Tags

, , , ,


Andrea merilis buku terakhir pelengkap tetralogi Laskar Pelangi. Dikisahkan, Ikal telah selesai menempuh pendidikannya di Eropa. Ada paparan mengenai romantika sidang tesisnya, dan komparasi pesta perpisahan dengan koleganya. Komparasi ini adalah formula yang selalu diulang sejak novel pertama. Andrea sukses dengan narasi ini. Mentertawai diri, dan bangsa lain. Dibawakan secara cerdas, makanya tidak membosankan. Juga, Ikal bertemu dengan kawan2 sekolahnya dulu, Laskar Pelangi. Mahar yang tetap “sesat” dan Si jenius, Lintang. Formula Penyakit Gila nomer sekian pun masih bikin aku ngakak sampe berlinang air mata. Kocak betul. Entah setan mana yang membisiki Andrea sehingga menemukan karakter manusia yang unik. Sering kita ga nyadar bahwa kita ini juga penderita2 penyakit ‘gila’ itu.

Kisahnya dibagi dalam mozaik-mozaik. Setiap mozaik akan menuntun kita pada cerita utamanya. Sebuah petualangan cinta yang dahsyat. Bumbunya, sekali lagi, ensiklopedi budaya Pulau belitong. Komparasi budaya Melayu, Sawang, dan Ho pho. Andrea akan menjelaskan secara gamblang – dengan bahasa rumit, indah tapi mudah dimengerti – latar belakang masing2 suku penghuni pulau penghasil timah tersebut. Ledakannya masih terasa di beberapa bagian. Dalam satu mozaik, dikisahkan tentang 3 orang pendatang baru di Pulau Belitong. Mereka bertiga, ditambah Ikal, duduk berdampingan dalam satu bis menuju kampungnya. Untuk menghargai tamunya, Bang Zaitun sang sopir memutar lagu yang mengena di hati masing2 tamunya. Mengena karena sesuai dengan kondisi. Tamu pertama, seorang akuntan muda yang baru pertama kali ke Belitong. Takjub dengan pemandangannya, Englishman in New York nya Sting untuk dirinya. Tamu kedua, seorang calon dokter yang melamar pujaan hati. Dia dianugrahi Always, Atlantic Star. Ketiga, seorang bapak pensiunan BUMN. My Way-nya Frank Sinatra untuknya. Tiga lagu berkelas dunia, kawan. Coba tebak apa yang cocok untuk seorang Ikal, Master Ekonomi Telekomunikasi Sorbonne, perambah Eropa hingga Afrika. Mending baca sendiri, deh. Aku ga mau ngerusak kejutannya.

Kisah2 dalam Novel ini pun unik2. Ajaib, kata istriku. Tak pernah dalam seumur hidupnya dia membaca peristiwa pencabutan gigi nan megah membahana. Nama tokoh dalam cerita ini pun tak susah2 dibikin Andrea. Tinggal lekatkan nama dan kata sifat (ato bersifat menerangkan karakter tokoh tersebut. Sebutlah Muas Petang 30, karena kulitnya segelap malam bulan 30. Rustam Simpan Pinjam karena bekerja sebagai karyawan koperasi simpan pinjam. Dan banyak lagi, bahkan dari situ sampean ngerti kenapa novel ini dinamai Maryamah Karpov. Sehingga sampean mudah mengingat peranan / menebak karakter orang tersebut dalam kisah ini.

Dalam mengisahkan legenda Lanun, digambarkan Ikal membaca referensi kuno tentang kerajaan Melayu kuno. Diantaranya, kitab-kitab kuno yang dibaca di perpustakaan Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Kemudian, Moestika Semenanjoeng. Aku curiga bahwa jika buku itu benar adanya, Andrea sedang menyisipkan referensi2 imajinasinya. Bener2 karya Ilmiah kebudayaan yang tersamar. Genre Cultural Literary Non Fiction – Karya sastra dengan pendekatan Budaya, yang diberikan Gangsar Sukrisno, CEO Bentang pas disandang. Memang begitulah adanya.

Pembuatan kapal? Kalo membaca buat sampean adalah hiburan, dan Fisika adalah horor/kusta yang mesti dihindari, lewati saja bagian Lintang dan Ikal berdiskusi tentang hidrodinamika. Ga akan berkurang kenikmatannya,kok.

Ga terlalu inspiratif dibanding novel pertama yang bicara perjuangan meraih pendidikan. Aku memakluminya karena Maryamah karpov bicara tentang keajaiban budaya melayu, keteguhan dalam meraih impian dan perjuangan cinta. Ngelantur2 dikit. Namanya juga orang mabuk cinta🙂 .  Endingnya rada ***********.  Skala 3/5 deh untuk dia. Walaupun begitu, masih patut ditunggu dongeng ajaib Andrea selanjutnya tentang budaya Melayu (atau apapun) karena pasti ajaib bin ilmiah. Sukses buat anda, Bang Andrea.