Tags

, , , , , ,


Ini sekedar unek2 rakyak jelata. Saya ndak begitu paham kenapa untuk mengatasi ke-seringbolos-an anggota dewan harus pake finger print check.  Anggota dewan harus “cap jempol” untuk menunjukkan kehadirannya. Perlu? Nanti dulu…

Cap jempol ini biasanya dipake dalam sistem pencatatan waktu kerja karyawan swasta. Kalo PNS, saya kurang tau. Mungkin ada yang pake. Tapi, setau saya … ya … itu yang normalnya dipakai di perusahaan swasta. Dulu, pake time-sheet yang dicatat jam masuk dan keluarnya, terus disahkan oleh direct supervisor. Melebihi jam kerja normal, perusahaan harus bayar lembur. Untuk mengatasi kecurangan, ato memang teknologinya sudah maju, kali ini  jam di-check log langsung oleh sistem. Jadi tak ada korupsi waktu. Tak ada ruang ambigu antara jam tangan karyawan dengan jam kantor.  Ini pun masih bisa diakali dengan titip absen. Teman yang cek log, oknumnya uda leha2 di rumah.

Teknologi terbaru, pake finger print. Kehadiran secara aktual tidak bisa ditipu. Mana bisa jempol dititipkan, sedangkan empunya entah dimana. Kalo di film2, biasanya si empunya jempol uda mati, baru bisa dipakai jempolnya oleh orang lain

KPI = Key Performance Index.

Penting kah hadir di kantor? Jika anggota dewan itu lebih bermanfaat di luar ruangan, silakan saja. Menemui konstituen, menggalang pendapat, ato apa pun. Silakan. POKOK YANG TERPENTING ADALAH GOAL NYA TERCAPAI !

Sekarang saya tanya, apakah dengan mereka hadir performance akan meningkat? Mungkin. Saya bilang mungkin, karena uda dari dulu kinerja anggota dewan dikeluhkan.

Key Performance Index adalah patokan yang mudah untuk mengukur kinerja anggota dewan. Selama dia menjabat, berapakah UU yang harus disahkan? Berapa RUU yang digol kan? banyak lagi. Mungkin ini konyol. Entah lah. Saya ndak pernah jadi anggota dewan. Dan, saya juga pengen tau parameter sebuah anggota dewan yang baik. Apakah rutin rapat adalah ciri anggota dewan yang baik? ato anggota dewan yang baik adalah sensitif terhadap isu sosial dan tanggap untuk mencari pemecahan (walaupun ga sering2 rapat, karena dia milih yang urgent dan yang penting?).

Sistem finger print dilakukan untuk karyawan dengan sistem harian. Tak masuk, tak gajian. Tak masuk berarti tak produktif. Simpel.

Sedang di level  supervisi dan top manajemen, kinerja sudah dinilai dari berapa project yang sudah dicapai. Apakah milestone tercapai dan sampe level mana? Schedule achieved ato tidak. Berapa loss/gain? Produktifitas manufaktur dalam level acceptable ato tidak. Apakah absensi dihitung? Saya ga terlalu yakin. Yang penting monitoring terhadap proses tersebut. Sedangkan kehadiran akan menunjang proses monitoring tersebut.

Harusnya anggota dewan marah dong disamakan dengan karyawan model low-level yang tingkat produktifitasnya diukur dengan setor jempol.

*tapi anggota dewan sekali tak setor jempol, masih bisa makan cak* :p