Tags

, , ,


“Suatu contoh dari berhasilnya doktrinasi dari masa TK hingga SMA”, kata istriku.
Yup, betul. Sudah sejak masa TK hingga SMA, sekolah (terutama sekolah negeri) mewajibkan muridnya mengenakan kaos kaki berwarna putih. Kecuali sampean menggunakan seragam pramuka, maka kaos kaki wajib berwarna hitam. Biasanya ‘kostum’ pramuka ini dikenakan di hari jumat dan sabtu. Sehingga dengan proporsi 4:2 hari sekolah, maka proporsi populasi kaos kaki setiap murid ya 2:1 untuk si putih dengan si hitam.

Dua belas tahun lebih anda ‘diwajibkan’ memakai kaos kaki putih. Suka ga suka. Teman saya ada yang menggunakan kaos kaki hitam di hari senin sewaktu SMP. Cilakanya itu hari naasnya karena ada pemeriksaan mendadak. Lumayan hukumannya, suruh nyiram taman.🙂
Jadi ga salah toh, kalo istri saya bilang itu adalah doktrinasi.

“Ah, kaos kakinya Mundo. Sama kayak punyaku”, jerit seorang cewek.
“Aku punya 7 pasang di rumah”, sahut yang lain.

Lah, apa pasal? Kiranya diriku saja yang punya ‘kelainan’ menyukai kaos kaki berwarna putih karena selalu merasa tak nyaman (dengan kata lain: ga keren) menggunakan kaos kaki berwarna lain.

Lihat saja kaos kaki ini. Berbahan katun. Lembut dipakai. Lebih dari itu kenapa saya dan 2 teman saya memilihnya? Semata2 karena area abu2 di bawah telapak kaki. Itu menunjukkan bahwa Mundo jeli mengatasi problem para konsumennya yang (sengaja ato tidak sengaja) jorok.

DSC03328

Ini cuma salah satu. Sisanya di lemari ...

Kaos kaki putih punya kelemahan karena gampang kotor. “Kejorokan” yang tipikal adalah noda kecoklatan, berbau tengik di alas kakinya. Bau jempol, kata mama Rizqi. Bahkan jika berlaku bak seorang putri yang sangat berhati2 pun, kadang masih kecolongan karena “kejorokan” itu berasal dari gesekan telapak kaki berbalut kaos kaki, menimbulkan panas (plus kepanasan). Berujung pada keringat di dalam ruangan pengap. Keringat, pengap dan debu yang suka menyelusup dalam sepatu, berkoalisi menjadi si “dekil-kecoklatan-bau-jempol”. Coba sampean raba si “dekil”, kaosnya berasa tebal dan kaku bak disterika dengan kanji.

Kadang kita juga suka berjinjit mendekati sepatu. Komplit deh, akumulasi pen-dekil-an si putih.

Hmmm…lihai ! Simply design that I love. Kejorokanku telah ‘tersamarkan’. hihihi.