Tags


Teman kuliah saya dulu suka sewot kalo saya kasih ucapan “Selamat Ulang Tahun”. Saya bisa memaklumi jika sewotnya karena saya minta traktiran. Tapi ini sekedar tanda perekat persahabatan bahwa saya ngerti kapan dia hadir di dunia. Ucapan “Happy New Year” pun juga tak pernah kulontarkan. Saya paham dia pasti hanya akan diam demi menjunjung nama baik persahabatan. Dulu, saya ga paham kenapa dia begitu. Tidak berani nanya karena sungkan dan malas dicemberutin karena ngeributin hal remeh (buat dia, tapi tidak buat saya).

Pak Dolar (sebut saja begitu), Supervisor lapangan yang galak bukan kepalang jika sudah diskusi menyebut2 tanggal. Buat beliau, tanggal berarti target progress lapangan. Dia pengen kerja tenang, pulang tepat waktu dan dapat bonus di akhir bulan. Dia juga mengangankan anak buahnya kerja dengan tenang, tidak terburu2 sehingga quality nya terjaga. “Percaya padaku, pasti selesai”, dia sesumbar. Jika saja semudah itu, karena di proyek semua serba terencana. Setiap pekerjaan berarti harus ada target date mulai (start) dan selesai (finish). Berapa effort yang dibutuhkan dan yang paling penting adalah, mampu ato tidak untuk diselesaikan. Makanya dia jadi sewot kalo perkara tanggal. Karena itu mengingatkan dia supaya berhitung produktivitas kerja dirinya dan tim. Harus lebih cepat, dan kualitas terpenuhi. Beliau harus mencari pola dalam gudang “lesson learned” dari masa lalunya, kemudian memprediksi masalah sekaligus solusinya, menyiapkan action plan sekaligus menggodok selusin strategi biar tidak ditindas atas nama “productivity”. Anda bisa paham kenapa dia senewen kayak orang ambeien pengen duduk. Otak tua-nya terlalu payah untuk diputer dan dibakar (biar encer).

Saya jadi ingat kelakuan “tak senonoh” kawan saya yang saya tulis diatas. Mungkin dia jadi marah kalo diingatkan umurnya. Itu berarti mengingatkan dirinya pada beberapa cita2nya yang belum tersampai . Mungkin saya bicara tidak pada waktu yang tepat. Pas dia lagi ingat harapan2nya belum tercapai ato malah ada yang tidak kesampaian. Pas dia juga sedang pening bukan buatan memikirkan rencana2 masa depannya. Mungkin juga dia sedang panik karena waktunya pendek (toh, tak ada yang tau kapan kontrak kehidupan itu habis kan).

Kita menjalani kontrak kehidupan. Masalahnya kita ini ga tau kapan kontrak berakhir. Tau2 habis aja. Apa yang kita bangun selama menjalani kontrak kehidupan itu? Berbagai milestone yang maha hebat? Ato cuma kerikil remeh temeh yang sepele? Tahun baru, tidak selalu bermakna era baru. Karena era baru akan bermakna pemikiran2 baru, harapan baru, rencana baru dan yang penting action plan untuk mengisi kontrak kehidupan. Apa gunanya anda bikin rencana tapi ga ada gairah untuk mencapai? Ah, itu namanya cuma mimpi. Itulah yang dikerjakan teman saya yang memilih sebagai pemberani. Berani berencana dan berani menggapai. Dan itu pula yang dibenci p’ Dolar. Berharap hidup tenang2 saja. Sengaja melupa bahwa ada target yang bakalan ditagih pada waktunya.

Ex-bos saya (keparat tua tapi saya meyakini pelajaran kehidupannya) pernah berucap, “Berani menulis rencana itu berarti kamu uda tau kemana kamu pergi. Trus kamu ngerti apa yang diperlukan supaya nyampe tujuan. Last but not least, membuat rencana itu mudah. Tapi menuliskan dan menjalankannya, cuma seorang pemberani yang bisa”.

Karena hari ini hari Rebo, maka Selamat Hari Kemis untuk anda yang lebih suka berhura2, meluapkan gairah sampe lupa bahwa hidup ini terlalu singkat. Sedangkan para pemberani sibuk membuat rencana, belajar memaknai hidup ini supaya hidupnya, lingkungannya bahkan dunia menjadi lebih baik. Sodaraku, jika anda memang punya resolusi tahun 2009, saya ucapkan selamat Tahun Baru 2009.