Tags

, , , , ,


Hehehe… ini cerita ringan saja dari Shekou. Sebuah kota kecil di NanShan District di Shenzhen, China. Ceritanya gw nginep di Nan Hai Hotel. Hotel ini “ngakunya” ini hotel bintang lima di Shekou. Bisa diakses ga sampe 5 menit jalan kaki dari Shekou port terminal. Hotel bintang lima, berarti ini kelas international kan?

Malam pertama, gw datang disitu. Gw ketemu tamu yang diantaranya bule, beberapa Japanese dan orang local. Uda berasa international kan? Dan bahasa international adalah bahasa inggris, bukan. Gw sendiri berharap mereka ngerti bahasa Inggris.

Cerita ini sebuah perenungan mengenai makna bahasa terhadap nasionalisme.

Intermezzo Makan Malam
Gw makan malam. Sendirian saja. Karena ga bawa duit RMB, gw pikir mendingan di charge ke room saja. Gw tanya sama pelayan ceweknya, “Can I charge this to my room?”
Si cewek bingung. Gugup. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada sepatah kata yang keluar. Gw ulangi lagi, pelan-pelan. “Can you give me the bill, I’ll sign it and charge to my room”.
“Bill? Room? I… I… don’t…. understand, sir”, sambil geleng2 kepala.
Gw ulangi lagi pelan-pelan. “I should pay for these meal, right? Then, I get the bill. Please charge to my room, OK?”
Si cewek cuma geleng2 kepala. Waduh, blank beneran dia. Gw uda muntab aja. Uda jalan 14 jam, pengen tidur, eh… masih ngadepin perkara ginian. Si cewek manggil temannya yang (dia rasa) bisa basa Inggris lebih baik. Name tagnya Feng. Orangnya gendut, wajah mirip Bo Bo Ho, dengan rambut lurus tebal. Umurnya kira2 ga sampe 25 tahun.
“Can I charge to my room?”
“Yes, sir”
Dengan patuhnya dia langsung membersihkan piring. Semua sate dijadikan satu sama dia, ditaruh di piring dan diberikan sama gw. Wah, salah ngerti dia. *Gw bukannya mau bawa makanan ke kamar, coy*, batin gw.

“Bill, please. And charge to my room”, gw tegesin dan menatap tajam. Punggung gw uda mulai cekot2…. capek bener karena duduk melulu sepanjang perjalanan.
“Yes, sir”

Si Feng langsung ngacir. Ga seberapa lama dia balik bawa kertas kecil yang dari tadi gw minta (gw sendiri uda hampir ngemis…). Gw sign. Selesai

Banyak cerita lain yang gw liat dan dengar selama 2 hari disini mengenai kemampuan bahasa inggris orang China yang rendah. Bos gw ga makan sapi secara dia orang India, minta ganti ayam. Si pelayan ngotot, “Yes, sir. Beef. Not Chicken”. Seolah2 dia pengen meyakinkan bos bahwa itu emang daging sapi. Waduh ga nyambung.

Stuart malah bilang, “What I know is I just point here and there cause my Chinese is not good.”

Gw melihatnya ini sebagai nasionalisme tulen terhadap bangsa dan negaranya. Seperti orang Perancis dan Jerman yang ga mau bicara bahasa Inggris (meskipun mereka emang beneran ngerti basa Inggris). Buat mereka, “You come to my country, You shall speak my language”. Wah, susah dikalahkan yang kayak gini. Ini communication barrier yang menjadi bisa keuntungan buat negara itu sendiri. Para professional unggul di negara lain, bakalan susah berperforma sebaik sebelumnya. Karena mereka sendiri uda susah berkomunikasi, memaparkan idenya. Apalagi meng-eksekusi. Urusan bill makan aja bisa sepuluh menit, apalagi urusan perusahaan. (mungkin ga se-ekstrim itu sih).  :)

Gw ga tau apakah ini memang ada kebijakan pemerintah lokal untuk tetap menggunakan Chinese sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi dalam urusan bisnis. Ato, mungkin pemerintahnya ga ada program perbaikan ato usaha mempopulerkan bahasa Inggris buat warganya seperti pemerintah Singapura. Gw ga tau. Yang gw tau, ini negeri hebat dengan sumber daya yang murah dan mudah. Pemerintahnya bisa jadi cukup sombong (dengan konotasi positif), dan cukup pede untuk bisa membangun negaranya sendiri tanpa bangtuan negara lain.  “I can build my country ourselves without you. If you want to join, please speak my language”.