ucapan selamat puasa

Wanda+Yulia=Rizqi&Anggun mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Berpuasa di Bulan Ramadhan 1430 H. Semoga kita termasuk orang2 yang Menang. Amin

Kalo saya ga salah inget, kira2 20 tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di kampung kecil. Definisi kampung menurut saya adalah tetangga berdempetan, tinggal di gang sempit (cukup sempit sehingga cukup 2 orang saja yang lewat). Layoutnya tidak beraturan, sehingga ga jelas ujung pangkalnya. Lebih ‘serem’ lagi, rumah saya dulu dekat sungai. Trus?

Iya, di kampung saya dulu, permulaan ramadhan dimulai dengan saling mengirim makanan. Dulu, saya ga ngerti apa maksudnya. Pokoknya harus berangkat ngantar makanan kemana-mana. Dan di rumah juga banyak makanan. Macam2 makanan yang dipertukarkan. Dari apem, aneka sayur masak, dan telur rebus. Ayam? Daging? ya… kalo mampu ya dikirim…

Kemudian pindahlah saya ke kompleks perumahan. Di sini, beberapa tetangga masih mempraktekkan hal yang sama. Saya mulai mengerti, ini pertanda awal puasa. Pesan tersiratnya, “Selamat Menunaikan ibadah puasa. Kami sekeluraga, mohon maaf lahir dan batin. Semoga hidangan ini, bisa mempererat tali silaturahmi”.

Setelah itu, saya memasuki masa “kos-kosan”. Masa prihatin. Tapi di kampung tempat saya tinggal, beberapa orang masih mempraktekkan tradisi memberi makanan pada tetangga lainnya. Ada yang menamakan “unjung-unjung” (eh, bener ga?) dalam masyarakat Jawa. “Ngater” kata orang Lombok.

Era diatas, saya namakan “Face to Face”. Yang memberi dan yang menerima masih saling ketemu dalam arti sebenar-benarnya.

Kemudian datang era “Blogging”. Yang didahului dengan era SMS dan email. Ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan permohonan maaf dihantarkan melalui “sinyal elektronik”. Beberapa ucapan terasa mengharukan, lainnya lucu tapi mengena, sedangkan sisanya polos, standar tapi terasa personal. Kadang HP saya sampe nge-hang karena banyaknya pesan yang diterima. Kadang jengkel karena pesan tak nyampai2 karena servernya ‘overloading’ traffic di luar kewajaran.

Facebook dan situs jejaring sosial yang mem-booming pun dimanfaatkan untuk menghantar pesan. Dalam ber-SMS ato mengirim email, kadang kita lupa menyertakan seseorang, maka satu posting di wall sudah dirasa cukup. Begitu juga para blogger, satu posting di blognya untuk semua pembaca setianya.🙂

Apapun jalannya, yang penting sudah tersampaikan permohonan hati untuk keluarga, saudara, ato rekan yang terpisahkan dalam jarak (tapi dekat secara online). Besar harapan itu tidak mengurangi maknanya. It doesn’t matter how the message is delivered. The most important thing is the message itself.
More Graphics