Tags

, ,


Cuti itu hak karyawan. Gak bisa diganggu gugat. Bahkan ditempat kami bekerja, jika ketahuan jatah cutinya masih lebih dari 15 hari per 25 Desember, maka management memperingatkan karyawan untuk segera cuti. Maka, pengaturan cuti (kapan mo mengambil cuti, ato giliran siapa) itu menjadi subyek penting. Kita bernegosiasi antara teman satu tim karena dalam satu tim, kalo bisa jangan cuti bersama…bisa berabe. Juga, minta ijin pada supervisor masing2. Jika punya tanggungan kerjaan, agak susah dikasi cuti ama bos. Durasinya sih macam2. Tapi rata-rata, pengen bisa cuti panjang di hari lebaran.

Di tempat kerja kami, ada suatu prasangka / rahasia umum yang susah disangkal. Contohnya gini..
Cuti setengah hari (ato minta ijin keluar kantor) dengan alasan ke bengkel. Ini berarti si empunya cuti lagi interview di dekat kantor. Prasangka ini timbul karena ada salah seorang teman yang pamit mo ke bengkel, eh…malah ketemu dengan bos departemen lain yang kebetulan sama2 nunggu giliran interview di hotel dekat kantor. Sejak itu, setiap ada orang yang pake alasan ke “bengkel (nasib)”, selalu dicurigai.
Cuti sehari. Jika diambil di hari sabtu (di tempat kami 6 hari kerja) ato hari senin, berarti si empunya cuti untuk interview di Jakarta ato Singapore.
Cuti sehari. Jika diambil di selain sabtu dan senin, berarti si empunya cuti untuk interview di Batam. Dua hal di atas, ketauan karena beberapa teman ternyata apply di perusahaan yang sama. Akhirnya jadi tau sama tau deh.
Kalo cuti 3 hari, bisa dipastikan interview ke Jakarta, ato tempat lain. Hari pertama dan ketiga digunakan untuk perjalanan. Pas kan…
– Kalo seminggu ato lebih (hingga sebulan), wah…ini berarti memang pengen cuti untuk seneng2. Apalagi kalo keluarga tinggal di luar Batam, itu kesempatan untuk kangen2an. Ga perlu dipolitisasi seperti diatas.

“Kalo cuti karena Urgent Matter ato Emergency gimana, cak?”
“Biasanya cuti dengan kategori itu itu, si empunya cuti bicara tegas dan serius. Jika ditanya lebih detil pun bisa dijawab dengan baik dan logis.”

Dulu, orang masih malu2 jika mo pamit sehari, teman2 pada ngledekin, “mo interview lu, ya…”, biasanya muka merah dan sibuk bikin alasan lain. Yang pengen istirahat lah, mo ke bengkel lah, ato sebagainya. Pokoknya aneh2, sehingga susah dikonfirmasi lebih detil. Tapi sekarang, kalo diledekin, si empunya cuti tersenyum, sambil berbisik ,”Wish me luck, ok?”

Gimana di tempat sampean? Apakah ada prasangka yang sama?🙂