Tags

, , ,


Sudah banyak posting dari para blogger yang mengutuk dan mengecam tindakan RS OMNI, meminta pembebasan ibu Prita, bahkan menggalang satuan blogger untuk memberi ‘tekanan’ pada tindakan RS Omni. Dan memberikan dukungan moril pada ibu Prita Mulyasari. Baca kisahnya disini. So, saya ga akan bahas lagi. Let’s look at the bright side. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari masalah ini.

Sadar potensi bahaya digitalisasi.
Saya yakin (walaupun engga juga sih) semua orang masih inget tentang ‘Bandung Lautan Asmara’. Ato yang terbaru, skandal Edison Chen. Mereka tidak mem-publish ‘barang pribadi’nya. Orang lain yang melakukannya. Karena berbentuk digital, tinggal dimasukkan email ato di-upload ke file sharing server, kemudian sudah menjangkau seluruh dunia dalam sekian detik. Kemudian di-forward lagi, sekian detik. Menjadi hit di suatu forum ato milis terkenal, kemudian di-blow up media massa, tambah banyak yang nyariin. Ini potensi bahaya digital yang mudah ditranfer. Ibu Prita tidak dengan sengaja memperbanyak curhat pribadinya. Tapi temannya dan teman dari temannya dst, meneruskan curhat itu dengan harapan, “Please be aware with this hospital. My friend had it. Here’s the story”. Dan itu sudah bisa dianggap mencemarkan nama baik di depan umum jika tidak disertai bukti yang cukup.

Hati2 menulis
Saya yakin (jika membaca kisahnya) curhat personal bu Prita ini memang tidak ditujukan menyerang RS Omni. Makanya dikirim ke beberapa orang sahabat beliau. Jika beliau harus menuliskan complain itu di surat pembaca, ya ibu Prita mesti hati2 milih kata. Kalaupun tidak, pasti uda di-sensor oleh editornya demi kenyamanan pembacanya. RS Omni berpedoman, bahwa mereka tidak terima dikatakan penipu. Ya, namanya curhat pribadi ya suka2 yang ngomong dong. Karena kita sebagai konsumen merasa dikecewakan, misuh2 itu uda pasti. Uda bayar, tapi ga sesuai. But, ini tulisan cuy dan berupa email yang berbentuk digital dan mudah diteruskan. Bisa dijadikan bukti. So, hati2 kalo menulis OK?

Kemana harus mengadu
Harus ada suatu wadah yang tepat untuk mengadu tentang komplain ini. YLKI? Polisi? ato Media Konsumen? Surat pembaca? Konsumen harus diberikan kenyamanan dong. Hak kita sebagai konsumen dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tapi harus kemana ya? Kayaknya pemerintah kita miss untuk yang satu ini.

Kita uda ngeluarin duit gitu loh. Dan kita berharap ada imbal balik dari duit itu berupa pelayanan. Yang jelas jangan ‘diam’. Harus dilawan. Kalo mau abis2an sama RS ini, tentu saja sama dengan ‘bunuh diri’. Why? Ya, mereka punya unlimited resource (time, money, human) sedangkan kita terbatas. Harus ada mediasi yang di-fasilitasi sebuah lembaga yang kredibel sehingga si RS ini ga macam2. Dan kita juga tenang menjalani hidup. “Uda ada yang menangani komplain gw kok”.

Saya baru berurusan dengan RS baru 3x. Yang pertama ketika Iqichan lahir, dan Meutia lahir. Yang ketiga, Iqichan kena DB. Sampe sekarang, istri saya masih yakin ketika itu Iqichan hanya flu biasa. Sedangkan saya yakin dengan putusan dokternya. Alhamdulillah, saya tidak ada masalah waktu itu.

Anda bisa baca kisah lengkapnya di: http://ibuprita.suatuhari.com/