Tags

, , ,


First of all, this is NOT a movie review.

Uda beberapa hari blog ga di-update. Selain sibuk berjibaku dengan tugas kantor, juga harus berperang melawan flu. Ketahanan diri yang rontok hanya bisa pulih dengan makan sop yang panas2 dan istirahat yang banyak alias tidur. Hasilnya, ya begini. Blog tak ter-update karena bloggernya sibuk TIDUR !🙂

Sabtu, 13 Juni 2009. Di Trans TV lagi muter film yang kayaknya blum pernah saya lihat. Aktor utamanya adalah Adam Sandler dan Kate Beckinsale. Michael Newman (Sandler) adalah seorang arsitek yang pengen menjadi rekanan di firma tempatnya bekerja. Menikah dengan Donna (Beckinsale) dan mempunyai 2 orang anak, Ben dan Samantha. Newman bener2 frustasi untuk dua sisi kehidupannya, karir dan keluarga. Dia berpikir dengan menjadi partner bosnya (Hasselhoff), masalah finansial dan susah berbagi waktu dengan keluarganya akan berakhir.

Suatu ketika Newman sedang bertengkar dengan istrinya karena tidak jadi berkemah bersama keluarga. Newman beralasan ingin menonton tayangan dokumenter arsitektur Asia demi projeknya. Dia meraih remote control untuk menyalakan TV, eh malah helikopter mainan yang malah mampir di jidat. Ouch… “I should have a universal remote control like O’Doyles“, demikian katanya sambil ngeloyor pergi. Tiba di Bed, Bath and Beyond, Newman bertemu Morty. Morty menawarkan universal remote control yang bisa mengatur alam Newman sendiri. Back, Fast Forward, Skip, Menu dan lain2 yang bisa memudahkan kehidupan Newman. Tentu saja, Newman senang. Newman memanfaatkannya di saat istrinya sedang marah, skip saja bagian marah, tau2 sudah selesai marahnya. Diburu waktu dan istrinya meminta dipijat sebelum nge-sex, eh si Newman malah mem-fast forward bagian itu. Tau2 udah selesai dan nikmat. Meng-skip perjalanan macet, sakit, mandi dan acara makan malam. Newman senang karena melewati bagian2 hidupnya yang menurutnya menyebalkan. Apakah dia akan menyesal? Newman telah terbiasa melewati bagian2 kehidupannya. Sehingga tau2 dia menjadi partner bosnya, kemudian naik menjadi CEO, melewati masa pertumbuhan kedua anaknya, tau2 istrinya sudah menikah lagi dan bapaknya sudah meninggal tanpa dia sadari. Suatu saat, Newman protes karena dia ingin melewati satu hubungan saja. Bukan semuanya. Morty bilang, “Bukan remote controlnya yang rusak, tapi RC itulah karakter mu. Kamu melewati satu tahun dan itu berarti banyak sex. Tapi buatmu, sex mungkin cuma kegiatan 30 menit. Makanya, kamu suka melewati bagian itu demi kepuasan sendiri bukan istrimu. Dan kamu sudah menyianyiakan momentumnya“. Newman yang menyesal, tau2 sudah menjadi pasien kanker dan mendapati anak laki2nya yang baru menikah malah akan pergi menangani proyek. Mirip dirinya yang lebih suka bekerja daripada bersama keluarga.

Well, filmnya ga bagus2 amat lah. Tapi moral storynya yang dalam. Berapa banyak sih dari kita yang ingin melewati momentum sakit, macet dan membuang kenangan itu karena ga penting, dan menyedihkan. Tapi pernahkah kita berpikir tentang apa hikmah dan maksud dibalik peristiwa itu? Pasti Tuhan, Sang Grand Director, punya rencana besar dibalik itu dan kita harus berpikir positif terhadap semua rancangannya.

Berapa banyak dari kita yang suka mengejar karir seperti Leprechaun. Berharap menemukan emas di ujung pelangi (ini kutipan si Morty yang saya suka nih). Berharap ketika menjadi atasan / bos yang sudah tercukupi segalanya, dan di saat itulah kita berharap bisa mengurus keluarga. Banting tulang dan menjadi Workaholic. Tapi benarkah begitu? Bukannya kalo uda jadi atasan, dengan gaji tinggi, justru waktu pribadi dan keluarga yang malah ‘dibeli’ perusahaan demi kelancaran pekerjaan. Bukannya ketika kita sudah naik pangkat, kita pengen naik lebih tinggi lagi dan lagi. So, itu cuma bayangan semu sahaja. Tidak ada yang salah dengan mengejar karir asalkan berimbang dengan keluaga. Toh, keluarga juga yang men-support kita dan tempat kita kembali bersama. Pentingnya berbagi waktu antara keluarga dan karir. Me-manage waktu. Memilah antara yang penting dan sangat penting, memberi skala prioritas. Toh, waktu adalah un-renewable resource. Sekali lewat, tak bisa dikembalikan.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip dari How to Value Your Life and Maximise Your Full Potential by Keji Jiwa

 You only have a day to live
– Live it well, it’s your last. Make the very best of it; let nothing or no one spoil your day. Be happy, smile, embrace life and
give your best to all who need it.

Eventhough it’s not a movie review, I hardly said that Beckinsale is not matching with Sandler. Too sexy, though.🙂