Tags

, , , , ,


Gw ga tahan jg ngeliat review2 berbau spoiler yang ada di internet. Spoiler itu bertebaran di twitter, facebook dan kaskus. Bahkan, di salah satu TV singapura, diberitakan sambutan meriahnya di pemutaran perdana di London. Ya sudahlah, tetapkan hati dan berangkat juga akhirnya ke Mega Mall Batam Center. Istri dan anak2 ga ikutan. Wah bisa rame di dalam dan ujung2nya malah ga jadi nonton dan hangus deh duitnya. Thanks honey. :*

Film India selalu identik dengan kejar2an, petak umpet di pohon, menari dan menyanyi. Film apapun pasti bumbunya itu. Dan karena itu, gw dan sebagian besar orang kurang menyukainya. Juga dikesankan kampungan. Sebenarnya gw jg pernah liat film2 india yang bagus dan… ya, sebagian besar dimainkan oleh Shah Rukh Khan. Mungkin itu yg jadi salah satu alasan gw jadi ngebet nonton ini. Gw bisa pastikan engga ada tari menari yang lebay dan petak umpet. Kalo pun ada nyanyian itu masih wajar dalam rangka mendukung jalan cerita.

Jalan cerita singkatnya kira2 kayak gini. (Gw usahakan biar engga jadi spoiler nih). Diceritakan dari orang pertama, Rizwan Khan (Shah Rukh Khan), tentang masa kecilnya, perjalanannya dan perasaannya. Seorang penderita Asperger’s Syndrome tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan anti social. Dan, itu yang menjadi daya tarik film ini.  Khan mampu memperbaiki apa saja. Cerdas hingga mirip ensiklopedia berjalan. Dan dengan keahliannya itu dia membiayai perjalanannya ke seluruh Amerika untuk menemui Presiden Amerika. Dia ingin mengatakan padanya bahwa namanya Khan dan bukan teroris. Ini menjadi quote/kutipan terkenal dari film ini, “My name is Khan and I’m not a terrorist”. Sebelumnya, anaknya meninggal di sekolah (yang diasumsikan) akibat bullying dengan motif rasial. Mandira (Kajol Devgan), sang istri, dengan kondisi masih tertekan, marah dan depresi meminta Khan pergi meninggalkannya. Mandira menyesal telah menikahi Khan, seorang muslim, yang mana malah mengakibatkan dirinya kehilangan anak yang dibunuh karena muslim juga. Dia menduga itu karena Sameer menyandang nama Khan, dan karena itu dia dibunuh. Dalam suatu adegan Khan menyitir surat Al-Maidah ayat 32, bahwa membunuh satu orang tidak berdosa diibaratkan membunuh semua manusia. Karena dari peristiwa itulah, kehidupan dia dan orang2 di sekitarnya berubah total. Sehingga dia menempuh perjalanan yang nantinya berpengaruh secara global pada kehidupan di Amerika. Singkatnya, matinya sameer khan itulah yang bikin dia dan semua orang jadi repot.🙂

Satu hal menarik yang gw cermati dan sangat ingat detilnya adalah bagaimana ibunya mengajarkan tentang manusia. Waktu itu ada kerusuhan rasial Hindu – Islam di India (baca Bombay Riots 1993). Rizwan mendengar kata2 hujatan pada orang Hindu. Ibunya sangat marah dan memintanya dia diam. Ibunya lalu mengambil kertas, menggambar 2 orang pada 2 kondisi. Kondisi pertama, orang tersebut memukul Khan. “That’s a bad attitude”, kata Khan. Kondisi kedua, orang tersebut memberi lollipop pada Khan. “That’s a good person”, kata Khan. Ibunya lalu bertanya, “Now, tell me, which one is Hindo and which one is moslem?” Khan kebingungan dan berkata, “I don’t know and they’re look the same”. Kemudian ibunya berkata, Rizwan, there are two kind of people in this world, bad people and good people. And, good people do a good deeds”. Suatu prinsip yang dipegang teguh oleh Rizwan hingga dewasa untuk menjustifikasi orang. Dan, prinsip ini yang dipegang oleh Rizwan untuk melamar Mandira. “You’re good person. And, it’s enough for me”, kata Khan ketika mendengar apa alasan Rizwan melamarnya. Gw pikir ini pembelajaran yang sangat bagus untuk menjauhi stereotype pada sekelompok orang yang belum tentu kebenarannya. Tidak ada orang Hindu yang baik, ato orang Islam yang jahat. Yang ada adalah orang baik dan orang jahat. Ini pelajaran baik yang mudah diajarkan pada anak2 balita. Apalagi di Indonesia yang multicultural.

Buat gw, kata2 yang gw warnai merah adalah quote yang paling gw suka. Sederhana, mudah dimengerti.

Film ini memecahkan rekor box office film2 India yang diputar di luar negeri. Minggu pertama menghasilkan INR 295 juta (USD 6.4 juta ato IDR 59 Milyar ) dalam minggu pertama. Dalam 4 minggu sejak dirilis, menghasilkan INR 700 juta (USD 15.3 juta ato IDR 140 M !!) di India. Film India termahal kedua setelah Blue. Dalam beberapa review, skornya antara 70% hingga 80%(wiki). Menurut gw sendiri layak diberi rating 4.5/5 lah. Menurut IMDB, ratingnya PG-13, some violence, sexual content and language. Selama bawa anak balita yang engga mudeng bahasa Inggris ato Hindi dan belum bisa baca, kayaknya aman2 saja.

Buat gw, ada beberapa detil yang kurang dieksplor, misalnya tentang “repair almost anything”nya Rizwan Khan. Padahal cuma ditunjukkin dia bisa memperbaiki pompa dan ditunjukkan antrian tetangga yang panjang dengan membawa aneka macam barang. Gw masih engga nangkep, bagaimana cara Rizwan mendeteksi kerusakan dan memperbaiki tanpa referensi.  Tapi, itu kekurangan minor saja supaya durasi film juga tidak panjang. Juga, Gw akuin orang India jago bikin film yang didramatisir demikian apiknya. Sehingga unsur dramanya menonjol dan sanggup menguras air mata dan semua pesan tersampaikan secara jelas. Ini bukan film tentang geliat muslim di amerika setelah 9/11. Juga bukan tentang seorang autis. Tapi, tentang kemanusiaan dari sudut pandang seorang yang ‘abnormal’ beserta nilai2 yang ditanamkan ibu dan gurunya terhadap dunia. Pandangan seorang yang jujur, cerdas dan lugu. Kalo mau jujur, ternyata dunia itu engga serumit yang kita pikirkan. Dalam adegan terakhir, tokoh Mandira berbisik pada Sameer, “Sam, Khan telah menunjukkan pada diriku bahwa masalah itu bisa diselesaikan dengan keteguhan hati dan cinta. Amarahku tidak menyelesaikan masalahku”.

Menarik mengetahui cara seorang Asperger’s Syndrome menanggapi lingkungan sekitarnya. Lugu dan straight to the point. Pertama, ketika Rizwan ditahan dan temperature ruangan dimainkan sedemikian rupa. “It was cold at here. Maybe the aircon is broken, so I propose myself to fix the aircon”. Dua, ketika dia ditanyai mengenai Al-Qaeda. “I don’t know about Al-Qaeda. They’re angry because I don’t know the answer. Maybe, everything will be fine if I study Al-Qaeda before”. Wah, bisa tambah gawat dong kalo dia bilang. :p

Entah kebetulan ato tidak, ada satu adegan dimana Rizwan Khan dipisahkan dari antrian imigrasi, ditelanjangi dan dibongkar bawaannya karena dicurigai. Dalam kejadian sebenarnya, Shah Rukh Khan sendiri mengalami kejadian yang sama ketika datang ke Amerika dalam rangka promosi film tersebut di Newark Airport, New Jersey. Ditahan dan diinterogasi selama 2 jam. Beberapa orang yang sedang mengantri adalah keturunan Asia. Salah satu diantaranya bahkan mengenali dan berani menjamin bahwa SRK adalah selebritis  dengan reputasi dunia dan tidak akan melakukan hal2 yang mencurigakan. Kejadian ini sempat memicu perdebatan antara politisi India dan Amerika yang membuat film ini semakin terkenal. Sehingga, Karan Johar sang produser, dituduh men-skenario-kan kejadian tersebut supaya filmnya laku. Karan Johar menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Jika saya yang punya kekuasaan super sehingga bisa mempengaruhi cara kerja imigrasi Amerika, mengapa saya membiarkan Shah Rukh melalui prosedur tidak mengenakkan itu”. Pihak Imigrasi Amerika berkilah bahwa itu dilakukan semata-mata karena prosedural karena nama Khan muncul dalam sistem mereka.

“My name is Khan. Not Han. Kh…. from Epiglottis…”, gitu caranya mengucapkan namanya.

WAJIB DITONTON !