Tags

, , , , , , , , ,


Gw masih inget ketika itu ada seorang teman yang ngefans dengan grup NKOTB. Ini idola ABG jadul (oh, God… I can’t believe I said it :p). Dia sempat mengambil foto mereka (cuma pake kamera pocket) secara sembunyi. Ceritanya, doi lagi papparazi wannabe๐Ÿ˜€ . Ketika pulang ke Malang, dengan bangganya memamerkan karyanya. Tentu saja, histeria…!!! Singkat cerita, kumpulan fans ini (beserta donlen2nya) menginginkan foto2 tersebut. Di bawalah foto ‘langka’ itu ke salah satu studio foto dan diperbanyak. Karena pengen murah (ya iya lah… uang saku aja masih minta. Masih ingusan lagi :p ), foto2 itu baru jadi 3-4 hari kemudian.

Bandingkan dengan era digital. Semua serba diatur komputer. Data dengan mudahnya berpindah dari HP, laptop ke internet via forum, milis, file sharing service hingga situs pertemanan.

Sampe sini kira2 paham ga metode distribusi data? Analog vs Digital?

  • Analog, lu harus bawa ke spesialis pengganda data. Sampean tidak punya alat pengganda dan tidak punya kemampuan menggandakan. Hanya orang tertentu dengan alat dan sarana tertentu yang bisa melakukan.ย  Ini berlaku untuk data berupa foto, audio, apalagi video. Kalo foto harus dibawa ke studio foto, video juga. Dalam perkembangan selanjutnya, penggandaan audio berupa kaset bisa dimungkinkan dilakukan orang awam dengan menggunakan Tape Recorder Double Deck. (Jadi inget ada bisnis kaset kompilasi kreasi sendiri… hihihi).
  • Digital, yang penting lu punya alat dan ga gaptek ama alat lu. Syarat ga gaptek itu gampang, Berani Nanya. Media distribusi berupa sinyal elektronik yang ditransmisikan lewat bluetooth, internet ato koneksi peer-to-peer. Kecepatan bisa sampe mili seconds. Bisa juga berjam2 jika kecepatan internet dijadikan faktor utama. Poin terpentingnya, data digital sangat mudah ditransmisikan.
  • Karena data analog digandakan di tempat tertentu oleh orang tertentu, makanya sangat mudah melacaknya. Sedangkan secara digital, gw, lu, juga orang lain sangat mudah melakukannya. Dalam waktu singkat, rekaman bisa berpindah dari originator hingga donlen level #77.
  • Poin terpenting lainya, sesuatu yang terekam analog terlihat secara fisik. Sedangkan rekaman digital tidak terlihat fisiknya. Jika disimpan, mudah diambil. Bahkan bisa jadi sang pemilik tidak mengetahuinya jika dilakukan dengan hacking, ato social engineering. Pernah ada kasus HP seseorang dipinjam temennya untuk menelpon. Tidak disangka, si teman ini ternyata malah meng-copy video syur sang pemilik HP ke rekan lainnya. Si pemilik tidak merasa kehilangan HP dan merasa datanya aman. Padahal…?

Mencari penyebar video itu ga segampang ketika nangkep sutradara “iklan sabun” ato “anak ingusan” ato distributor “bandung lautan asmara”. IP address masih bisa diakalin. Memang masih bisa ketangkep, tapi butuh effort lebih. Masih inget rekaman blackbox Adam Air? Itu dokumen rahasia yang dilindungi undang2. Tidak sepatutnya dikonsumsi ke publik. Toh, penyebarnya juga belum ketauan. Apalagi ngurusin video “lelananging jagad” jilid #1, #2 hingga jilid #23 (ato #32?)???

Merekam adegan syur diri sendiri (genrenya Gonzo Pornography) untuk konsumsi sendiri itu (scopophilia) tentu tidak melanggar hukum. Itu area privasi. Masalahnya, sampean siap ga dengan kemungkinan terburuk? Pernah bikin Hazard and Risk Identification sebelum bikin ‘film Indie Pribadi’? Gw yakin sih ga ada yang mikirin sampe kesini… Mikir enaknya doang.ย ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Moral Story-nya sih… jangan melakukan ke-mahatolol-an era digital. Simpan aibmu dalam pikiranmu. Tidak ada yang bisa merebut kemerdekaan pikiran. Menyimpan aib dalam format apapun sangat bodoh !

Kalo bocor? Kalo artis, ya jadi liputan nasional. Era informasi global gini malah jadi perhatian dunia internasional. Baca deh trending topic di twitter belakangan ini. Entah artis ato bukan artis, jelas kebocoran aib memalukan diri sendiri dan keluarga dekat.

Itu menurut gw…

O, ya satu lagi. Fakta memprihatinkan. Pada tahun 2007 ditemukan 500 video porno yang diperankan oleh anak muda Indonesia. 90% diantaranya diperankan oleh anak usia SMU dan mahasiswa. Motifnya, karena pengen senang2, tidak sengaja ato dijadikan alat kejahatan. Fakta inilah yang memicu gerakan “Jangan Bugil di Depan Kamera” (JBDK). Detailnya bisa dilihat disini. Dan, ini harus sejalan dengan kampanye “NO FREE SEX”.

Buat yang merasa di-dholimi, semoga anda tabah !