Tags

, , ,


Apa ya enaknya? Bergaji besar? Dihormati orang? Dapat fasilitas dari negara? Bebas macet? Itu baru enaknya loh.

Hidup juga harus berimbang kan? Selalu ada 2 sisi dalam 1 koin.

Ga enaknya mungkin… jarang ketemu keluarga juga karena sibuk bekerja. Tekanan dari publik untuk berkarya sebaik2nya. We paid tax for your salary, you know… Harus tunduk pada peraturan dan atasan. Tak bisa semaunya karena mata publik ada dimana2. Melenceng sedikit bisa berbahaya. Dituduh menyalahgunakan wewenang. Selingkuh? Narkoba? Derajatnya 10x lebih berdosa dibanding orang biasa. Orang biasa hanya menanggung dirinya (mungkin juga keluarganya). Pejabat publik bisa memalukan lembaga/institusi/partai dan pendukungnya.

Melihat hal2 seperti itu, susah saya membayangkan orang yang sampe menghalalkan segala cara demi ‘kursi panas’ demi hal2 yang enak. Bagian ga enak tinggal diskip saja sambil berharap, ” Moga2 masyarakat ga sampe tau belangnya”.

Keluarga? Wohoho… hati2. Saya yakin ga ada seorang anak, istri/suami yang rela melihat foto anggota keluarganya dibakar, diinjak2, diludahin dan dimaki-maki karena tuduhan yang belum tentu benar. Bapak/ibu, suami/istri yang mereka cintai, hormati dan dimengerti integritasnya, dihina dan dicaci maki. Dan mereka ga bisa membela sedikitpun.

Memang sih, seperti 2 sisi mata uang juga, pejabat publik juga bisa masyhur jika karyanya berhasil dinikmati masyarakat, memuaskan rasa keadilan, dan sejalan dengan jalan Tuhan.