Tags

, , , , , ,


Tergolek di tempat tidur selama 2 hari, tidak gw sia-siakan. Dengan puasa internet dan televisi, karya Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru ini bisa selesai juga. Ini buku uda 3 bulan ga tamat-tamat. Gregetan aja sih. Masak baca Harry Potter bisa selesai 2 hari (malah ada yang 1 hari), yang ini ndak blas.

Udah lama gw pengen baca salah satu bukunya Pak Pram. Dulu, semasa kuliah teman satu kos2an sempat bercerita sedikit. Sebagai penggemar sastra, mungkin gw missed dengan melewatkan salah satu tokoh sastra Indonesia yang sempat mendapatkan penghargaan international ini. Membaca buku ini  serasa mendapat aura lain. Cara bicara tokoh2nya sangat halus. Penggunaan kata “Sahaya” bukan “saya”, “Matari” bukan “Matahari”. Juga penyebutan nama2 dewa dalam setiap dialog. Aura jaman kolonial klasik Jawa yang mendewakan para Raja dan Brahmana.

Seperti yang ditulis di sampul belakang buku ini, kisah Ken Arok bukan kisah roman mistis mengenai kutukan empu gandring hingga tujuh turunan. Tapi, berisi rekonstruksi kudeta bandit Arok, seorang Sudra berpendidikan Brahmana dan cerdas ala Satria terhadap Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang mantan bandit juga. Kudeta ini dijalankan secara sistematis dan terencana dari semua kalangan. Para Brahmana yang tertindas menyokongnya demi tegaknya Wisynu, para Paria dan Sudra juga mendukungnya karena tertindas, lapar, dan mengidamkan sang messiah. Gerakan dimulai dari menimbulkan kekacauan pada status quo, mengancam sumber2 pendanaan Tumapel dan memotong upeti ke Kediri. Sang Akuwu dibuat tidak mampu mengatasinya, sampe akhirnya meminta sang Dewi Kebijaksanaan, Ken Dedes, untuk menyelesaikannya. Dedes menyarankan suaminya untuk meminta pendapat Dang Hyang Loh Gawe untuk masalah ini. Arok pun dipertemukan dengan sang Akuwu dan mengikat janji untuk melindungi Akuwu dan Paramesywari dari pengacau2 Tumapel. Sebenarnya Tunggul Ametung sudah mengetahui bahwa Arok lah biang keladi semua kekacauan. Tapi, tidak bisa berbuat banyak karena sudah pasrah ingin pemberontakan selesai. Cerita selanjutnya? Baca dong…

Gw menyebutnya Simplified Coup d’ Etat, karena dalam sebuah kudeta pasti banyak hal yang diperhitungkan termasuk faktor kejutan2nya. Ini cerita yang tidak terlalu rumit, bukan karena pak Pram tidak mampu. Tapi, karena pak Pram ingin menyederhanakan sebuah kudeta berdarah pertama di Jawa. Menelikung lawan secara diam-diam, dengan mengorbankan sang lawan kedua sambil menjaga tangan tetap ‘bersih’. Kemudian mendapatkan semua keuntungan yang diusahakan dengan segala kelebihan dan kekurangan sumber dayanya. Untuk ‘membunuh’ (secara implisit ato explisit) lawan politik harus ada yang dipersalahkan dan kesalahannya itu terang benderang di hadapan publik dengan bukti tak terbantahkan. Kalo anda jeli, ya itulah cara para politikus2 kotor yang berjuang demi kekuasaan.

Semua motivasi dan tokoh2nya dijelaskan secara lengkap, walaupun gw tetap merasa ada yang missing dengan si Empu Gandring.