Tags

, ,


Lebaran taun ini, sengaja gw ga pulang ke Jatim. Banyak pertimbangan sih… dan yang jelas anak2 juga happy2 aja. Mereka belum terlalu kangen ama eyang2nya secara barusan ketemu bulan kemaren. Ga rewel juga sih, walaupun liburan juga banyak di rumah. Buat mereka, asal boleh berantakin rumah, ga belajar dan banyak makanan maka itu uda kenikmatan dunia.🙂

Gw ajak mereka silaturahim sama tetangga yang kebetulan tidak pulang juga. Samperin satu demi satu. Ooopss… satu tetangga mulai kasih uang. Kemudian, tetangga yang lain. Dan lain. Dan semakin banyak. Dasar balita umur 1.5 taun dan penakut, Anggun dikasih uang malah takut. Nangis. Rizqi? Kuantitas lembar yang diperhitungkan. 2 lembar 5000an itu lebih banyak dari 1 lembar 10rb. Sehingga ketika dikasih banyak lembar, malah heran, “Kok banyak sih, Ma? Rizqi kan uda punya…”

Hari berikutnya juga sama… Rizqi ‘mengeluhkan’ banyak lembar yang dia terima. Mungkin dia ketakutan kalo disuruh ngitung ama mamanya. Itungannya baru sampe angka 30. Lebih dari itu… susah. Sedangkan yang dia pegang berlembar2…

Lembar loh…bukan angka nominal uangnya. Bahkan, terlalu jauh kalo membayangkan dia mengerti nilai ekonominya.

When enough is enough

Ok…ok… terserah sampean mo ngomong apa. Anggaplah itu emang anak kecil yang kurang diajari tentang kecerdasan finansial ama bapak dan ibunya.😀

To me, it’s a good lesson for adult. Pernah inget kalo anak2 itu lugu, jujur dan fair. Sepanjang gw berkeliling ke tempat2 temen2 gw yang punya anak sepantaran, rata2 pny cerita yang sama. Anaknya kagak ‘doyan’ duit. Mencukupkan dengan yang ada di tangan sesuai bayangannya, kebutuhannya. Kita, orang dewasa, cenderung tamak. Meraup semua yang bisa kita pegang dengan tangan. Kalo tangan tak cukup, didekapan, dirangkul. Abis itu penuhin mulut. Pokoknya sebisanya.

Anak kecil mengajarkan untuk cukup. Ketika kita ingin meraih sesuatu, kita cukupkan itu. Akan ada orang lain yang akan menampung limpahan rejeki itu. Berbagi secara tidak langsung, bukan melalui tangan kita. Secara tidak langsung mereka emang ga mengerti nilai ekonominya. Ga peduli malahan. Yang penting bisa buat beli makanan kecil, ato maenan yang dipengenin. Ga peduli itu ada kembalian ato ortunya malam nombok. Mereka bukan penyembah uang. Tapi mengajarkan, yang penting kalo kebutuhannya cukup ya udah. Pengen lebih? Ya harus berani mempertanggungjawabkan lebih banyak lagi.

setuju ndak?🙂