Tags

, , ,


Selama gw cuti ini, infotainment jadi menu menarik untuk diamati juga. Biasanya pagi2 uda di depan BAT03509 dengan MS outlook terbuka, sekarang sarapan pagi sambil nonton TV. Apalagi kasus yang sedang heboh ini melibatkan salah satu artis favorit saya, Marcella Zalianty. Boleh dibilang si doi dan konco-konconya lagi ketiban apes lah. Dibantai ama infotainment alias judge by the press karena lebih condong meng-ekspose Marcella daripada sebabnya. Soal kasusnya sendiri, pemahaman gw sendiri dari berita2, Agung Setiawan punya hutang (ato wanprestasi terhadap kontrak kerjasama antara dia dengan si artis). Mungkin jengkel ato gimana…mungkin jadi keterusan “guyon” nya… Baca aja disini, cerita lengkapnya disini ato sini. Posting ini ga akan ngebahas lebih detil tentang itu. Gw mo ngebahas tentang infotainment Indonesia yang keterlaluan (menurut gw).

Sebelum masalah Marcella mencuat, gw masih inget ada salah satu seleb yang jadi bulan2an juga. Tuh, vokalisnya The Titans. Lagi digugat cerai istrinya karena ga berikan nafkah, selain si vokalis ini juga suka ama cewe lain. Foto-foto mesra dengan cewe (yang diduga) selingkuhannya digelar d TV.Frekuensi penayangannya mengingatkan gw pada penyiaran foto2 teroris Dr. Azahari CS. Bahkan (yang lebih konyol) si istri malah keterusan dengan mengatakan bahwa dia ketularan PMS dari si vokalis. Lah…trus opo pentingnya gitu buat gw? Ini masalah rumah tangga. Ngapain dibeber di TV kelas nasional? Tidak mengancam stabilitas negara kan?

Masih inget dengan perseteruan Kiky Fatmala dengan ibunya? Ibunya nyumpah2 anaknya di depan TV. Infotainment sih asik2 aja ngeliput. “Mayan, ada berita hot tanpa diundang…”, mungkin gitu pikirnya. Gw pikir ini salah satu berita ga penting yang di-ekspos berlebihan. “Orang gila”, kata teman saya. “Yang gila yang mana, kang?”, tanya gw polos. “Dua-duanya.”, jawab dia ketus. “Yang bikin acara dan yang mau nonton.”, sambungnya begitu ngelihat gelagat gw yang mo nanya lagi. Gw pikir ada benarnya. Apa sih untungnya ngeliat orang bertengkar? Orang bijak bilang, “Kalo pengen wangi, dekati penjual minyak wangi. Supaya tau caranya pake parfum, ato malah kebagian parfum gratis”. Tayangan itu menebar hawa negatif. Bikin cemas dan paranoia. Sampean bisa gampang marah kalo di sekitar anda tensinya pada tinggi. Lingkungan diliputi energi negatif yang pengen menyerang, menghancurkan dan menjatuhkan. Pilihan di tangan sampean, mo pilih berada di lingkungan positif ato negatif?

Coba sampean pikir, berapa jam dalam sehari acara infotainment itu ditayangkan? Dalam satu hari bisa ada 3 acara dengan masing2 durasi minimal 30 menit dalam satu stasiun TV. Belum termasuk berita pagi, siang dan sore. Talkshow membahas kelakuan para artis yang menyimpang. Ada acara khusus yang meng-highlight masalah artis2 yang terlibat kekerasan. Gw pikir, kok kita ini kayak di-doktrin “Artis adalah alkohol, narkoba, ganti pacar, kekerasan dan kawin cerai.”. Salahkah pemikiran gw? Dengan intensitas tinggi seperti itu, demi berita HOT SUPER GA PENTING, malah mewawancarai orang di saat yang salah (contohnya mewawancarai Olivia yang prihatin, trying so hard to defend her sister, buntutnya malah di-somasi ama pengacara Agung), bisa jadi mewawancarai orang yang salah (Roy Suryo malah ngebeberin bukti di depan umum). Membuat masalah simpel jadi lebih ribet (di Indonesia, kasus main hakim sendiri banyak banget, ngapain yang ini jadi lebih spesial) dan lebih heboh daripada masalah petani kekurangan pupuk dan langkanya LPG.

Gw coba bandingkan masalah ME dan YZ di Indonesia dan skandal Altantuya di Malaysia yang kebetulan terjadi di saat yang hampir bersamaan beberapa waktu yang lalu. Infotainment Indonesia memblow-up skandal nasional gede2an. Karena dilakukan oleh anggota Dewan, acara berita nasional pun ikutan ngebahas. Ga ketinggalan, acara talkshow. Skandal Altantuya (yang melibatkan salah satu petinggi partai terkuat Malaysia) cuma di bahas di berita nasional. Cukup. Ga ada infotainment di Malaysia. Singapore? Ah, negara ini terlalu kecil. Satu2nya infotainment yang ada adalah Entertaiment Tonight yang ngebahas artis Hollywood. Artis lokal yang bermasalah cuma masuk berita lokal. Diberitakan lagi diperiksa ama polisi. Titik. Ga lebih dari 1 menit. Ntar baru muncul lagi ketika kasusnya uda di pengadilan.

Gw cuma bilang, kadar ghibah di Indonesia ini uda terlalu parah. Pers kebablasan. Ruang privat para artis itu dijamah dan dicampakkan ke ruang publik. Gw tau, seleb meraih popularitas juga lewat media. Dan media memenangkan rating lewat seleb juga. Simbiosis mutualismus. But, pilih berita yang layak konsumsi dong, misalnya perkawinan, punya anak. Lebih penting malah prestasinya sebagai artis, seperti rilis album ato film baru. Masalah rumah tangga orang itu bukan konsumsi publik. Gw juga pernah liat dalam satu diskusi si empunya infotainment bilang bahwa ada orang2 yang memanfaatkan infotainment ini menjadi sarana menuntut seleb. Si oknum berharap ada tekanan publik secara moral terhadap kasus tersebut. Infotainment dapat berita, si oknum dapat berkah karena si seleb jatuh. Tapi ga bikin harga BBM naik kan? Ga bikin inflasi melonjak sampe dobel digit kan? Apa untungnya buat masyarakat, kecuali mengetahui borok pribadi seharusnya ditutupi.

Gw tau uda banyak yang mengeluhkan ini. Banyak diskusi di dunia maya yang sudah tergelar. Tak banyak perubahan yang bisa terjadi. Karena memutus infotainment juga harus memutus konsumennya. Konsumen duluan ato Infotainment duluan? Jawabannya mirip pertanyaan duluan mana ayam dengan telor. Susah mo jawab ini. Gw yakin masyarakat uda ngerti kalo ini acara hiburan macam sinetron. Tidak membawa implikasi apapun kecuali perasaan up-to-date dan terhibur. Gimana bangsa ini mo maju kalo didoktrin kayak gini? Emang ga bisa bikin acara sehebat Oprah? Banyak loh acara2 dokumentasi di TV Indonesia yang lebih bagus dari negara tetangga, contohnya Wisata Kuliner-nya P’ Bondan Maknyus itu lebih OK daripada Lost and Foundnya Gurmit Singh. Akting2 artis Sitcom OB itu lebih hidup daripada sitcom2 apa pun di Singapore. Malaysia pun meng-impor sinetron Indonesia. Hanya sayangnya, negaraku ini masih payah soal infotainment. Terlalu banyak, Ga penting dan Kebablasan.