Tags

, , ,


Nama anak. Orang dulu kayaknya simpel aja kasih nama anaknya. Biasanya dikaitkan dengan momen tertentu. Misalnya lahir di hari Kamis Wage, bisa saja dinamai Kemis ato Wage. Ato, pas terjadi bencana, bisa dinamai Ribut ato Tsunami. Okay, itu masih dimaklumi. Yang saya ga habis pkir itu kalo ada seseorang yang namanya Cikrak (ini tempat sampah) ato Bejat (Rusak kelakuannya). Ortunya waktu itu mikirnya gimana ya?

Memilih nama anak adalah proses yang emosional.Nama anak sangat-sangat spesial karena akan disandang seumur hidup. Oleh karenanya jangan terburu-buru. Bisa musyawarah dulu dengan keluarga. Banyak masukan malah bagus, walaupun beberapa situasi malah membuat jadi bingung karena kebanyakan pilihan. Pilih yang sesuai hati nurani. Ketika saya menggendong Rizqi pertama kali, waktu itu jam 11 malam, dia tersenyum pada saya dan mertua. Mertua saya nyeletuk, “Bayinya menyenangkan”. Detik itu juga saya ngerti, saya kasih nama tengahnya si Farhan (penggembira) daripada Zaidan (mirip dengan atlet sepak bola perancis, Zinedine Zidane).

Namanya juga mengkreasi, berproses dari tidak ada menjadi ada. makanya jadi susah buat sebagian calon orang tua. Jika harus mengkombinasi dari nama-nama yang sudah ada pun, sering mereka kepayahan. Kombinasi itu jadi terlalu sederhana, kalo malah tidak terlalu rumit. Dalam prinsip masyarakat jawa, salah satu rambu-rambu yang mesti diperhatikan adalah “Jangan kasih nama yang terlalu berat. Entar kasian anaknya”. Seberapa berat? Entah, selama ini belum ada satuan yang bisa mengukur kadar berat sebuah nama.

Seorang teman juga sangat kreatif. Memenggal nama dirinya dan suami kemudian digabungkan nama si anak. Namanya terdengar mirip dengan salah satu kota suci umat muslim, Medinah. Simpel dan spesial. Paling kaget mendengar nama, Anakku Lelaki Hoed. Minimalis, netral, sudah tertebak oleh sebab itu (sorry) dangkal.

Teriakkan nama si kecil, layaknya memanggilnya pulang di kala senja. Bisikkan namanya penuh kemesraan seperti menenangkannya. Coba ucapkan nama itu kayak sedang berbicara. Ketiga aktivitas dasar diatas bakalan sering dilakukan antara orang tua dan anaknya. Kalo ga lolos “tes lapangan”, ya jangan dipaksakan dong. Kemudian masalah ejaan juga. Kira2 nama tersebut bikin keseleo lidah ga? Terutama yang pengen menggunakan nama western. Seorang rekan bernama Enjel. Saya yakin si bapak/ibu, pengen teman saya yang lembut ini jadi seorang Angel (En: malaikat). Saya menduga sang pemberi menghindari menulis namanya Angel (Jw: Sulit, susah).

Nama sebaiknya juga jangan terlalu panjang. Tiga suku kayaknya cukup deh. Entar kalo ujian, si anak uda kalah start karena nulis kepanjangan. Nama yang terlalu panjang juga berpotensi disingkat ama si anaknya sendiri ketika dituliskan dalam paperworknya, seperti kertas ujian. Kalo bisa sih berirama antara nama pertama, tengah dan belakang.  Nama panggilan bisa diambil dari nama pertama ato nama tengah. Jarang sekali yang menggunakan nama belakang, karena biasanya nama belakang adalah nama keluarga. Nama kecil biasanya melekat jadi panggilan sampe dewasa. Contohnya, sinchan (si kecil sinosuke, dalam budaya Jepang), ato Ruudtje (Si kecil Ruud, dalam bahasa Belanda), teman saya, Salsabila, yang dipanggil Lala.  Istri saya menyukai memanggil nama anaknya dengan nama aslinya yang enggak dimodifikasi. Alasannya biar do’anya manjur.

Nama juga identitas gendernya juga. Udah kebiasaan mendarah daging, kita akan menduga gender seseorang blum pernah kita temui dari namanya. Makanya, jangan pernah memberi nama maskulin pada anak yang feminin. Begitu pula sebaliknya. Saya pernah dibuat bingung karena harus ketemu dengan bu Alex pada satu sesi wawancara. Bu Alex, istri dari pak Alex? Bukan, ternyata dia bernama Alexandra.

Nama selebritis pun bagus-bagus loh. Terutama nama bekennya. Selebritis di-idolakan karena perannya bak malaikat di panggung. Di-ekspos citra positifnya. Tapi inget, mereka adalah manusia biasa juga. Mereka bisa apes, ato juga bertindak di luar batas norma dan etika sosial. Anda hidup di Indonesia, bukan? Terpapar 2-3 jam acara infotainment setiap hari kan? Percayalah, masa depan adalah misteri. Bisa jadi bintang film A adalah aktris muda berbakat dan jauh dari gosip. Sapa tau, 10, 20 tahun lagi si selebritis alim lagi apes ketauan nyandu, kemudian jadi bulan2an. Jika kebetulan si anak mempunyai nama yang sama, opo ga stress? Karena umumnya lebih suka memberi stigma, entah dengan maksud serius ato bercanda, pada si empunya nama. Seyogyanya nama bermakna positif. Oleh sebab itu, rekan saya lebih suka memberi nama anaknya dengan nama tokoh2 yang sudah terkenal zuhud dan terpelihara perbuatannya. Misalnya nama-nama nabi, imam, orang2 suci dan pahlawan. Seorang rekan menamai anaknya Yahya Ayyaz (Pahlawa Palestina bergelar The Engineer ato Al-Muhandis) karena sang ayah juga seorang engineer.

Karena nama adalah juga doa dan harapan orang tuanya. Karena, “Sesungguhnya kalian kelak pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama ayah-ayah kalian, maka perindahlah nama kalian. (HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Darda)”. Sabda rasul menyiratkan ada keterikatan antara nama anak dan ayahnya. nama anak yang baik, menyiratkan sang pemberi adalah seorang kreator hebat. menciptakan sesuatu yang adiluhung untuk makhluk Allah yang begitu suci dan murni. Buat sang penyandang, nama itu adalah hadiah. Dijaga esensinya, kekuatan maksudnya, dan dipamerkan pada sang khalayak ramai. “Hello, world. This is me, Fulan bin Fulan”, lantang si penyandang sambil tersenyum penuh aura positif.