Tags

, , , , ,


Anak anda cerdas ga? Pinter kan?

Semua orang tua di mana pun, pasti dengan bangga bilang, “O…iya dong. Anakku hebat, pinter …bla…bla…bla” (kelanjutannya dengan segudang prestasi anak dari skill bisa berdiri sendiri, bisa baca tulis di usia dini sampai juara gambar dan lain-lain… Intinya semua orang tua pasti bangga dengan anaknya).🙂

Tapi, kenapa dalam urusan melindungi anaknya sendiri, beberapa ortu malah terkesan ga pede. Untuk menyingkat waktu, kadang mereka lebih suka menakut-nakuti. Entah pake pak polisi, raksasa (betoro kolo), orang tidak dikenal, bahkan bisa orang gila. OK, gw paham di jaman gw kecil dimana TV masih TVRI doang, koran juga masih satu dua. APA? Facebook? Komputer aja barang mewah, Bung. Jangan ngomong internet, facebook… halah… masih di awing-awang. Jadi beberapa ortu ABG (angkatan babe gue) ada yang masih bawaan kolot, karena kurang pencerahan. Jaman sekarang, ilmu parenting mudah didapat. Media juga melimpah ruah. Jadi ga ada alasan ortu masa kini masih berkolot ria.

Peristiwa pertama ini, terjadi 3 bulan yang lalu. Ketika saya sedang nemanin mas Rizqi yang mewakili sekolahnya di acara hari anak nasional di Harbour Bay Mall. Jadi, Mall itu banyak banget anak TK beserta orang tuanya. Acara di lantai satu, tapi orang2nya nyampe lantai dua. Sengaja saya jalan2 ke lantai 2, karena saya belum pernah sama sekali ke mall ini. Cuci mata. Sampe kemudian saya menjumpai 2 gadis kecil yang bersandar pada pembatas dinding kaca. Ini pagar pengaman supaya orang ndak jatuh ke lantai satu. Dibikin dari kaca demi alasan arsitektural. Pembatas ini tingginya 1.2m, sedangkan anak2 ini tingginya paling2 1-1.2 meter. Untuk orang dewasa, pagar ini aman. Karena masih ada handrail dari pipa sekitar  20 cm di atas kaca tersebut. Sehingga badan mereka murni bertumpu pada dinding kaca ini. 2 gadis kecil ini tidak paham bahwa kaca tersebut hanya di-seal dibawah dan di-clip di ujung atas. Dan, saya yakin seal dan clip tersebut tidak didesain untuk menumpu 2 gadis kecil tersebut (mungkin kalo ditotal beratnya 30 kg, belum lagi impact load karena mereka juga bercanda membentur2kan badan ke kaca, mengetuk2 kaca). Juga saya melihat bahwa sepertinya seal masih baru dipasang, mungkin clip tidak terpasang sempurna.

Saya takut kaca itu akan pecah ato jatuh ke bawah dan menimpa pengunjung di bawah. Lebih riskan lagi kalo 2 anak itu akan jatuh ke bawah. Mereka ga ngerti “engineering judgement” di atas, dan pasti sulit memahami. Tapi, saya yakin bahwa anak2 tidaklah sebodoh yang para dewasa pikirkan. Saya celinguk2 dulu sambil bertanya, “Ini anak siapa ya? Anak ibu?”. Seorang ibu mengangguk. Tepat di belakangnya. Saya bilang baik2 dengan suara lemah lembut, “Adik, tolong jangan main2 di situ ya. Nanti jatuh lo”. Anak2 itu menurut. Berhenti. Saya menoleh pada ibunya, “Ibu, hati2 kacanya. Nanti kalo pecah, kan kasian adik2nya. Bisa jatuh ke bawah loh. Ini cuma di-seal aja di bawah, Bu. Jangan2 nanti lepas”. Si ibu dengan masam, “Adik, jangan main di situ. Om-nya marah nih”. Saya kaget. Loh…kok saya dijadikan kambing hitam? Kok ga pede? Padahal uda diterangkan apa pertimbangannya. Saya berlalu (dengan dongkol), “Ah..yang penting ga ada yang celaka”.

Hari ini berulang lagi. Seorang anak kecil umur 3 tahun bermain2 di depan pintu ATM. Seneng juga dia main2 pintu. Kadang2 didorong dikit. Hanya saja dorongnya kok ya pas dekat pintu dan kusen kaca itu. Apalagi jemari kecilnya dimainkan dengan celah2 antara pintu dan kusen itu. Saya cuma bilang baik2, “Adik… nanti kejepit loh. Sakit”. Saya cuma senyum. Si adik juga senyum. Dia berhenti maen. Walaupun begitu saya juga tau, namanya anak kecil pasti penasaran pasti nyobain lagi. Dan, bener… ga sampe satu menit nyobain lagi….hehehe… Saya cuma ngulangi peringatan pertama (dengan halus lemah lembut kayak nasehatin neng Anggun), “Awas nanti kejepit loh, Dik”. Di belakang saya, seorang ibu dengan galaknya ngomong sama si adik, “Adik !! Berhenti ! Nanti dimarahin om-nya loh !” Saya kaget lagi. LHOH, kowe dadi wong tuwone kok ora percoyo karo anak’e dewe. Kok ndak percaya ama anaknya. Alih2 membuat anaknya mengerti supaya tidak mengulangi perbuatannya, malah menjadikan orang lain yang tidak dikenal, menjadi kriminal di hadapannya. Saya jengkel juga, mendelik sama si ibu. Kalo ga lagi buru2, mungkin gw omelin, “Wah…jangan gitu dong, Bu. Saya ini maunya si anak ngerti supaya hati2. Ibu malah mendiskreditkan saya. Emang saya punya salah apa sama ibu?” Si ibu tetap berhalo2 dengan henpon cina-nya, sementara si anak ngulangi lagi perbuatannya.

Mas Rizqi, dari mulai balita hingga saat ini, Alhamdulillah (seinget saya) kejepit tangannya cuma satu kali. Di umur 1 taun kurang kayaknya. Dia diajari oleh eyang putrinya cara menutup pintu kamar, pintu lemari. Dimana dia harus menaruh jarinya. Dia diajari untuk tau resikonya dan diajarkan cara meminimalkan resiko tersebut. Dilatih berkali-kali. Tidak ditakut2i bahwa nanti kalo mainan pintu dimarahin ama eyang kakung. Cuma dikasih tau, “Kalo jarimu naruhnya ga kayak yang diajarkan eyang putri, ya kejepit”.

Tolong dong buat para ortu, kalo anda masih sayang sama anak anda, jangan mendholimi orang lain. Jujur, 2 pengalaman di atas membuat saya berpikir untuk menyelamatkan anak anda. Dikasih tau baik2, kok malah saya yang dijadikan kriminal. Harusnya ya anda itu, karena meleng dan bebal karena ga mau memperhatikan peringatan orang dan tidak bisa/yakin bisa menjelaskan dengan baik pada anaknya. Percayalah, anak2 anda itu cerdas. Hanya butuh waktu lebih untuk memahami.