Tags

, , , ,


Mami Rizqi kasih ide ke gw minggu lalu. “Yah, kalo kehabisan ide ke Ocarina, yuk?”, sarannya. Ya, gw lagi ikutan lomba blog “Melihat Batam Melalui Blog” yang diadakan Batam Blogger Community. Gw ngambil sisi hidup Batam yang unik, pantas dilihat dan dicoba tanpa meninggalkan detil.

Ocarina sendiri sesungguhnya nama alat musik tiup yang dimodernisasi oleh Giuseppe Donati dari Italia. Biasanya terbuat dari keramik, walaupun bisa juga terbuat dari kayu, plastik ato logam. Gw kurang tau apa maksud Arsikon sebagai salah satu pengembang sukses di Batam, menamakan taman wisata ini dengan nama alat musik tiup yang konon asalnya dari negeri Cina itu. Salah satu jargon yang didengungkan adalah Ancol-nya Batam dengan mempersembahkan hiburan ala Dufan dan Giant Wheel. Kawasan wisata ini seluas 40 Hektar dan terletak di teluk Kering, berhadapan dengan International Ferry Terminal Batam Center, serta terintegrasi dengan perumahan mewah Coastarina. Diresmikan oleh Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pada Desember 2008, mega wisata Ocarina [1° 9’9.36″N; 104° 3’23.80″E] diharapkan menjadi landmark pariwisata Batam. Mungkin suatu ketika akan ada orang bilang, “Kagak ke Batam, kalo belum ke Ocarina.” Hehehe…

Sempat terjadi perdebatan sehari sebelumnya. “Katanya naik taksi enak lebih enak, mas. Soalnya masuknya jauh”, begitu kata istriku. Gw bilang, “Jauh itu relatif. Kalo dari rumah ke gerbang depan Puri Legenda, orang bilang jauh. Tapi gw bilang enggak”. Istri saya mengangguk setuju, “Yo wis lah, namanya jalan2, ya.. harus jalan”. Suatu keputusan yang keliru…
Gw dan keluarga berangkat jam 10.00 dari rumah karena katanya jam buka-nya mulai jam 10.00. Perjalanan naik motor itu, gw tempuh sekitar 10 menit dari rumah. Menyusuri jalan “tak bernama” ke arah Barat laut, sempat lewat simpang “tak terdefinisi”, terus sampe sekolah kalista, gedung BI, Mega Mall. Kemudian nyampe bundaran depan Otorita Batam terus sampe kantor pos, Home Furnishing, sampe akhirnya tembus ke jalan tanah. Kalo dari arah simpang Gelael, terus aja lewatin papan nama Regatta [1° 8’3.45″N; 104° 2’38.05″E]. Sepanjang jalan, gw berdendang naik2 ke puncak gunung, tapi pas di bagian ini gw ganti syairnya,

Kiri kanan, kulihat saja
banyak ruko tak laku hu hu..

Iya, memang banyak banget ruko sepanjang jalan dari depan papan nama regatta, sampe ke pintu gerbang Ocarina. Gw kurang tau apakah itu uda laku semua ato tidak, tapi yang jelas tidak berpenghuni. Padahal seinget gw, ruko di kawasan ini sudah dibangun sejak 3 taun lalu ketika gw baru datang ke Batam.

Gerbang Ocarina
Dari jauh sudah terlipat ornamen siput / keong yang menjadi gerbang pintu masuk kawasan ini. Karena gw sekeluarga naik motor, maka parkir ya di luar. Bah, parkirnya tidak ada atapnya. Waduh, alamat kepanasan nih Supra X kesayangan. Belum lagi semrawut juga tata parkirnya. “Kalo rame ntar ga bs keluar lo, Yah. Parkir dekat pintu keluar aja”, saran istriku. Gw ga tau berapa temperatur Batam waktu itu, yang jelas ketika tutup kepala Anggun dibuka, keringat sebiji jagung sudah menghiasi kepalanya yang gundul. Kasian anakku…

Tiket masuknya ga mahal kok. CUMA Rp. 5000 !! untuk orang dewasa dan anak2 yang berumur lebih dari 5 tahun. Jadi kita berempat cuma bayar Rp. 10000. Konon katanya bila menjadi member, bisa lebih murah lagi. Tentu saja, itu belum termasuk tiket wahana yang berbayar.

Trampolin

Wah, cuaca cerah sekali. Langit biru, dan sepertinya semua serba terang. Panas. Ah, rupanya itu yang kita tunggu2…Commuter Bus. Sepertinya berapasitas ga lebih dari 16 orang. Itu pun sudah dempet2an.  Ada halte disana. Ga ketauan juga berapa lama si bis kecil itu akan kembali lagi. Apalagi tak ada budaya antri, wah lengkaplah sudah. Budaya rimba dipake, siapa cepat dia dapat. Gw dan keluarga sudah kalah bersaing, secara kita bawa bayi 4 bulan dan anak 4 tahun yang susah diajak kompromi. Ya sudah, kita jalan aja sambil memperhatikan patung2 shio yang ada di sepanjang jalan masuk. Ada juga kampung Indonesia, ini pusat jajanan. Letaknya di pinggir pantai. Sepertinya pemandangannya bagus kalo malam melihat lampu berkelap-kelip di sekitar terminal ferry sambil menikmati sepoi2 angin pantai malam. Kalo siang? Bah…gerah !

Eh, ada wahana air loh. Menggunakan danau buatan (untuk tidak disebut kubangan besar🙂 ), gw pun iseng ngajak Rizqi yang ngambek karena ga diajak ke Mega Mall. Ah, rada adem lah. Macam2 perahu yang disewakan. Ada yang pake pedal, pake dayung, de el el. Kita cobain naik bumper boat. Bentuknya bulat seperti donat. Menggunakan mesin elektrik untuk menggerakkan kapal. Tinggal puter tombol off, maju dan mundur. Itu aja trainingnya. “Nanti kalo uda selesai, kita panggil nomer kapalnya, pak”, gitu aja saran si penjaganya. Setelah itu, kita puter2 aja di “kubangan” itu. Ah, baru inget… Ga pake Life Vest !! Wah, safetynya kurang nih, meskipun ada rescue team siaga disana. Bumper boat bisa dihargai 30 rb selama 20 menit.

Bumper Boat

Kiddie Land ~ Surganya mainan anak2
Akhirnya nyampe juga ke lokasi mainan anak2. Suasananya ceria loh dengan hiasan angka warna-warni bertebaran di berbagai tempat. Mirip taman kanak-kanak.Kiddie Land sendiri nama wahana taman bermain anak2. Masuknya cuma Rp. 5000 sepuasnya.Kalo mau fitness gratisan, kesini aja. Ngangkat badan sendiri. Putar2 badan. Hehehe…

Kiddie Land

Loncat2 di trampolin ini juga OK tuh. Kebanyakan yang main anak-anak. Gw sendiri pengen banget. Hehehe. Takutnya, tali pengamannya itu ga kuat lagi. Loncat2 di trampolin ini, Rp. 20000 selama 20 menit. Kalo punya anak kayak Rizqi yang doyan loncat2 di kasur, bawa sini aja deh. Ditanggung puas sampe kelenger… hehehe.

Kita juga bisa keliling di area wisata ini pake sepeda. Sepedanya bisa disewa di sana dengan harga Rp. 30000 selama 1 jam dengan jaminan KTP. Asik…ga capek jalan2nya.

Tiba waktunya makan. Waduh, ga bawa makanan nih. Warung2 disitu juga ga ada yang rame. Semuanya sepi. Ga enak makanannya? Engga tau ya. Soalnya, semua orang pada piknik ke sana. Bawa tikar, makanan dan dibawah pohon. Amboi…sejuk nian…🙂

Belum sempat nyobain giant wheel yang konon didatangkan dari Hongkong. Perut uda melilit-lilit. Gw dan istri sempat diskusi mau makan dimana. “Ah, di Mega Mall aja deh. Panas banget disini. Lagian warungnya pada sepi gitu. Males ah”, komentarku. Ya wis, akhirnya kita jalan aja ke parkiran lagi. Dengan terengah2, kepanasan, kehausan (alamak…rekreasi sekeluarga cuma bawa botol air 500 Ml satu biji), kita kembali ke parkiran Ocarina kembali. Besoknya, ternyata gw baru tau lewat Google Earth kalo jarak dari parkiran sepeda motor ke wisata Ocarina itu 1 KM ! Hebat betul anak beranak ini berjalan 2 KM. Rizqi yang biasanya trengginas aja menyerah kalah dan minta gendong.

Ocarina Dari Google Earth
Ocarina Dari Google Earth

Lesson Learned

  1. Di sono panas, jarang ada pohon. Bawa payung, dan air minum secukupnya. Buat yang bawa bayi, mendingan bawa kereta dorong deh, biar ga capek gendong.
  2. Bawa makan siang juga kalo perlu. Karena disono banyak orang piknik. Warung ada banyak, tapi ga laku juga. Entah enak entah enggak.
  3. Kalo bisa naik mobil. Biar ga usah jalan dari parkiran ke tempat rekreasi. Jalannya jauh, panas lagi. Commuternya ada juga sih. Tapi rebutan dan jadwalnya kurang pasti. Pada waktu pulang, ga ada satu pun bis yang lewat.

Kata istri gw, “Layak dicoba lagi. Kan belum nyobain Flying Fox !!”🙂🙂