Tags

, , , ,


Sependek yang gw tau, terakhir gw menggunakan hak pilih adalah di tahun 1997. Pas sebelum ujian UMPTN. Pemilu terakhir yang diselenggarakan oleh rezim Orba. Di tahun 1999, gw ga ikutan. Males aja harus pulan dari surabaya ke Malang buat sekedar nyoblos partai2 ndak jelas. Ada 48 partai waktu itu. Di tahun 2004, hehehe…gw dan istri ga tercatat sebagai pemilih tetap. KTP Malang, kerja di Surabaya, tinggal di Pasuruan. Ndak jelas ikutan yang mana. Pilkada pun tak pernah ikutan sampe saat ini.

Di Tahun ini gw bertekat untuk memilih. Dan gw punya panduannya buat sampean2 yang tahun ini mo milih untuk pertama kalinya, ato pemilih senior. Boleh setuju, boleh tidak. Namanya juga  democrazykrasi.

Track Record dan History

Kalo gw beli barang elektronik, biasanya gw  search di internet mengenai performa device tersebut. Tujuannya biar matching antara keinginan dengan barang yang ada di pasaran. Kalo nanya2 dulu ama teman, biasanya jawabannya berdasar pengalaman dia menggunakan barang tersebut. Memuaskan ato tidak. Dari situ, gw bisa ambil kesimpulan untuk memantabkan pilihan gw.

Begitu juga dengan milih partai. Device komputer yang bisa diukur performancenya berdasarkan standar2 terukur (benchmarking). Sehingga walaupun itu device buatan dunia ketiga, merk yang ga pernah kedengeran sebelumnya, penampilan ga meyakinkan, selama hasil benchmarkingnya bagus, gw berani ambil resiko untuk memakainya. Gw ga terlalu suka partai baru. Belum jelas performanya. Apa sih sesuatu yang sudah mereka kerjakan untuk komunitas? Ga kedengeran. Apa yang mereka bisa tawarkan untuk men-judge mereka adalah yang cukup baik mewakili gw? Mereka bisa menawarkan apapun. But sorry, I don’t have any reference to judge their offer whether it’s a good offer or not. NO DEAL !!

Jadi kayaknya kandidatnya adalah partai2 lama status quo, ya? Eh, belum cukup. Partai2 lama juga mesti diliat citranya. Ini era image gitu loh. Pencitraan. Jika ada partai yang keseringan muncul di media karena ada anggotanya ketangkep selingkuh, korup ato suap, perlu diwaspadai. Ato pernah ingkar janji. Bisa aja dianggap sebagai cacat produksi. Tapi inget loh, kalo sampean beli barang elektronik yang cacat produksi, yakin deh sampean bakalan nyap-nyap panjang lebar menebar black campaign. Supaya ndak ada orang lain yang ketiban sial kayak sampean dan sekaligus menyebarkan energi negatif. So, track record partai dalam menjalankan program kerjanya, dan mendisiplinkan kadernya menjadi poin penting untuk menentukan pilihan gw.

Program kerjanya

Program kerja partai itu juga perlu diliat. Apa yang mereka tawarkan buat sampean? Jika sampean adalah seorang buruh, pilih partai yang memperjuangkan nasib buruh demi kesejahteraan yang lebih baik. Jika sampean adalah seorang pelajar, pilih partai yang punya concern terhadap masalah pendidikan. Sehingga sampean gampang nerusin sekolah, murah dan mudah. Jangan sampe sampean seorang pelajar milih partai yang senengnya ngurusi petani (kecuali bapak sampean seorang petani). Ato sampean laki2 dan memilih partai pro-feminisme. Wah, bisa dilarang kawin lebih dari 2, piye? Nyesel ga tuh :d. Itu karena ndak cocok antara demand dan supply. Ibaratnya sampean membeli barang yang tidak sampean butuhkan.

Program kerja adalah salah satu poin penting yang perlu diperhatikan. Itu juga berarti kontrak politik. Sebuah quotation yang akan kita nilai dengan spesifikasi ala kita. Kelak suatu saat nanti, dia akan menjadi suatu history. Apakah sampean pernah salah memilih karena si partai ingkar janji. Ato, si partai bener2 bisa menjadi penyambung rasa, ide dan keinginan sampean sebagai warga negara.

Kapabilitas orang2 di belakangnya/Calon legislatifnya

Biar gimana juga partai juga sekedar tempat ngumpulnya orang. Orangnya sekarang kita nilai. Dia punya peran besar untuk menentukan penilaian dari 2 poin di atas. Dia yang mempunyai track record bagus, kemungkinan bakalan terpilih kembali. Malah wajib hukumnya, daripada diisi para cecurut penghisap APBN. Dia yang program kerjanya bagus, harus didukung daripada legislator yang sukanya travelling dengan nama studi banding. Ndak penting itu gelar berderet2. Ndak jelas sekolah’e nang endi. Wong gw pernah dapat tawaran ijazah PhD Harvard Unversity seharga $10 saja. Sing penting, dia ndak nipu pake ijazah palsu dan sekolah yang terakreditasi bener2. Kalo uda berani pake ijazah palsu demi lolos proses administrasi, wah…selanjutnya apalagi yang dipalsu.

Usia ga terlalu signifikan buat gw. Gw punya beberapa teman yang lebih muda dan berwawasan luas sehingga aura kebijaksanaanya melebihi usianya. Kalo uda tua trus wise, yo wajar. Wacana “saatnya yang muda yang memimpin”, gw setuju aja. Lebih baik punya banyak pilihan daripada ga ada pilihan, kan? Sepanjang memang kandidat itu memang layak dipilih karena kapasitasnya. Bukan karena turunan A, pernah sekolah di luar negeri de el el.

Track recordnya ya diliat. Kalo misalnya sekarang lagi tersangkut masalah hukum, ya ndak usah dipilih. Ntar sepanjang masa dia bingung ngurusi masalah hukumnya. Kita ndak diurusin. Kita cuma dijadikan komoditi bahwa dia punya “massa”, sehingga harus orang lain harus hati2 memperlakukannya.

Kalo dulunya ato masih aktif jadi artis, piye cak? No Comment wae lah. :p

Ya, gitu lah grenengan di subuh hari ini.