Tags

, , , ,


Gw lupa kapan terakhir baca novel. Pas beli novel ini, istri gw mengedikkan kepalanya pada tumpukan buku di pojok kamar. “Kayaknya kamu belum baca yang ini, ini dan ini deh”, katanya. Hehehe…kadang2 gw ini bibliomania juga. Suka beli tapi ga suka baca.

Tintenherz. Sebuah novel karya Cornelia Funke. Penulis Jerman. Sempat baca namanya entah dimana. Sementara Tintenherz, sempat baca sampulnya. Konon termasuk New York Times Bestseller dan sudah dibikin filmnya dengan bintang Brendan Fraser. Anda bisa liat trailernya di Youtube ini. Ini adalah buku pertama dari Inkworld trilogy. Ya, Tintenherz adalah judul aslinya dalam bahasa Jerman, kemudian diterjemahkan menjadi Inkheart untuk negara2 berbahasa Inggris. Indonesia? Untunglah tidak diterjemahkan menjadi “Dunia Tinta”. Gw bisa ilfil baca judulnya doang.  Hmmm…sepertinya buku yang menarik untuk dibaca. Kali ini dengan waktu luang yang panjang, sepertiny ini adalah saat yang tepat untuk memiliki bukunya dan membacanya tanpa gangguan.

Tintenherz berkisah tentang keluarga maniak buku. Mortimer dan anaknya Meggie. Mortimer adalah seorang dokter buku. Mencari nafkah dengan memperbaiki, merawat dan merestorasi buku. [Emang ada ya profesi seperti ini di Indonesia?] Dikisahkan keluarga ini juga termasuk bibliomania yang suka mengkoleksi buku. Buku ada dimana-mana. Ini salah satu kebutuhan primer mereka. Bahkan dikisahkan Meggie beberapa kali tersandung tumpukan buku dalam rumah mereka.

Kisah petualangan fantasi ini dimulai dengan munculnya Staubfinger dalam kehidupan mereka. Staubfinger-Si Tangan debu- adalah masa silam Mo (panggilan Mortimer). Keesokan harinya ‘mengungsi’ ke rumah Elinor. Dan dimulailah acara culik-menculik, rampas-merampas antara si baik dan si jahat. Mo sendiri adalah seorang story teller-magician. Bisa ‘menghidupkan’ suasana dalam bercerita pada pendengarnya. Bener2 hidup, bahkan tokohnya sampe keluar dari buku ke dunia nyata. Tentunya akan sangaat mengasyikkan tokoh idola yang hanya bisa dibaca di buku, kini muncul dalam bentuk nyata dan bisa berinteraksi dengan kita sebagai pembaca. Masalahnya, karena Mo tidak punya kendali penuh atas bakat istimewanya. Tidak bisa mengendalikan sapa yang keluar dari ceritanya dan sapa yang bisa masuk dan menggantikan dalam dunia cerita. Capricorn dan Basta adalah 2 tokoh jahat yang keluar dari cerita. Dan, Teresa, ibunda Meggie yang masuk menggantikan dalam buku cerita tersebut.

Ini bener2 novel untuk anak2. Memang novel fantasi. Tidak seperti harry potter yang di beberapa jilidnya memang cocok untuk para remaja. Tidak ada kekerasan berlebihan, seperti penggambaran secara detail adegan pembunuhan ato melukai lawannya. Alurnya sendiri naik turun. Sedikit lambat di depan, kemudian naik di tengah cerita. Setelah itu terjaga hingga akhir buku.

Setiap bab dimulai dari kutipan novel2 yang mungkin pernah dibaca Funke. Saya sendiri kurang tau apa maksudnya. Di beberapa bagian, sebagai bagian daripada cerita, kutipan2 buku dan kisah anak2 terkenal masih bisa dijumpai. Sepertinya Funke pengen menunjukkan tokoh2nya ini adalah manusia seperti kita. Berperasaan takut ketika diancam, berharap pertolongan ketika terjepit dan membaca buku yang sama untuk berfantasi.

Di awal cerita gw menduga ini cerita yang akan lepas dari dunia nyata. Dunia manusia. Ternyata ditunjukkan tokohnya mengendarai mobil untuk bepergian. Bahkan untuk Elinor diceritakan menggunakan pesawat terbang, alarm keamanan dan telepon genggam dalam cerita. Tidak mengurangi bobot cerita sih. Tapi gw ngerasa aneh… (Abaikan saja. Toh Harry Potter juga selalu pulang ke pamannya yang Muggle tiap tahun). Makanya gw bilang ini dongeng fantasi masa kini karena disetting di dunia modern. Lumayan bisa dinikmati sebagai hiburan buat dewasa. Sedangkan buat anak-anak, ya…semakin bertambahlah referensi untuk berkhayal tingkat tinggi.