Tags

, , , , ,


Semasa beliau menjadi presiden, koran luar biasa laris manis. Dia jadi kesayangan orang media. Hari2 diramaikan dengan komentar2nya yang menurut orang kebanyakan “ga pantas presiden ngomong gitu”, “kontroversial”, “plin-plan” dan lain2. Menurut teman saya, “Gus Dur levelnya di atas orang kebanyakan. Dia melihat sesuatu yang orang umum ga belum/tidak bisa liat“. Menurut Jimly Asshiddiqie, Gus Dur juga bisa memainkan opini publik. Ketika publik berarus ke kanan, dia malah ke kiri dan konsisten mempertahankannya. Begitu, publik mengikutinya, dia berhaluan ke kanan. Guyonnya juga dirindukan. Kabarnya 2 minggu sebelum meninggal, Gus Dur sudah tidak berlelucon lagi. Saya sempat melihat di RCTI pagi ini, ketika pidato kenegaraan Gus Dur masih melontarkan joke-joke segarnya. Mana ada presiden Indonesia yang begitu egaliter? Seinget saya, ada buku yang mengkompilasi guyon2nya dan ‘nyentrik’nya beliau saat masih muda.

Sobat saya yang di facebook statusnya mengatakan, “Seingetku hanya dia yang berani ngatain DPR seperti anak TK“. Rekan yang lain bilang, “Gus Dur lah yang berani membolehkan bahkan men-support kebudayaan Tionghoa di Indonesia untuk ditampilkan di publik, setelah beberapa dekade sebelumnya dipaksa tiarap dan diadakan untuk kalangan terbatas“. Ini yang menjadikan beliau juga kesayangan kaum tionghoa, penganut konghucu, dan orang2 minoritas lainnya. Baca ini.

Beliau bukan figur favorit saya, tapi kok ya tetep ngangeni kalo ndak ada beliau.

Met jalan, Gus. Wah, dadi kangen guyon’e reks.🙂