Tags

, , , , , ,


Jaman sekarang mana ada sih company yang ga pake jaringan internet. Mungkin company yang ga bonafid kali ya? Hehehe…

Company dalam menjalankan bisnisnya menggunakan jaringan internet berkecepatan tinggi. Transfer data dan email mungkin mendapat porsi terbesar. Setelah itu VOIP mungkin (?). Biasanya ‘efek samping’ nya adalah karyawan kebagian akses internet. Sebuah pisau bermata dua. Ada suatu asumsi positif dari perusahaan bahwa karyawannya akan menggunakan fasilitas tersebut sebijak mungkin. Karyawan dianggap cukup dewasa untuk memilah tau kapan saatnya bekerja sungguh2. Dan, kapan coffee time (baca: rehat sejenak). Premis tersebut mendukung karyawan untuk bisa memperkaya wacananya yang ujung2nya bisa meningkatkan produktifitas perusahaan tersebut.

Gw sendiri ga tahan ngeliat internet. Bahkan uda taraf kecanduan. Kira2 4-8 jam sehari dihabiskan untuk ngenet. Tergantung kebutuhan juga sih. Dua jam juga bisa cuma buat baca berita dan cek email. Delapan jam itu uda terbagi antara blogging, blogwalking, balas email, baca email dan moderasi milis.

Pernah ga ketauan oleh bos lagi ngenet? Pernah. Malah sering… hihihi…

Dulu, badan bisa panas dingin kalo ketauan. Kesannya ga kerja. Tapi, lama kelamaan engga juga. Bos2 gw orangnya ga terlalu ‘strict’ dan cerewet untuk masalah ini. Buat mereka, yang penting kerjaan selesai dan ga ada masalah serta tepat waktu.  Lagian, para bos ini juga enak. Duduk di ruangan yang pintunya tertutup. Otomatis laptop2nya juga tak bisa diliat secara leluasa. Bisa saja waktu gw ato lo pas mau masuk ruangan, mereka lagi ngenet. Waktu mereka ngetuk pintu, otomatis mereka bisa siap2… (entah siap2 wajah serius, ato gimana) … hahaha… Sehingga kalo lo masuk ruangan, mereka tetap terjaga citranya. Serius dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk kerja. hihihi…

Padahal mereka juga manusia kayak kita juga. Merangkak dari staf junior dulu dengan segala kenakalannya.

Bos gw lainnya juga rada hobi ngenet. Karena monitornya keliatan kalo pas liat, makanya gw ngerti. Biasanya dia monitor harga saham dan valas. Sebagai Manager, isu tersebut pantas dicermati. Suatu hari, dia pernah bilang, “Jangan beli barang dulu sampe gw bilang. Harga baja lagi naik dan Dollar lagi gila”. Lhoh, bos? “Beli secukupnya saja. Nanti kita beli besar2an pas gw bilang beli”,  sambungnya lagi. Gw kurang tau apakah tindakannya saat itu memang benar2 menguntungkan pada akhirnya seperti yang dia rencanakan.  Di saat lain, gw discuss ama dia tentang equipment. Dengan tenang dia buka google, dan memainkan keyword2nya. Ketemu deh yang dibahas. “Nih, Wanda. Barang ini yang akan kita pakai. Cara bekerjanya seperti ini. Kamu pelajari baik2 ya”. Juga suatu ketika ada client bertanya tentang procurement item khusus. Dia cuma bilang, “Banyak tuh di Singapore. Pake keyword ini deh”. Lah? Lebih canggih dianya… hihihi…

Sampean bisa menyimak contoh positif diatas.

Okeh… sekarang kita kembalikan lagi positif thinking company ini. Inget loh…internet bukan kebutuhan primer. Tanpa internet, sampean masih bisa hidup (asal masih minum, makan dan pake baju).  Tapi, karena gratisan… lha kok langsung kalap. Sampe ga inget apa tujuan utamanya.

*Hehehe… reminder buat saya yang sering ketauan ngenet di siang bolong*