Tags

, , , , , , ,


Sedotan Salah Desain?

Pernah memperhatikan panjang sedotan ga? “Gila banget, kalo sampe ada yang memperhatikan sedotan…”, itu pasti tanggapan normal dari orang2 pada umumnya. Dan biasanya sedotan sedikit mendapat perhatian pada kondisi seperti ini. Perhatikan foto di samping ini. Jika sampean minum teh obeng ato es teh ato apa pun asalkan masih dalam gelas dengan tinggi 10-12 cm, maka sampean ga begitu peduli dengan sedotan. Malah langsung minum aja dari bibir gelas. Gimana kalo minum teh botol, air mineral ato apa pun yang dikemas dalam botol berbibir sempit, dengan tinggi 21-23 cm. Jika ada disajikan dengan sedotan, maka ada 2 pilihan. Beberapa teman yang suka minum teh botol dan masih peduli dengan kesehatan, akan dengan ‘terpaksa’ minum dengan sedotan. Misuh2 sedikit, “Nih…sapa yang bikin sedotan kok pendek banget?”. Tetes terakhir diminum dengan memiringkan botol, sambil mengarahkan ujung sedotan lain dan menahan supaya tidak berciuman dengan bibir botol yang berkarat. Beberapa cewek masih memberanikan diri berciuman dengan botol plastik air mineral dengan mengabaikan konsekuensi tersedak (dan biasanya bikin baju basah). 

Saya yakin bukan sedotan salah desain. Si penjual makanan kurang awas pada kondisi seperti ini. Konsumen? Ini minor saja. Toh uda bisa diatasi dengan cara2 diatas. 

Menurut sampean?