Tags

, , , , , , ,


Kali ini gw cerita soal pengalaman makan selama lebaran. Yup, makan di warung. Banyak warung makan langganan kita di seputaran mega legenda, enak lagi. Tapi kali ini gw mo cerita soal order management yang sangat payah dari warung2 langganan kita ini. Yang gw maksud dengan order management ini tentang bagaimana warung2 ini mengatur alur pesanan dari mulai pesan sampai makanan tersaji di depan pelanggan.

Secara klasik, pengaturan pesan ini diutarakan secara verbal. Gw, anda ato siapa pun langsung bilang pada penjual kalo mau pesan menu A ato B sesuai dengan tema jualan warung. Kemudian penjual akan memproses makanan tersebut. Ini tergantung masakannya. Apakah siap saji ato perlu dimasak dulu? Jika siap saji tentu waiting time nya lebih cepat dari “yg-perlu-dimasak”. Contoh siap saji adalah soto ayam, bakso, rawon dan sebagian besar makanan padang. Sedangkan “yang-perlu-dimasak-dulu” adalah masakan yang disukai disajikan panas seperti ayam goreng, chinese food, dan seafood. Anda bisa nambahin dengan nama makanan favorit.

Yang bisa gw amati, jenis2 masakan yang perlu dimasak dulu ini yang berpotensi besar ‘menjengkelkan’ para langganan. Ketika lapar menyerang, makanan belum juga datang, minum hampir habis… eh keduluan orang pulak. BAH !! Bisa pecah perang saudara…

Kalo anda perhatikan beberapa warung ga jelas waiter dan kokinya. Karena semua orang diminta berpartisipasi aktif ama juragan. Ini kerjaan padat karya, bung. Jangan acting jadi supervisor ato manager kecuali juragannya sendiri. Karena, kadang juragannya juga mondar-mandir dari milih ikan, bakar2 sampe menyuguhkan teh obeng. Kita juga kalo pesan juga pada siapa aja yang ditemui. Begitu ditanyain pada yang lain, “lah…ndak tau, bu”. *plak-geplok-jidat-sambil-keroncongan*

Karena pesanan dipesan secara verbal, maka penjual akan mengingat2 saja. Jika ada pesanan baru, mungkin masih inget yang pertama. Tapi, jika pesanan berdatangan sampe 10x dalam tempo 5 menit, dengan berbagai customized-recipe (misalnya, ga pake tauge, garamnya dikit aja, kuahnya tambahin, ga pedas, ga pake lama :p ), tentu lupa mendera. Gw jamin…yang dia kerjakan adalah pesanan pelanggan yang dia inget terlebih dulu. Entah menunya yg gampang diingat, ato orangnya yang diingat, ato karena bolak-balik diingatkan. Soal mengingatkan ini, para emak jagonya. Gw sendiri udah sering diduluin oleh para emak (ato calon emak alias masih gadis). Dengan menggunakan pesona kewanitaannya, para koki lelaki dibuat bertekuk lutut.😀

Gw ga nyalahin itu karena prosedurnya sendiri yang memungkinkan ada kekeliruan rutin. Sistem pesanan secara verbal akan selalu dihadapkan pada sifat lupa manusia. Ujung2nya pelanggan yang diminta permisif pada kondisi warung yang rame. Padahal dalam konteks keadilan, pelanggan juga berhak menuntut kenyamanan dan kecepatan respon dari warung. Pelanggan pun juga memainkan peran dengan membuang rasa “sungkan” kala tau dirinya datang belakangan, tapi tak tau malu minta didulukan. Para koki (biasanya pemilik warung juga) dilanda dilema untuk menyenangkan semua pelanggan di saat yang sama. Tapi, apa daya sumber daya terbatas.

Ini yang gw alami beberapa kali pada beberapa warung makan di seputaran Mega Legenda hingga Legenda Malaka. Sistem pencatatan pesanan juga sudah diterapkan. Tapi itu semata2 supaya koki tidak lupa pesanannya apa. Sedangkan antriannya tetap tidak jelas, mana yang harus didahulukan, mana yg bisa dimasak bersama. Ketika hal ini terjadi, gw dan istri memilih timing yang tepat saja. Sehabis Maghrib adalah waktu yang pas untuk pesan makanan. Gw pelajari rata2 orang makan setelah isya’ ato pukul 7. Sedangkan 7.30 hingga 8.30 adalah peak service untuk warung2 ini. Sehingga anda harus menunggu selama hingga 2x waiting time dibandingkan saat pesan setelah maghrib.

Solusinya sih gampang,ya jualan jenis siap-saji.🙂

Ato,kita ngikut seperti restoran saja. Order disampaikan secara tertulis dan itu akan jadi bukti bayar sekalian. Istri gw berpendapat sistem restoran dengan memisahkan koki dan waiter. Juga harus ada orang penghubung/interface antara koki dan waiter ini. Penghubung inilah yang me-manage order. Mana yang lebih dulu, mana yang bisa disatukan. Juga mengingatkan agar koki ini aware pada special order ato customized recipe. Karena awareness pada keinginan pelanggan juga akan meningkatkan keterikatan antara pelanggan dan resto. Karena dipisahkan, maka koki cuma berkonsentrasi pada memasak. Tidak pusing urusan lain yang bisa mempengaruhi konsentrasinya. Walaupun begitu, memang tidak semua restoran pny performance bagus soal ini. Penghubung ini bisa chefnya sendiri, supervisornya, senior ato siapapun yng ditunjuk. Salah satu warung seafood di bilangan KDA sudah mirip seperti itu. Sang penghubung ini adalah sang majikan, seorang ibu yang me-manage suami, anak, keponakan dan sodara untuk melayani pelanggan.

Memang…kalo urusan murah yang merakyat itu kita dipaksa untuk terimo keadaan, ato cari celah. “Murah kok njaluk cepet”, kata temen. Hehehe…iya sih. Tapi kalo ketauan apa problemnya, kenapa tidak diatasi? Kenapa dibiarkan berulang-ulang, sampe kokinya stress kalo ada pelanggan marah2. Belum lagi kalo akhirnya pelanggan pergi karena pesanan ga keburu disajikan, ato malah lupa. Akhirnya warungnya sendiri yang rugi.

Saya bukan pengelola warung yang sukses, atau management expert. Juga tidak bermaksud keminter bidang Food and Beverages. Saya cuma pelanggan yang pengen semua warung murah dan enak itu bisa lebih cepat menyajikan pesanan walaupun di saat rame.