Tags


Mo belajar bicara dalam bahasa Inggris, Indo ato apapun lah, enaknya dimulai dari struktur bahasa (grammar), ato pengucapan, ato keberanian dulu? Loh kok…keberanian?

Ini lesson learned teman sih. Beliau ini menguasai grammar bahasa Inggris dengan baik dan benar. Pokoknya pengetahuan si Bapak ini top abis lah. Saya belajar banyak dari dia. Sayangnya, dia ini kalo bicara jadi gagap. Ga lancar gitu loh. Beda dengan ketika bicara bahasa ibunya, bahasa Jawa, Sunda dan Indonesia…wah…lancar banget. Saya tanya kenapa, dia jawab.”Entahlah… kayaknya dalam sepersekian detik otakku harus mikir dan trial & error penggunaan kata2 yang tepat dan cara nyusun kalimatnya secara bener”. Mungkin ini kelemahan masing2 orang dan ga bisa digeneralisir

Dari pengalaman diatas, dia nyaranin, “Belajar bicara itu harusnya kayak bayi kali. Kan ga perlu diajarin membedakan kata benda, kata kerja dan kata sifat. Juga ga terpaku pola kalimat SPOK (Subyek – Predikat – Obyek – Keterangan). Kalo mo ngomong, ya…ngomong aja. Ga usa takut salah. Ntar kan diajarin ngomong yang baik dan bener sama ortunya. Misalnya si anak bilang, “Ayah kerja berangkat itu”. Nanti maminya mengkoreksi dengan lemah lembut, “Ayah berangkat kerja”. Toh…akhirnya kita bisa nyusun kalimat yang bener dan dipahami, kan?”

Ada benernya juga sih. Saya yakin Maminya ga akan bilang, “Nak, salah struktur kalimatnya. Ayah adalah kata benda, Berangkat adalah kata kerja. Yang benar adalah bekerja bukan kerja yang mana adalah kata keterangan. Menurut aturan, harusnya Subyek duluan disusul Predikat yang kata kerja baru kemudian kata keterangan. Sehingga kalimat yang benar adalah Ayah berangkat bekerja”. Bisa anda bayangin reaksi seorang anak 3 tahun yang baru belajar bahasa ketika mendengar koreksi itu. Reaksinya sama aja dengan orang dewasa yang lagi belajar bahasa asing dan dikoreksi oleh temannya. Langsung diam dan ga ngerti apa maksudnya omongan barusan.

Apa yang dilakukan oleh 2 tipe orang ini kemudian …
Si anak tetap yang tetap cuek.
Dia tetap mengulangi kesalahan yang sama (dan ga bosen2nya si mami mengingatkan) sampe dia menyerap bahasa di sekitarnya dan belajar bahwa kalimat yang dia gunakan itu ga lumrah. Kemudian secara tidak sadar akan menggunakan kalimat2 yang lumrah digunakan. Tidak takut salah, dan tetap semangat untuk belajar kosakata baru.
Si orang dewasa yang takut salah.
Karena takut dikritik, dan takut salah, akhirnya tidak digunakan. Takut berbicara alias kurang praktek. Akibatnya, tidak bisa mengukur kemampuannya. Akhirnya skillnya tidak berkembang. Yang rugi dia sendiri dong.

Dari sisi komentator, ada sebuah ke-“tidakadil”-an disini, yang menjadi salah satu pangkal penyebab kejadian diatas.
Orang dewasa ngelihat anak yang baru belajar bicara, “Hahaha (saking lucunya) salah, Dik… Yang benar kayak gini…(diajarin sampe bener)”
Orang dewasa ngelihat orang dewasa yang belajar bicara, “Hahaha (dengan nada ga enak)…Salah tuh… Lu ga malu salah kayak gitu”

Moral storynya sih, selama anda pake bahasa asing itu buat komunikasi saja (dimana saling pengertian itu lebih menonjol daripada tata bahasa), sepertinya grammar itu ga penting. Gw suka heran aja, orang mo belajar percakapan itu malah belajar structure kalimat dulu. Bukan kalimat2 sederhana yang bisa dipraktekkan dalam daily activity.