Tags

, , , , , , ,


Membaca Batam Pos di hari Minggu, 13 Desember 2009 tentang kecelakaan di daerah yang sering saya lewati tiap hari. Dua orang ABG jadi korban. Karena itu jalur yang biasa dilalui, tentunya saya juga wajib hati2. Itu memang daerah yang berbahaya. Banyak gravel yang bertebaran di sekitarnya. Jalannya juga bergelombang. Berpotensi oleng karena kehilangan keseimbangan ato malah kepleset sekalian. Tambah berbahaya lagi jika melihat perilaku para pengguna jalan. Sering potong kompas, ganti jalur seenaknya.

Saya sendiri sudah paranoid dengan perilaku berlalu lintas di kota Batam. Selain berhati2 karena “ranjau jalanan” (jalan berlubang, bergelombang dan gravel) , saya juga harus waspada pada “preman jalanan”. Saya kurang tau berapa statistik kecelakaan yang terjadi di Batam. Menurut saya (feeling sih), kayaknya lebih tinggi dari daerah lain. Surabaya misalnya. Alasannya sebagai berikut:

  • Sewaktu saya masih bekerja di Jawa Timur, posisi rumah di Pandaan, Pasuruan. Kantor di Sidoarjo dan Proyek di Surabaya. Jarak tempuhnya kira 48 KM (ke kantor pulang pergi), waktu tempuhnya kira2 1 – 1.5 jam per hari. Rutenya tentu saja, dari Pandaan sampe bundaran gempol, belok kiri menuju Porong terus sampe ke alun2 Kota Sidoarjo. Pesaingnya ya truk2 besar yang ga mau masuk tol, Bison jurusan Surabaya-Malang dan kendaraan pribadi. Selama 2 tahun menyusuri rute tersebut, alhamdulillah, saya ga pernah melihat (sekali lagi, melihat) terjadinya kecelakaan di rute tersebut. Kalo pun ada, saya liat di koran saja.
  • Mari kita bandingkan di Batam. Jarak tempuh dari Batam Center ke Batu Ampar kira2 15 KM. Ditempuh kira2 20 menit. Pulang pergi menjadi 30 KM (40-45 menit). Selama 2 tahun terakhir, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri beberapa kecelakaan berikut:
    • Tahun 2007, saya pernah melihat 3 kecelakaan terjadi dalam waktu 24 jam. 1 kecelakaan terjadi di hari kamis di daerah sei panas. Dua kecelakaan terjadi di hari jumat. Pagi hari di depan Gate satu, PT McDermott. Siang, di pertigaan dekat UBC printing Nagoya.
    • Tahun 2008, dalam satu minggu pernah melihat 2 kecelakaan. Dua2 nya terjadi di turunan di markas militer dekat pertigaan Sakura Garden.
    • Bulan januari, mobil yang saya tumpangi menabrak mobil di depannya. Kejadiannya, yang depan ngerem mendadak, teman saya juga ga sempat ngerem. BRAK !!. Kap mobil penyok. Cuma ayah saya yang terkilir lehernya akibat menghantam sandaran kepala di depannya karena tidak mengenakan safety belt.  Sejak itu, saya menghindari duduk di kursi depan jika saya tau sopirnya suka ngebut. Sejak itu pula, saya nyadar fungsi safety belt sangat penting.
    • Awal 2009, sehabis mengantar teman di Anggrek Sari. Dari arah Batam Center motor melaju kencang dan kehilangan keseimbangan karena melewati jalan berlubang. Tempat itu memang gelap sih. Perlu usaha lebih untuk mengenali kondisi jalan.
    • Bulan November 2009, sebuah motor ditabrak BMW di U-turn dekat simpang gelael.
    • Masih di bulan yang sama, sebuah motor dikendarai seorang ibu dan anak (sepertinya masih TK), dipotong jalurnya oleh sepasang muda-mudi. Sempat kehilangan keseimbangan, tapi sang ibu berhasil mengendalikan motornya. Sang anak tidak mengenakan helm !
    • Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kecelakaan juga masih di jalur yang sama. Saya memang tidak melihat sendiri, tapi kejadiannya masih beberapa menit sebelum saya melewati lokasi kejadian.
  • Dalam peristiwa lain:
    • Tahun 2008 juga, seorang teman dihajar dari belakang oleh sebuah motor. Kejadiannya dia menghindari jalan berlobang di dekat Puri Legenda, tapi akibatnya malah ditabrak dari belakang. Hatinya sempat hancur. Beruntung selamat.
    • Tahun 2008 juga, seorang teman dipotong jalurnya sewaktu mau masuk ke area Anggrek Mas. Beruntung cuma luka ringan.
    • Masih di tahun yang sama, seorang teman lain terlibat dalam kecelakaan. Beradu kambing, katanya. Dia bergerak dari batam center, sedangkan lawannya bergerak dari muka kuning. Dua-duanya sepeda motor. Teman saya luka ringan, sedangkan lawannya meninggal dunia di tempat.

Dari paparan di atas, dalam pandangan pribadi saya, tampak bahwa dengan periode yang sama (2 tahun), jarak dan waktu tempuh lebih pendek (30 KM dibandingkan 48 KM; 40 menit dibandingkan 1 jam lebih),  jalanan Batam punya potensi lebih besar menjadi pembunuh daripada jalan trans-nasional Malang-Surabaya.

Dugaan pertama, kondisi jalan. Jalan trans nasional tentu lebih terawat daripada jalanan lokal di Batam. Jarang dijumpai jalanan berlubang. Kemudian kondisi topografi Batam yang berbukit2, sehingga tikungan, tanjakan dan turunan lebih banyak dari pada trans nasional Malang-Surabaya. Turunan berpotensi menaikkan angka speedometer secara tidak sadar karena pengaruh gravitasi. Jalanan trans-nasional Malang Surabaya, seingat saya, jarang menikung tajam kecuali ketika akan masuk kota Pandaan dan Purwosari. 

Dugaan kedua, perilaku pengguna jalan yang tidak saling menghormati dan menghargai sesama pengguna jalan. Tidak punya rasa ato sensitifitas pada kondisi jalan dan pengguna lainnya. Jika anda sensitif, tentunya akan berpengaruh pada behaviour anda dalam berlalu lintas. Behaviour hanya bisa diukur dengan methode Behavior Based Safety Management. Saya kurang yakin apakah pernah ada survei tentang perilaku di jalanan.

Saya sadar data yang saya omongkan sangat objektif sekali. Tidak ada data penunjang secara resmi dan ilmiah. Saya cuma menggunakan pengalaman dan perasaan pribadi saja. Tidak ada batasan jelas kecelakaan mana yang mau dibahas. Kalo cuma senggolan saja, mungkin datanya ga akan masuk ke data kepolisian bukan? Juga tabrakan2 kecil yang cuma luka ringan serta solusinya damai, saya juga ga terlalu yakin bakalan masuk ke statistik laka lantas kepolisian.

Yang lebih penting dari itu sebenarnya bukan masalah statistiknya. Tapi bagaimana kita mendapat pelajaran penting mengenai safety riding. Bagaimana mensosialisasikannya sehingga orang menjadi paham bahwa perilakunya dalam berlalu lintas tidak hanya ber-efek pada dirinya sendiri tapi juga pada orang lain dan kondisi jalan raya secara keseluruhan. 

Dua Pelajar SMP Ibnu Sina Tewas Terlindas Lori
Minggu, 13 Desember 2009

Sempat Ujian Semester dan Mencandai Teman Sekelas

“Setelah melindas Ayu dan Fauziah, sopir lori itu langsung kabur ke arah Bukit Senyum. Saya tidak tahu plat nomernya, tapi warna lorinya biru”.

SUASANA di ruas jalan di depan Kawasan Bintang Industri Batuampar, Sabtu (12/12) menjelang siang, belum terlalu ramai. Hanya satu dua pengendara yang lalu lalang.

Namun tepat pukul 11.20 WIB, sebuah lori melaju kencang, tiba-tiba menyenggol sepeda motor Yamaha Mio BP5283ES yang mencoba mendahuluinya dari kiri jalan. Sepeda motor yang belakangan diketahui dikendarai dua siswi SMP Ibnu Sina Batam, Ayu Septiani (14) dan Fauziah Muchadar (15) langsung terpental ke kiri, sementara tubuh dua pelajar ini terpental ke kolong lori yang langsung melindasnya.

Akibatnya, tubuh dua gadis manis ini remuk. Bahkan, kepala kepala Fauziah remuk hingga isi kepalanya terburai. Begitupun dengan Ayu, tubuh dan kepanya remuk. Sepeda motor Mio warna merah yang mereka kendarai juga remuk. Sementara sopir lori yang menabrak kedua korban langsung kabur meninggalkan korban di lokasi.

Mungkin terlalu naif kalo saya berharap ini adalah kejadian terakhir dan jangan terulang lagi. Minimalkan kejadian2 seperti ini dengan mempraktekkan safety riding.

Meminjam omongan dari blog sebelah (dan moga2 belum dipatenkan)🙂
Selamat hari Selasa Ki sanak. Sudahkah anda mempraktekkan safety riding hari ini?