Tags

, , , , , , ,


Tengah malam, salah satu tweeps lagi ngebahas soal TvOne. Emang kenapa? Ada apa?

Saya sendiri uda stop nonton channel ini karena “lebay”. Alasannya, karena saluran ini ngotot banget menjadi yang terdepan. Namun begitu, “kekinian”nya kadang tidak seimbang. Jika tidak ada perkembangan baru, ya…diulang2 aja beritanya. Dalam beberapa kasus, gw jadi paranoid. Seakan2 Indonesia ini genting, gawat darurat dan chaos. Padahal ya… fine2 aja. memang ada musibah di sana-sini, dan itu selayaknya jadi keprihatinan semua. Tapi, lebay?

Pernah suatu ketika pemakaman GusDur, beberapa tweeps menanyakan kenapa Ahmad Dhani jadi komentator pada account salah satu presenter. Tentu saja, pertanyaannya ada yang bergaya sopan, ada yang sengak, dan pasti banyak yang lebih tengil. Saya lupa kira2nya, tp respon hampir sama juga diberikan. Gw maklum aja sih. Orang lagi kerja kok di-isengin. Ini murni personal dan tidak mewakili perusahaan.

Tapi lucu juga ketika account yang dimaksudkan resmi, Represetatatif perusahaan, dengan gaya tengil dan menantang, meminta pemirsa untuk menonton saluran lain saja. Gw kurang tau apa sih banjir mention yang masuk di account ini (pastinya tengik dan bikin panas hati dan kuping admin). Sehingga si admin tanpa pikir panjang langsung counter dengan tidak kalah tengiknya, “Silakan pindah saluran hiburan ato lawak !”.

Sosial media memang memudahkan. Responsif. Melenakan. Namun begitu, juga mematikan ibarat senjata makan tuan bila tak dikelola dengan tangan dingin.

Seperti sumber di bawah ini, gw jadi berpikir ulang… apa uda ga butuh sponsor? Cukup ARB saja?

Jika ya… itu adalah sinyal tegas bahwa ini saluran propaganda !

baca sumber lain di sini, http://fuckyeahjtug.tumblr.com/post/1415391295/apakah-ini-yang-dinamakan-blunder-social-media

ps:

barusan dapat update lagi, “jika memang terdepan dalam urusan pemberitaan bencana, gimana urusan lapindo?”πŸ™‚