Tags

, , , ,


jadwal-1Setiap bulan ramadhan, brosur dan selebaran ini pasti laku keras. Dibagikan gratis pada khalayak sebagai (yang diniatkan) pedoman kapan waktu mulai sahur, kapan berhenti dan kapan berbuka. Biasanya bisa diperoleh di masjid2, mushola2. Kalo beruntung, bisa mendapatkannya waktu lagi jalan di mal, sekolah, lagi parkir ato pas di kantor. Dicetak oleh LSM, ato lembaga agama dan (kadang ada juga) partai ato calih tertentu untuk konstituennya. Dipajang di tempat yang mudah dilihat oleh anggota keluarga. Hehehe…biar tak lupa, juga biar bisa itung2 kurang berapa lama menuju buka puasa.

Tentu saja sampean yakin dengan keakuratan waktu yang tercantum dalam jadwal itu. “Wis dipikir dan diitung karo wong pinter, Mas. Nek ora percoyo, itungen dewe“, kata tukang parkir waktu saya tanya. Hehehe…saya cuma ketawa saja. Saya juga ga bisa ngitungnya. Tapi coba, seberapa akurat jam dinding di rumah sampean sebagai alat ukurnya. Ada kasus tahun lalu di rumah saya, jadwal mengatakan sudah masuk waktu Imsak. Tak ada pemberitahuan dari masjid terdekat, juga TV. Saya berhenti makan. Sampe 10 menit kemudian terdengar pemberitahuan bahwa sudah masuk Imsak. Walah…jamnya terlalu cepat. (Ato, jam saya bener tapi masjidnya yang telat kasih tau. Engga tau juga). Untunglah, sudah berhenti makan. Ini masih tergolong kasus ringan dibandingkan yang dialami teman saya. Tinggal di hutan, asyik makan karena menyangka belum masuk waktu Imsak. Teman kos sebelah kamar gedor2 pintu, “Di, ayo bangun. Shalat subuh dulu!!”. Cilaka 12 belas, ternyata jam tangannya mati.  Glek…nasi dikunyah cepat. Minum pun seadanya. Waduh…

Allah Maha Mengerti memang mengerti kesulitan makhluknya.

Tapi, sudahkah sampean mempedulikan keakuratan jam sampean?

*Apakah ada diantara sampean yang lebih suka memperhatikan isyarat alam?*

Note:

Menurut wikipedia Indonesia mengenai shalat 5 waktu, penentuan waktunya adalah sebagai berikut:

Waktu shalat relatif terhadap peredaran semu matahari

Waktu shalat relatif terhadap peredaran semu matahari

  1. Shubuh, terdiri dari 2 raka’at. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.
  2. Zhuhur, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.
  3. Ashar, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya matahari.
  4. Maghrib, terdiri dari 3 raka’at. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya’.
  5. Isya’, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Isya’ diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam Syi’ah, Shalat Isya’ boleh dilakukan setelah mengerjakan Shalat Maghrib.
  • Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Shubuh menandakan dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor “keamanan”, ditetapkan waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Shubuh.