Tags

, , ,


Seminggu yang lalu, saya diminta istri meneman belanja bahan kue di jalan Duyung, Jodoh. Selama setengah jam, muter2 di dalam toko kue, Bogasari, dan karena bosen akhirnya saya keluar ke parkiran. Saya melihat suatu bangunan yang modelnya lain daripada yang lain. Sebenarnya sudah sering lihat sewaktu jalan pulang ato mau ke DC mall.

Pasar Induk Jodoh [1° 8’50.51″N – 104° 0’10.21″E]
Saya sendiri pencinta Arsitektur. Saya kagum juga dengan bangunan model Kolonial yang diniatkan menjadi pusat ekonomi pulau Batam. Selesai dibangun di tahun 2004 dengan biaya Pemko Batam dan Otorita hingga mencapai 90 Milyar ! Sebuah investasi tidak main2 tentunya. Saya sendiri berpendapat, bangunan ini berpotensi menjadi salah satu landmark Batam. Kok bisa, cak? Loh, liat aja bangunan ruko dan Mall yang menjamur di Batam. Bangunan2-nya pada seragam dan tipikal. Berbentuk kotak2 dengan aksen ga jelas kiblatnya kemana. Sedangkan, bangunan pasar induk ini unik, menarik. Kalo orang bertanya, mungkin kita tinggal mengarahkan, “You know it when you see it”.

Dari segi bangunan sudah menarik. Bagaimana dengan isi pasar itu? Kan ga lucu, cuma berwisata liat pasar doang. Kalo bisa ya sekalian ada yang dibeli. Dulunya, pasar ini direncanakan adalah pindahan pasar Tanjung Uma dan Tos 3000. Bahkan ternyata ada pelabuhan di belakang pasar tersebut sebagai penunjang kegiatan bisnis. Tentu saja, ini suatu investasi yang menguntungkan. Harga barang tentunya bisa ditekan karena sudah tidak ada komponen biaya transportasi dari pelabuhan bongkar muat menuju pasar.

Sampe sekarang pasar itu masih sepi. Pengelolaannya pun pernah diserahkan ke swasta dengan harapan bisa memacu pertumbuhan. Seinget saya pun, pernah diadakan pameran untuk menarik minat pengunjung dan pedagang pasar. Belum berhasil juga. Pedagang pasar lebih suka berjualan di tepi jalan, mengganggu ketertiban jalan dan pemandangan. Padahal bangunan mahal itu juga sudah mulai lapuk dimakan waktu. Catnya terkelupas disana-sini mengurangi keindahan arsitekturnya.

Mungkin perlu ada pendekatan lain supaya bangunan ini berdaya guna. Mungkin cocoknya jadi museum kali ya… kan uda berbau kolonial… hehehe. Bisa juga menjadi ajang pameran seni. Ato, jadi tempat expo, barangkali? Ato sekolah? Kompleks perkantoran barangkali. Disewakan pada industri kecil dan menengah. Semua cara perlu dicoba untuk menyelamatkan aset pemerintah Batam. Jangan sampe bangunan mahal berarsitektur indah seperti itu cuma hancur dimakan waktu, tanpa memberikan manfaat pada masyarakat.

Ini bukan tugas pemerintah saja. Masyarakat Batam pun bisa berperan serta menyumbang ide dan kreasinya supaya bangunan ini bermanfaat. Seinget saya, dulu di Surabaya ada sayembara kreasi pasar Bratang. Jadi para pesertanya dari para calon desainer arsitektur (mahasiswa) yang masih muda, dan energik. Sehingga diharapkan desainnya bisa ‘out of the box’. Pada pak wako ato wawako, adakan sayembara saja, pak daripada dipikir sendiri. Kayak lomba batam blogger ini.