Tags

, ,


Ceritanya sekitar 11 taun yg lalu (wih,uda lama sekali ya..). Saat saya masih kuliah semester 2 dan tinggal di asrama. Asramanya gede juga tuh. 400 org cowo dan 100 org cewe. Hampir semua jurusan punya wakil disana. Bener2 Bhineka Tunggal Ika. Sobat saya yg bernama Rio, seorang calon arsitek, diketahui jatuh sakit. Bahkan pingsan. Sebagai sesama anak kos, kita juga ikut prihatin karenanya. Setelah dibawa ke klinik, diketahui sakit gejala tipus dan harus istirahat total. Teman sekamarnya bilang,”Wah, kasian mas. Tugas uda diburu2. Dikebut terus sampe lembur. Eh, sekarang malah sakit. Dia uda hampir seminggu ga enak makan minum dan tidur”.

Saya sendiri punya dugaan sobat saya ini bukan sekedar capek. Tapi juga suntuk. Asrama tempat saya tinggal dulu itu, pemandangannya ndak ada bagus2nya. Cuma rumput ilalang dan rawa2. Uda gitu, dia juga jarang keluar kamar hanya untuk kejar progress. Suntuk kan? Makanya beberapa hari kemudian, saya ajak dia jalan ke Galaxy Mall. Karena masih kantong mahasiswa, makanya cuma jalan2 muter2 mall. Cuci mata aja (you know lah… 2 bujangan cowok…hehehe). Sepulangnya dari mall, dia say thank you. “Thanks uda ajak gw jalan. Gw emang suntuk banget. Sekarang gw jadi lebih baik”. Ndak sampe seminggu dari sejak dia divonis sakit, dia uda kembali ke meja gambar keparatnya. Seingat saya sih, dia akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu.

Konon, sakit adalah suatu alarm alami dari tubuh yang minta istirahat. Tubuh itu mengalami kelelahan akibat fatigue dan sirkulasi peredaran darah terganggu. Kita ini manusia bukan mesin loh, yang meskipun masih batuk2 masih bisa dipaksa kerja dengan efisiensi rendah dan beresiko  mogok pula. Mesin mogok, bisa dicari apa masalahnya. Kemudian tinggal ganti oli ato suku cadang. Kalo mau cepat, tinggal order mesin baru. Money can buy machine. But, how if you get sick? Misalnya sakit kepala, sampean mau diganti kepalanya? 🙂

“Bersyukurlah karena masih bisa sakit. Karena itu menunjukkan bahwa sampean masih bisa sehat. Supaya sampean mensyukuri bahwa sehat itu juga nikmat. Bukankah kenikmatan terasa nikmatnya ketika kenikmatan itu dicabut”, begitu kata teman (lupa sapa namanya) berfilsafat. Ada benarnya kan?

Begitu juga jiwa yang lelah. Teman saya suka meriang2 menjelang eksekusi pengangkatan. Jantung deg2an. Stress. Jiwanya tertekan karena hari itulah nasib kerja kerasnya selama 6 bulan dinilai. Be hero or zero. Anehnya, begitu selesai eksekusi dan sukses, dia adalah manusia paling bahagia. Senyum2 sana sini. Jiwanya yang tertekan, bukan? Walaupun sebelumnya meriang2, toh akhirnya sehat2 saja setelah bebannya terambil.

Kalo suntuk ya, carilah kegiatan yang mencerahkan jiwa. Kalo saya, baca buku inspiring story itu bisa membahagiakan jiwa, mengobarkan semangat bahkan menimbulkan simpati. Bahwa sampean termasuk orang yang beruntung. Ya, apapun lah. Ikut pengajian, rekreasi ato sekedar chatting ama teman lama. Saya ndak menyarankan yang melanggar hukum loh ya…

Moral storynya sih, kalo sakit ya ga usah aneh2. Istirahat aja dulu. Mungkin badannya ga papa sih, tapi jiwanya minta ditenangkan. Saya bukan dokter loh, tapi ini beneran pengalaman saya.