Tags

, , , , , , ,


17 Juli 2009, Jakarta diguncang bom lagi. JW marriot Hotel (untuk kedua kalinya) dan Ritz Carlton Hotel yang menjadi sasarannya kali ini. Hingga hari ini, sembilan orang dengan berbagai kewarganegaraan dinyatakan tewas. Salah satu korbannya adalah Presdir Holcim, Timothy McKay dan Evert Mocodompis, chef banquet di Marriot. Pelakunya diduga 2 orang yang meledakan bom bunuh diri di 2 tempat berbeda. Ok, what’s the case then?

Ini beneran presiden yang ngomong?

Beberapa saat setelah peristiwa tersebut, presiden SBY menggelar jumpa persnya. Mungkin bertujuan menenangkan publik. Memberikan tanggapan dan pendapat atas peristiwa yang menimpa negara yang dia pimpin. Saya sendiri ga terlalu seneng denger orang berpidato bernada datar (siapa pun orangnya). Jadi saya ga terlalu ngerti dengan bener apa yang beliau omongkan. Tapi, sungguh saya terkejut bukan kepalang ketika dia bilang, “…kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto sby dijadikan sasaran, dijadikan lisan tembak. saya tunjukkan, ada rekaman videonya, ini mereka yang berlatih menembak. dua orang menembak dengan pistol. ini sasarannya, dan ini foto saya dengan perkenaan tembakan di wilayah muka saya, dan banyak lagi. ini intelegen, ada rekaman videonya, ada rekaman gambarnya, bukan fitnah bukan isu. saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu”. Sebagaimana saya dan anda semua tahu, beliau juga menunjukkan beberapa foto orang menembak, dan juga foto dirinya yang konon dijadikan sasaran tembak.

“masih berkaitan dengan intelegen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. Adapula rencana untuk pendudukan paksa kpu pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. ada pernyataan akan ada revolusi jika sby menang. ini intelijen, ini bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. ada pernyataan kita bikin Indonesia seperti iran. dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga sby tidak boleh dan tidak bisa dilantik. saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu”. Begitu lanjutannya. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apa beliau ini mau ‘menghabisi’ lawan politiknya sekalian. Sudah kalah dalam pemilu, sekalian dituduh punya peran dalam pengeboman, biar habis sekalian. KO dan tidak bangkit lagi.

Sungguh, sependek ingatan saya, teori konspirasi yang melawan seorang pejabat tidak pernah diungkap langsung. Saya yakin banyak pertimbangan mengapa para pejabat2 itu tidak akan mengungkap langsung. Mungkin tidak cukup bukti untuk menuduh. Mungkin juga terlalu bombastis kedengarannya, sehingga terdengar konyol bila diumumkan di publik. Mungkin juga, itu berpotensi membunuh dirinya jika diumumkan di publik. Sehingga, teori2 konspirasi ini biasanya muncul di koran kuning, tabloid murahan dan paling banter akan tertulis dalam memoar pribadinya. Menjadi perdebatan di ruang diskusi, dan biarlah menjadi side story sebuah sejarah perjalanan negara.

Pak Beye…pak Beye. Saya langsung hilang respek pada anda gara2 pidato itu. Sungguh saya tiada paham apa maksud dirimu mengungkap teori perlawanan pada dirimu. Biar gimana juga, sejarah melawan pemerintah dengan segala caranya sudah ada sejak era Servilius Casca membunuh Julius Cesar. Juga, Abu Lukluk yang membunuh Umar bin Khatab. Ga usah cengeng lah…

Saya jadi bertanya-tanya, ini beneran presiden yang ngomong?

Foto dan kutipan pidato diambil dari sini.