Tags

, , , , ,


Istri saya lagi demen desain felt. Itu loh kerajinan yang menggunakan kain flanel sebagai bahan dasarnya. Bentuk jadinya bisa macam2. Dari mulai hiasan korden, boneka jari, asesoris lain sampe ke boneka. Setelah coba2 dengan ukuran kecil, kemudian dimulai dengan ukuran lebih besar yang kemudian ingin dijual. Beserta teman2 dekatnya, mereka mulai ekspansinya. Dimulai dari dititipin ama tetangga. Inilah reaksi pertamanya.

“Tempat tisunya kemahalan. Mending beli punya ****(salah satu merk terkenal)”
“Sandalnya kayaknya gampang putus deh”
“Nih, tas kuat? Yakin?”

Hihihi…shock lah si ibu2 ini. Waduh, belum gimana2 kok uda di-komplain banyak. Uda gitu ga bisa counter-attack lagi. Harus gimana dong? Istri saya dengan tenang, “Gw kan ga jualan tempat tisu. Tapi idenya. Kagak mau beli ya ga papa. Mending gw bikin yang dia mau”. Setelah itu SMS temannya, “Lu cek sandal lu, dan coba. Kalo emang gampang putus perbaiki sambungannya”. Kemudian ke teman satunya lagi, “Coba tas itu lu masukin macam2. Kita test load aja deh. Kalo emang kuat, ya uda. Dia ga mau beli kali”. Smart, Dear. Love it !🙂

Saya jadi teringat tentang prinsip dan asas desain. Seinget saya sih, ga ada dalam kurikulum. Tapi diterangkan dalam setiap pelajaran tentang desain. Karena saya ‘dibesarkan’ dalam lingkungan yang mementingkan kekuatan maka prinsip pertama adalah:

  1. Utamakan fungsinya dulu.
    Bangunan sipil harus kuat, menjadi pelindung buat penghuninya. Tidak boleh runtuh sebelum penghuninya dievakuasi. Itu fungsi utamanya. Makanya, setiap sesuatu yang saya desain harus kuat. Harus kokoh menahan beban mati, beban hidup, beban angin, gempa dan kombinasinya. Berarti apakah harus sekuat2nya? Tentu saja tidak. Anda harus memikirkan fungsi utamanya dahulu, sebelum bergerak ke fungsi tambahan lainnya.
  2. Mudah dilaksanakan
    Apa gunanya sebuah desain jika tidak bisa dilaksanakan. Dia cuma jadi kertas gambar yang akan teronggok saja. Trus apa gunanya desain itu? Ga lebih dari mimpi aja kan? Cuma gambar tapi ga bisa dibuktikan. Sebuah desain akan lebih bernilai jika bentuk fisiknya juga bisa terlaksana.
  3. Terjangkau secara finansial
    Saya ga akan bilang murah. Karena murah itu relatif. Kalo emang ada duitnya dan memang harus kuat sekuat2nya, maka ya cocok. Jika kuat tapi tak terjangkau, ya harus ada yang dikorbankan. Dimulai dari quartery (asesorisnya), tertiary, secondary (pendukung struktur utama), sampe kemudian ke primary. Kenapa begitu, ya biar ga mengurangi fungsi utamanya kan?
  4. User Needs
    Ini pelajaran yang diberikan oleh rekan arsitek saya. Si teman arsitek ini dapat job sambilan desain sebuah rumah. Karyanya yang dikerjakan dengan memperhatikan ergonomi, aliran dan prinsip desain arsitektur, dirombak habis2an oleh yang punya rumah. Dan hasil akhirnya bisa berubah 100% dari awalnya. “Loh, lu kan desainernya. Masak kalah ama yang ga ngerti sama sekali”, protes saya. Sambil tersenyum, dia menjelaskan, “At the end, he is the user, right? My design is useless if I don’t care what he needs. What’s the meaning of all of fancy design if the user doesn’t feel comfortable after all”. Saya manggut2. Ssst…teman saya bukan bule. Tapi suka pake basa inggris, kalo bicara serius.🙂
    Biasanya dalam projek besar, user needs ini dituangkan dalam spesifikasi teknis.
  5. Memenuhi standar umum yang berlaku
    Desain juga harus memenuhi standarisasi yang disyaratkan oleh para ahli. Code ato standar biasanya dikembangkan dari percobaan, telaah ilmiah dan pengalaman para ahli. Fungsi standarisasi ini juga menjamin kualitas barang yang diproduksi. Standar juga bisa menjadi pedoman dasar desain. Standarisasi bisa menjadi dasar pemikiran supaya kita ini berbicara dalam satu frekuensi. Ga lucu kalo kita otot2an perkara metal, kenapa A36 itu beda dengan API 5L X52. Ya, jelas beda. Wong bendanya beda. (Sori, saya ga bisa kasih contoh yang lebih general lagi).
    Standarisasi ato code ini juga memberikan perlindungan hukum pada para desainer. Jika sudah berpedoman padanya, jika terjadi ‘sesuatu’ (I mean it’s really really something bad happened), maka desainer tersebut tidak bisa disalahkan.
  6. Keamanan / Safety
    Desain harus memperhatikan tingkat keamanan juga. Berbeda dengan #1, yang saya maksud disini adalah ergonomi user. Oke deh, bangunannya uda kuat. Bangunan akan tetap kuat walaupun ga pake pagar. Pagar bukan structural issue loh. Tapi, kalo missed, bisa ada orang yang terbunuh.
    Contoh lain lagi, ya gimana kalo beli laptop tapi keypadnya blank. Ato, barang elektronik lain yang panelnya blank. Tak ada petunjuknya. Gimana mo nyalain? Alih2 mencet tombol power, sampean bisa2 malah mem-format media cardnya. Ato, karena ga ada safety warningnya, anda akan memegang bodi oven elektronik yang barusan selesai dipake memanggang roti. Pada akhirnya, apa gunanya suatu equipment, bangunan ato apa pun itu tidak boleh mencelakakan penggunanya.

Sekedar tambahan, jika menambahkan hal2 di bawah ini, suatu karya bisa lebih bernilai. Desain bisa lebih yahud.

  • Kosmetika
    Ini paling mudah dianalogikan sih. Jika ada cewe cakep (let say, Charlize Theron🙂 ) yang lagi ga pake baju..ups. Maksud saya, si do’i pakai pakaian yang ngga’ fashion lah. Mombrot2, kata wong Malang. Ngga matching dengan situasinya. Tentu saja, kecantikannya juga sedikit berkurang.
    Begitu juga sebuah desain, Iphone dan Mac disukai karena tampilannya yang lain daripada yang lain. Padahal, fungsi dasar nya ya sama aja dengan HP dan kompie lain. (No offense, Mac User)
  • Testing, Test Drive (?)
    Testing ini juga penting loh. Ini mungkin tahap terakhir yang akan membuktikan semua asumsi, dan kalkulasi anda bener ato tidak. Jika ada yang missed, berarti alhamdulillah ada waktu untuk memperbaiki sebelum dilempar ke pasaran dan diketemukan oleh konsumen.
  • Mengadopsi kritik dan saran
    “Apa penyakit dasar seorang design engineer?”, demikian tanya seorang senior engineer kepada saya. Saya bengong. Emang ada penyakit design-engineer-istis stadium akut? “Seorang design engineer itu paling susah kalo disuruh ngubah gambar. Susah di-kritik. Dia mengira dia sudah membuat maha-design”, katanya melanjutkan.

Ya, itulah sifat manusia. Paling susah menerima kritik dan saran. Sebagai makhluk ego, ya manusia emang begitu. Itu manusiawi. Tapi, ada baiknya didengerin dulu deh. Sapa tau, kritiknya itu malah mendekatkan pada masterpiece. Bukan ke-mahatolol-an.

Kita ga bisa memuaskan semua orang, semua pemikiran. “If you try to please everyone, you please no one”, demikian kata bijak seorang rekan. Diperlukan suatu kearifan, untuk memilah mana yang perlu dan tidak. Mana yang perlu diperkuat, mana yang secukupnya. Desain juga bukan proses instan. Tidak lupa, sebuah desain juga harus memperhitungkan semua load-cases ato kemungkinan yang terjadi di lapangan. Mana variabel yang bisa dikontrol, mana yang tidak. Dan menentukan apa solusi terbaik dari semuanya.

-ex-design engineer yang masih belajar-