Tags

, , ,


Chelsea semenjak didanai Abramovich, milyarder Rusia, mendatangkan pemain2 top seantero jagad. Tercatat, Didier Drogba, Andriy Shevchenko, Michael Ballack, Joe Cole dan Michael Essien berhasil dia datangkan.Tidak lupa juga adalah prestasinya ‘menggoyah’ Ashley Cole untuk pindah dari rival sekotanya, Arsenal. Tak lupa, Jose Mourinho, pelatih FC Porto yang berhasil menjuarai Liga Champions didatangkan. Konon kabarnya, semenjak Juni 2003 sampai saat ini Abramovich telah menghabiskan dana 600 juta poundsterling ! (Wikipedia). Satu lagi yang tidak bisa dihindari adalah gaji pemain2 top ini. Menurut sahibul hikayat, total gaji pemain Chelsea FC setara dengan gaji seluruh pemain di Championship Division (divisi yang lebih rendah daripada Premier Division). Investasi itu tidak sia-sia. Chelsea berhasil menjadi juara premiership di tahun 2005 dan 2006. Plus, derajatnya naik menjadi salah satu klub Eropa yang disegani.

Milliarder Arab pun ga mau kalah. Sulaiman al-Fahim melalui Abu Dhabi United Group for Development and Investmen (ADUG) mengakuisi saham Thaksin Sinawatra untuk kepemilikan Manchester City. ADUG berhasil mencuri perhatian dunia, ketika berhasil mendatangkan Robinho dengan total nilai transfer  32,5 juta poundsterling yang mana sekaligus memecahkan rekor transfer termahal Premier League. Saking kayanya, ADUG disarankan untuk membeli pasukan The Red Devils yang memang sudah terbukti kompetitif di semua kompetisi. Semuanya dikeluarkan untuk membeli prestasi.

Sekarang kita beralih ke PAN. CMIIW, Gw kok melihat ada kemiripan dengan 2 pola diatas. Membeli merekrut kader instan, bukan membina kader2nya untuk kemudian ditempatkan menjadi caleg ato pimpinan eksekutif di negara kita. “Menurut saya ini demand and supply. Masyarakat menghendaki, fanatisme publik itu kuat. Saya merasakan itu karena saya sering ke masyarakat bersama artis. Kemudian supply itu juga otomatis, karena ada permintaan maka di situ ada penawaran,” kata Soetrisno kepada persdanetwork di Jakarta, Minggu (10/8). Yup…beliau mengakui, perekrutan artis untuk menarik simpati masyarakat Indonesia yang sinetron addict. Ujung2nya jelas, menguasai parlemen dan mengamankan jalan untuk menuju RI 1.

Gw sih bukan antipati dengan artis2 itu. Lagian fenomena artis jadi caleg juga bukan pertama kalinya. Sebelumnya uda ada Marissa Haque dan Mbak Rieke “Oneng”. Sebelumnya lagi ada Sys NS. Sebelumnya lagi ada Almarhum Sophan Sophiaan. Kalo mereka memang bisa, ya kenapa engga. Salah satu jargon yang sering diusung adalah para artis itu ga punya track politik. Sehingga ga ada istilahnya utang politik sebelum dirinya turun ke medan politik. Kemudian yang gw liat adalah, artis2 itu uda kaya dari dunia keartisannya. Kayaknya ga akan jadi calo proyek di legislatif setelah terpilih, kayak Amin Nasution cs.

Gw cuma menyayangkan satu hal aja. Mereka ini direkrut seakan2 seperti kejar setoran sebelum Pemilu. Ga ada sosialisasi yang cukup panjang sehingga orang2 awam kyk gw ini ngerti apa spesialisasinya selain main sinetron dan nyanyi. Orang awam kayak gw cuma tau, “Eh…si artis A dan B mau cerai loh. Eh…si artis C kemaren ketangkep gara2 narkoba loh” dan lain-lain. Kita pengennya denger berita, “O…si artis D ini ternyata bisa mempengaruhi massa untuk memperhatikan lingkungan karena Global Warming. Si artis E hebat, karena bisa menginspirasi generasi muda untuk anti narkoba”. Kita ga butuh orang yang cuma bisa menangis pura2 minta belas kasihan bangsa lain untuk dikasih utangan. Kita ga butuh orang2 yang bisa marah pura2 ketika kehormatan bangsa di-injak2. Kita ga butuh orang yang menangis pura2 untuk menarik simpati masyarakat  demi kepentingan politik. Kita butuh orang yang bisa meng-inspirasi, meng-gerakkan dan meng-gelorakan bangsa ini bangkit untuk sejajar dengan bangsa2 lain di dunia.

So, Pak Trisno, apakah PAN akan mirip dengan Chelsea dan City? Inget loh, pak. Manchester United punya tradisi panjang pengkaderan sebelum menjadi salah satu raksasa eropa. Jadi jangan harap, bisa jadi juara secara instan di pemilu kali ini.