Tags

, , , , , , , , ,


Ada satu topik menarik yang beredar di milis migas beberapa hari terakhir ini. Sebelumnya ada lowongan pekerjaan yang mensyaratkan suatu etnis tertentu untuk melamar pekerjaan. Dan, admin pun sudah minta maaf jika email sempat lolos sensor. Kemudian ada suatu email job vacancy yang lagi yang diunggah oleh salah satu rekan. Sebagai oportunity di entry level, mencantumkan persyaratan IPK > 3.0 dan harus lulusan perguruan tinggi terkenal (reputable university). Salah satu anggota mencoba memverifikasi apakah ini juga bisa tergolong diskriminasi. Berikut pendapat gw:

  1. discrimination [dɪˌskrɪmɪˈneɪʃən] (n) (Sociology) unfair treatment of a person, racial group, minority, etc.; action based on prejudice.
    Berdasarkan definisi tersebut maka diskriminasi adalah perlakuan tidak adil/tidak pantas pada sekelompok orang berdasar suku, ras dan agama (SARA) dan didasarkan praduga. Tidak didasarkan pada penilaian kemampuan dan performa orang tersebut. Gw sendiri ga bisa milih lahir dari suku apa dan ras apa. Jika penilaian didasarkan ini, tentu saja akan tidak adil. Karena gw sudah di-judge atas ‘keterbatasan fisik’ yang sudah tidak bisa dirubah. Sedangkan agama adalah hak asasi.
  2. Persyaratan IPK dan reputable university adalah faktor penilaian performa. Syarat ini sebenarnya mengamini saran para orang tua dan guru2 kita. Ini adalah pembuktian ‘janji2 surga’ beliau. Kita didorong berprestasi tinggi dengan jaminan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas ini dan itu, termasuk diantaranya adalah mudah melamar pekerjaan di perusahaan2 besar yang menjanjikan remunerasi besar pula. Ini adalah alat bantu motivasi para orang tua untuk mendorong para anak untuk berprestasi.Inti terpentingnya adalah anda harus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Everybody loves a winner, you know.
  3. Walaupun ini juga sangat bias, syarat ini bisa disiasati jika anda punya beberapa kualifikasi yang cukup meyakinkan. Tunjukkan bahwa anda layak diterima berdasarkan pendidikan informal dan kualitas dan integritas pribadi. Ato, cari pengalaman sebanyak2nya di company2 yang mau menerima anda. Karena, seiring dengan bertambahnya pengalaman, IPK dan asal usul alumni tidak akan dipersoalkan lagi. You are you. Not determined from where you graduated and GPA you have.
  4. Jika ini digolongkan suatu diskriminasi, apa bedanya dengan persyaratan tinggi badan minimal ketika masuk TNI. Kemudian, ada persyaratan nilai TOEFL untuk memasuki perguruan tinggi internasional. Mungkin lebih cocok dinamakan preferensi deh. Seperti kita milih istri, maunya yang tinggi kayak peragawati, cakep kayak model dan sebagainya.

Beberapa orang memverifikasi bahwa untuk posis entry level, hal ini sewajarnya saja. Alasan praktisnya hanya untuk mem-filter kandidat2 yang cukup mumpuni saja daripada kebanjiran surat lamaran.

Menurut sampean piye?