Tags

, , , , , , , ,


Tepat jam 10 malam waktu Surabaya, gw dan keluarga keluar dari gate 8 Bandara Juanda. Secara umum, gw bilang Mandala berhasil mempertahankan kepercayaan gw dan keluarga. Sebenarnya ada sedikit kekecewaan ketika mereka mengirim sms 2 hari sebelum hari H memberitahukan bahwa jam keberangkatan dirubah menjadi 19:50 dari sebelumnya 17:30. Gw sih maklum aja kalo itu memang diperlukan. Dan yang paling penting adalah tepat waktu dan menepati janji.

Perjalanan malam
“Apakah kita pernah berangkat malam-malam?”, tanyaku pada istri. Istriku menggeleng. “Seingetku lebaran 3 tahun yang lalu, kita berangkat sore dari Batam dan terlantar di Juanda hingga jam 8 malam”. Hmmm…tiba2 gw inget perjalanan udara gw yang pertama. Gw naik pesawat pertama kali. Naik Adam Air (alm.) dari jakarta ke Surabaya berangkat sekitar jam 18.00. Waktu itu, gw beruntung dapat tempat duduk dekat jendela (gw berharap melihat sesuatu dari ketinggian, ketika gw ada di udara untuk pertama kalinya..hehehe). Yang lebih hebat, gw pake duit hasil reimburse transport. Boleh dibilang hampir gratis. Hmm… kenapa kok jadi sentimentil gini ya…🙂

“Ma..e’ek dulu”
Sempat terjadi insiden kecil. (“Ah, sebenarnya ini kejadian normal aja sih”, kata istriku sambil senyum). Iqichan kebelet e’ek. Pengen lari secepat kilat menuju toilet yang dia sendiri tidak tau ada dimana dan berapa jauhnya. Tapi, feses itu telah mendorong duburnya, menimbulkan rasa tidak nyaman seperti sepotong timun (eh..wortel mungkin…ah ga penting deh…yang penting sesuatu yang keras) menusuk dari perut menuju pantat. Akibatnya langkahnya sedikit tertahan dengan kaki yang rada berjinjit berharap tekanan itu sedikit mereda. Wajahnya sedikit memerah karena menahan internal pressure dan tegang. Mungkin dia juga berharap “itu” tidak keluar disini. Bisa dihajar mamanya yang cantik itu… hihihi…

Perjalanan darat
Syukurlah bagasi2 itu cepat ketemu. Kita sendiri ga lama nungguin bagasi. Akibat nungguin Iqichan selesai ‘menunaikan hajatnya’. Tuh anak dari kemaren emang uda diare.

Keluar bandara, uda ada mertua yang jemput. Ah, lega. Begitu keluar dari bandara, gw perhatikan dari dalam mobil, penampakan terminal domestik juanda ini kok mirip2 dengan terminal 2 Changi Airport ya? Perjalanan darat itu dimulai. City of heroes kali ini hanya jadi tempat transit. Tapi, gw uda janji (setengah nyumpah kalo istri gw bilang) bahwa liburan kali ini gw harus ke Surabaya. Menuju kota reog yang selalu kukangeni keramaian depan rumahnya. Yang walaupun rada berisik tapi gw dan Iqichan selalu nyenyak tidurnya. Kota yang terkenal dengan sate ayamnya hingga ada gang sate karena satu gang jual sate semua !

Jalan tol itu tidak kukenal. Padahal terakhir datang ke Juanda, kita masuk dan keluar via Sidoarjo depan pompa bensin itu. Sekarang jalan tol itu langsung menuju bundaran waru. Gw terkejut bukan kepalang ketika membaca UPH di salah satu gedung besar yang gelap itu. “City of tomorrow Surabaya” ato Citos uda jadi sekarang. Padahal terakhir meninggalkan kota ini, itu masih berupa construction site. Gw masih inget mesin2 pancang itu berdiri di bekas lapangan bola. Sementara itu, Flyover Bundaran waru itu uda jadi, hanya saja jalan terusannya belum jadi. Sekarang gw melewati jalan akses itu. Tambah rumit aja nih bunderan waru, pikirku.

Sopir bis itu lebih hebat dari Michael Schumacher
Karena itu perjalanan malam, tentu saja ga ada yang bisa dilihat sepanjang perjalanan. Kecuali truk2 besar dan kecil termasuk truk gandeng saling berderet sepanjang perjalanan. Kemudian bis2 jurusan Jombang, Madiun dan ke Jawa Tengah yang saling saling menyalip di jalan propinsi yang terdiri dari 4 lajur. Di beberapa tempat, mobil yang gw tumpangi harus melambat karena ada penyempitan jalur dan truk2 itu memenuhi jalan. Jika siang hari, boleh dibilang itu berpotensi padat merayap. Dulu, gw bisa jengkel setengah mampus sampe mengutuki kepadatan itu. Sekarang, gw merasa itu pemandangan bagus yang ga gw temui di Batam. Lucu juga kalo dipikir2. Betapa romantisme itu bisa merubah hal menyebalkan menjadi menyenangkan. Bis2 itu masih berkejaran. Saling salip di trek lurus dan kemudian meliuk ke kiri lagi. Si kenek biasanya melambai2kan tangannya seolah2 dia bilang, “Minggir, aku kate liwat”. Aku masih sering heran sampe sekarang betapa sopir2 itu begitu hebatnya mengendalikan monster jalanan berkekuatan lebih dari 3000cc dengan panjang lebih dari 10 meter. Michael Schumacher pun belum tentu selihai itu. Bahkan Schumi juga belum pernah merasakan balapan malam hari ala Singapore Grand Prix.  Makanya kubilang, Sopir bis itu lebih hebat dari Schumi karena sama-sama mengendarai kendaraan CC besar, tapi kelebihannya bawa penumpang, kendaraannya juga bukan high quality maintenance serta penerangan kurang sepanjang jalan. Plus, hambatan lainnya adalah traffic dari arah depan.

Bis Restu, langgananku dulu untuk perjalanan Malang-Surabaya dan Surabaya-Ponorogo, masih mendominasi perjalanan itu. Sebelumnya di kelokan Medaeng itu, tempat transit tidak resmi, gw masih sempat ngeliat bus Tentrem yang masih baru. Untuk rute Malang-Surabaya, 2 bis itu dulu (..entah sekarang) masih merajai jalanan. Cepat dan banyak banget armadanya. Sedangkan rute Surabaya Ponorogo PP, mendingan naik Restu daripada Sumber Kencono. Sumber Kencono ini sering kecelakaan sampe2 temanku bilang Sumber Bencana.

Tahu Pong itu masih Rp. 500 ga?
Sekitar 5 tahun lalu, gw masih sering Surabaya-Ponorogo PP. Istri gw baru melahirkan Iqichan di Ponorogo dan menghabiskan cuti disana. Gw inget waktu itu gw dilanda kangen berat pengen ketemu bayi laki-laki itu. Gw berangkat jam 19.00 dan belum makan malam sama sekali. Apalagi itu hari sabtu. Wah, rame banget orang pada pulang ke kampungnya masing2. Apalagi bis jurusan itu melewati beberapa kantong migran temporer. Jombang, yang turun di sini biasanya akan lanjut ke seputaran Mojokerto, Kediri, selain Jombang sendiri. Kemudian, lanjut ke Kertosono, dan Madiun. Gw selalu mengawali perjalanan itu dengan berat hati. Jauh, lama, macet dan panas. Sampe Kertosono, barulah perasaan itu berubah. Perjalanan lebih lancar dan itu berarti setengah perjalanan sudah dilalui. Untuk merayakan kesabaran gw, biasanya gw membeli makanan. Dan yang beruntung saat itu adalah Tahu Pong yang sebungkusnya Rp.500 rupiah. Berisi 3 biji seukuran tidak lebih dari separo Nokia 1650. Cabenya seukuran kelingking dan biasanya ga terlalu pedas. Kadang2 pedas juga sih. Untuk menggenapkan, karena si penjual selalu beralasan ga ada kembalian walaupun kuragukan kebenarannya, gw beli juga aqua eits air mineral gelas. Orang bilang selalu hati2 pada air mineral gelas merek tidak jelas yang dijual dalam perjalanan. Ada yang bilang itu adalah air sumur biasa yang dikemas tanpa proses mematikan bakteri2 berbahaya macam e.Coli. Ah, peduli setan. Kalo, uda kepedesan sampe mbrebes mili, apalagi obat mujarab selain air.

Perjalanan itu masih berlanjut. Gw sempat ketiduran sampe kemudian gw ga bisa memejamkan mata lagi. Iqichan yang tadi mengeluh ngantuk dan ga bisa tidur, sekarang tidur dengan posisi tengkurap. Anggun teriak2 pengen mimik dan mamanya terbangun juga. “Sudah sampe Madiun?”, tanyanya. Gw diam sampe ga lama kemudian gw liat sebuah monumen kecil di pertigaan. Sebuah kereta loko. Dibawahnya ada tulisan “PG. Rejo Agung”. Hehehe…Correct, dear.