Tags

, , ,


Hari ini dapat training tentang leadership skill. Tentu saja oleh2nya tentang leadership, leadership model, leadership skill dan macam2. Mungkin saya cerita tentang ini lain kali ya. Tapi ada satu important message saya dapatkan hari ini. Nasty Email. What is that?

Mungkin susah juga menterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara pas dan singkat. Email nakal? Engga lah. Email cuma alat kok. The content on the email is the important thing to discuss than the email itself. Setuju? Mungkin secara gampangnya, isi email itu ‘menyerang’ integritas anda, ‘menghina’ kemampuan anda,  ‘meremehkan’ pendapat anda, memperolok anda sendiri dan akibatnya ‘memancing’ emosi anda. Pernah dapat kan email yang model begitu? Di milis2 banyak nih kayak gini. Dan konyolnya kebanyakan topik OOT (out of topic) yang malah memancing kerusuhan.

Pembicaranya adalah seorang Manager di perusahaan kami. 20 tahun lebih berkarir di perusahaan kami dan pernah menjadi 6 x Project Manager. Intinya, dia orang yang pernah merasakan ‘kursi panas’. Namanya manager, tentu saja tanggung jawab berat sekali. Banyak pressure disana-sini yang bisa memancing emosinya. Apalagi dia juga ngaku gampang naik darah. Suatu ketika dia cerita dapat nasty email. Emosi memuncak dan email langsung dibalasnya saat itu juga. “Stupid”, katanya. Somewhere, si penerima juga panas dan balas, “You Stupid”. Konyolnya, berbalas pantun itu masih menyertakan To:  dan Cc: List. Jadi manager yang pantasnya dihormati layaknya begawan yang weruh sakdurunge winarah, sekarang malah berbantah2an kayak anak2 disaksikan anak buah, kolega dan atasannya. Akhirnya berbalas nasty email itu berhenti setelah senior manager menengahi. Tapi apa lacur, para begawan itu uda keliatan konyolnya…

Akhirnya dia melanjutkan ceritanya. “Dulu, di saat perusahaan ini tidak memiliki email. Bahkan belum memiliki komputer, semua korespondensi dilakukan via surat. Ya, saya menulis sendiri dengan tangan saya sendiri semua surat2 itu. Setelah itu, sekretaris akan mengetiknya dan saya tinggal menandatanganinya”. Suatu ketika dia mendapat surat yang bikin panas hati. Langsung dia tulis balasan suratnya dan diberikan ke sekretarisnya. 30 menit kemudian, surat balasan itu selesai diketik. Setelah dibaca, dia tertawa. Dia ngerasa konyol banget baca kata2nya sendiri. Dia sobek kertasnya dan memilih mendatangi si pengirim surat untuk berdiskusi.

Sejak 2 peristiwa itu, dia belajar sesuatu. Hati2 dengan emosi. Adakalanya dia sengaja mendiamkan salah satu email penting hingga esok hari supaya emosinya reda. Engga berguna juga kalo ditanggapi, sementara main problemnya sendiri malah kelupaan untuk didiskusikan.

Email sendiri tidak beremosi. Ditambah emoticon pun terkadang juga masih kurang tampak auranya. Sedangkan face-to-face conversation itu memperlihatkan semuanya. Mata boleh merah, suara boleh tinggi, gebrak meja pun boleh, tapi selama kita melihat gesturenya bahwa itu bukan dirinya alias sedang latihan akting…ya sudah kita nikmati aja adegan itu. Tapi email … no. Tulisan merah dengan huruf besar itu berarti si pengirim marah besar dengan anda. Tapi yakinkah anda bahwa si pengirim email itu marah2 sama sampean? Bisa jadi ia cuma usil kayak si pengirim hoax SMS setan. Sementara sampean sudah mengasah ‘kapak perang’ untuk meladeninya. Sekali anda terperangkap, maka “point of no return” itu terlewati. Apa yang anda dan partner lontarkan akan terdokumentasi dan kemudian menjadi bukti di kemudian hari.

Moral storynya sih, jangan gampang emosi baca nasty email. Fokus di masalah sebenarnya dan berdiskusilah dengan pantas.