Tags

, ,


Buku memang benda mati. Sehingga pasti sampean mengernyitkan dahi ketika membaca judul posting ini. Coba sampean tengok deretan buku2 yang sampean punya. Gimana cara sampean mengaturnya. Berantakan tapi sampean masih bisa inget dimana buku2 itu berada. Ato teratur rapi ala Dewey Decimal System of Classification. Sistem Dewey ini biasa kita lihat di perpustakaan. Dikembangkan oleh Melville Dewey di tahun 1873 dan diterapkan pertama kalinya di Amherst College.

Musa Al-Almawi (w. 1573) menyarankan, “Buku-buku harus diatur menurut subyeknya dan buku yang paling penting harus ditempatkan dibagian paling atas. Urutan ini harus dipatuhi: Al-qur’an, Kitab Hadish Shahih, Tafsir Al-qur’an. Berikutnya adalah komentar terhadap hadis, kitab fiqih, kitab ushul al-din, ushul al-fiqh. Kemudian buku tata bahasa, puisi dan ilmu2 yang lain”.

Ibn Jamaah menambahkan, “Jika ada 2 buku yang membicarakan subyek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Al-qur’an atau hadis hendaklah ditempatkan diatas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang adalah sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan lebih atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas.

Pantangan pun ada. Musa Al-Almawi melarang buku untuk dijadikan bantal, kipas, sandaran punggung ato alasa berbaring, atau untuk membunuh lalat. Juga tidak boleh digunakan sebagai tempat menyimpan lembaran2 keras. Saya jadi bertanya2 gimana pendapat Al-Almawi jika melihat salah satu teman saya menggunakan yellow pages sebagai penahan pintu.🙂

Adanya penanda buku itu menunjukkan pembaca yang beradab. Ibn Jamaah bilang, “Untuk penanda bacaan harus dipakai selembar kertas ato yang serupa dengan itu, tetapi tidak boleh dari potongan kayu ato apa pun yang terbuat dari bahan yang keras”.

Musa Al-Almawi menulis satu bab khusus tentang adab terhadap buku dan fungsinya dalam menyebarkan pengetahuan dalam bukunya, Mu’id fi Adab Al-Mufid wa Al-Mustafid. 300 tahun sebelumnya Ibn Jamaah menulis dengan tema yang sama dengan judul Tadzkirah Al-Sami wa Al-Mutakalim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim.

Ditulis ulang dengan bahasa sendiri. Dikutip dari Elegi Gutenberg-Putut Widjanarko.