenti, liat disini). Tentu beda dengan liga profesional kita yang berlangsung tiap tahun dan berjenjang. Sehingga kualitas rata2 bisa dikatakan pemain timnas lebih unggul.

Keputusan PFF untuk memilih Jakarta sebagai tuan rumah Semi final AFF 2010, tentu sebuah keuntungan bagi timnas kita. Supporter kita bisa menjadi ‘pemain ke-12’ yang menekan mental bertanding Filipina.

Di atas kertas, Indonesia dengan keuntungan lokasi, tradisi dan kemampuan, diprediksi bisa menang mudah atas Filipina. Namun begitu, sejarah bisa dibalikkan seperti Yunani yang mengalahkan Portugal, sang tuan rumah, 2 kali. Toh, Filipina juga sudah menunjukkan Vietnam pun bisa dipukul 2-0 di rumahnya sendiri.

Waspada lah ! (halah :p )

note:
Yang menjadi kebingungan saya adalah karena 2 pertandingan di indonesia, apakah goal away masih menjadi advantage? Jika ya, partai mana yang dianggap home dan yang mana yang away?