Tags

,


Mungkin beberapa dari sampean uda melakukannya sebelum baca posting ini. Mungkin juga ada yang belum. Malahan, mungkin uda ada yang mantab untuk ber-golput baik dengan alasan administratif (ga terdaftar) ato emang pengen golput. Ga menyalurkan suara untuk partai apapun dan caleg siapapun.

Teman gw, Bambang, tidak punya hak pilih dengan alasan administratif. Ada juga pak Nurman. “Sayang ya, ga bisa milih”, kata mereka berdua. Bapak dan ibu gw juga ga bisa melaksanakan haknya sebagai warga negara karena pada saat ini sedang berada di Bandung padahal mereka terdaftar di Malang. “Prosesnya rumit banget. Mesti ke RW dulu lah, kelurahan sampe kecamatan”, katanya setengah mengeluh. Mereka antusias sekali dengan pemilu kali ini. Pengen cepat mengetahui sapa yang menang di pemilu periode ini. Apakah caleg 4L (lu lagi..lu lagi) dari partai IL2 (itu lagi…itu lagi). Ataukah ada suatu kejutan dari partai2 baru. “Apakah bakalan ada perubahan? Nasib gw berubah ga kalo nyontreng partai A ato Caleg B?”

Kalo diinget2, semua partai masih kena euforia Obama dengan “Change, we can believe in. Senator muda dari kalangan minoritas itu menjual “gw lain dari yang lain, loh” dan menantang politisi senior macam Hillary Clinton di Konvensi Partai Demokrat dan akhirnya mengalahkan John McCain di General Election. Apalagi presiden US ini juga berbau Indonesia.Hampir semua partai latah, menjual perubahan juga. “Kalo Obama jualan Berubah, Perubahan dan Mengubah, kenapa kita ga bisa“, pasti begitu pikirannya. Ini taktik marketing untuk memenangkan suara rakyat. Karena latah, hampir semua partai dan caleg menjual obama dan perubahannya. Bahkan operator seluler dan penjual obat pun jualan obama juga. Dengan harapan biar laris manis juga.

Walaupun begitu, masih lebih banyak yang pesimis bahwa perubahan itu ga akan datang. Ya wis ngono2 iku ae. Apalagi para caleg itu cuma jualan perubahan. Tapi yang diperjuangkan ya perubahan nasibnya sendiri. Dari dulunya kader partai pengen jadi anggota Dewan. Dari dulunya anggota dewan daerah, pengen jadi DPR. kota ke DPRD propinsi. Ato, dulunya pengangguran jadi punya kerjaan. Nasib kita, ya tinggal janji2 kosong saja. Ndak jelas apa yang mau dirubah. Dan kalo sudah berubah, sapa juga yang dapat keuntungan. Kira2 begitulah rangkaian grenengan teman2 gw yang pesimis.

Emang ada benernya kalo dipikir kayak gitu. Kalo diinget2 lagi, jaman reformasi (dimulai ketika gw masih kuliah nih), juga jualan perubahan. Menggulingkan status quo untuk perubahan yang lebih baik, begitu jargonnya. Question, setelah 10 tahun lebih berubahkah nasib kita? Setau gw, perubahan terjadi dimana2. Nasib gw berubah, dari mahasiwa trus lulus jadi engineer blogger. Harga minyak berubah yang mengakibatkan ekonomi global berubah. Lingkungan kita juga berubah, Lapindo dan Situ Gintung. Ya, semuanya berubah kan dengan sendirinya kan? Satu2nya yang kekal di dunia ini ya perubahan itu sendiri, kan. Pertanyaan kedua, adakah perubahan itu diusahakan oleh para caleg kita. Apa usaha mereka untuk mengatasi perubahan itu sendir

Selamat mencontreng kawan. Pilih lah sesuai hati nurani sampean. Nasib sampean ya tetap sampean yang menentukan. Ndak usa pesimis. Selama masih punya harapan bahwa memang ada orang2 baik di dunia ini. Kita semua berharap yang terbaiklah yang menang dan sanggup bekerja keras dan cerdas demi kepentingan bangsa dan negara ini.

If fear is disease, hope is only cure (Star Trek).