Tags

,


Siaga. Bu Dina kirim “email siaga” ke seluruh teman2 kantor. Ini bukan hoax, beritanya dikutip dari sini, tentang suplai air bersih bakal terhenti mulai hari selasa. Ini “Resource Crisis” kedua yang kualami setelah listrik byar pet setiap hari selama 6 jam beberapa waktu yang lalu. Perlu tindakan pencegahan karena mobil air yang katanya ‘dijanjikan’ akan datang, mending ga usah diharapkan. Batam itu gede loh. Ga ada jadwal dan mekanisme yang jelas gimana mobil air itu akan melayani konsumennya. Apalagi CSOnya ditelpon, nada sibuk melulu. Wah, pada komplain kali konsumennya. Air galon kayaknya uda di-booking juga. Menurut representatif ATB, air akan mengalir ke rumah2, dalam waktu 3 hari, jika proses berjalan lancar. Bisa sampe seminggu untuk mencapai Bengkong dan Batuampar. Lah…kalo ga lancar, piye jal? “Ah, positip thinking aja, mas.”

Paling tidak aku berpikir untuk mengamankan cadangan air untuk cuci muka, cebok dan cuci piring seperlunya. Mami Iqi lagi hamil, dan suka berkeringat banyak. Kalo ga mandi, suka gatal2 dan ujung2nya ga bisa tidur. Belum lagi, yang punya bayi yang harus selalu steril. Setauku sih, para bayi ini ga bisa disuruh sabar kalo uda pipis ato e’ek. Paling tidak kepentingan para malaikat2 kecil ini didahulukan lah. Para dewasa suruh aja numpang mandi di kantor ato tempat2 umum. Hehehe…aku uda hunting tempat2 umum yang bisa dipake buat mandi.

Berburu Tandon. Sudah diberitakan hari jumat. Hari Sabtu pun uda ada pengumuman resmi berupa iklan dari ATB. Maka “perburuan tandon ato reservoir sementara” dimulai. Aku uda punya rencana hari minggu aja mulai cari. Eh, ternyata hari minggu pagi jam 9.30 di salah satu kios khusus barang plastik – pasar Mega Legenda, tandon ukuran 200 liter sudah habis. “Tadi malam, aku datangin 18 biji. Habis semua”, kata si penjual. “Bukannya tadi pagi ada 4 biji?”, tanya istriku. “Yah, habis bu. Kalo mau yang ini”, kata penjual sambil nunjuk ember besar yang lebih cocok jadi tempat sampah daripada tandon air bersih. Akhirnya area perburuan pun berpindah. Sekarang merambah area Ruko Legenda Malaka. Sempat ketemu teman sekampung di jawa. “Tinggal satu ini aja. Beli di toko situ.”, katanya sambil nunjuk toko di belakangnya. Wah…gawat…tambah panik. Mo beli kemana lagi nih. Jangan sampe belinya jauh sampe ke tengah kota. Kita cuma mikir repot bawanya. Naik motor dan dipegangin oleh ibu hamil 5 bulan. Naik motor pelan-pelan menyusuri jalan rusak sambil celingak-celinguk ngintipin dagangan setiap toko. Kali aja ada yang masih jual. Ternyata masih ada !! Senengnya…Ada teman sekantor yang juga beli. Enaknya kita ga perlu nawar. Drum plastik warna biru ukuran tinggi 1.2 meter x diameter 0.5 meter, yang katanya berkapasitas 200 liter, terbeli dengan harga 200 ribu. Salah seorang tetangga yang ga kebagian akhirnya beli “second” dengan harga 50 ribu. Dia bilang sih modelnya sama dengan punyaku.

Strategi penggunaan. Bak mandi-ku kecil. Cuma 0.5M x 0.5M x 1M (kedalaman). Si pengembang rada kurang ajar juga. Rumah hunian untuk kapasitas 4 orang, dikasih bak mandi kapasitas 1 orang. Belum ada rejeki untuk merenovasi bak mandi. Beberapa tetangga, malah sudah punya bak tampung. Yah…mereka rada tenang. Tinggal mengisi ember saja. Istriku uda bilang, “Selalu penuhin bak mandi dan juga ember”. Dia juga mengisi panci2 yang ada di rumah. Dua panci besar berkapasitas 10 liter uda nangkring di meja makan. Iqi dilarang berendam juga. Moga-moga ga protes. Ide briliannya (karena aku ga kepikiran sama sekali) adalah mengisi mesin cuci. Urusan cuci mencuci, berikan saja pada ahli laundry ato nunggu sampe pasokan air normal. Berikutnya urusan cuci piring dan sebagainya. Pake piring styrofoam ato beli makan di luar. Ga perlu cuci piring kan?

Anyway, aku berharap krisis cepat berakhir. Males ah, berburu air juga. Tempo hari tarif air uda naik dan, tanpa bisa protes, kita harus bayar dengan harga segitu. Kita uda bayar kewajiban. Uda hak kita dapat pelayanan prima. Kita ngerti bahwa perbaikan itu dalam rangka peningkatan pelayanan. Tapi jangan lama2 dong, pak.

Gambar dikutip dari sini