Tags

,


Seorang om gw pengen kasih wawasan ama seorang anaknya yang kebetulan baru lulus SMA. Tujuannya biar anaknya ini bisa memilih dengan tepat kuliah dimana. Sesuai minat dan bakat. Dan yang paling penting bermasa depan cerah. Kebetulan yang dijadikan contoh adalah adik gw dan gw. Adik gw lulusan engineering di bandung. Kelar menyelesaikan kuliah, dia berwiraswasta dengan menjual ide di bidang safety. Dimulai jual poster keselamatan, kemudian pelan2 usahanya melebar ke bidang2 lain. Yah, intinya adik gw tidak menggunakan spesialisasi yang dipelajari sewaktu kuliah untuk mencari nafkah. Kebalikannya adalah gw. Gw lulus dengan predikat cukup. Walaupun mengambil spesialisasi di highway engineering, gw malah kecemplung di konstruksi. Memang sih masih satu lini. Banyak dasar2 ilmu konstruksi udah gw kuasai. Kita ngobrol banyak malam itu. Gw sendiri lebih memilih diam. Karena sebenarnya om gw itu lebih tertarik pada kisah hidup engineer yang terbalik2, seperti adik gw. Engineer Fisika yang jadi pengusaha poster & dokumentasi tentang safety

Mmm…sebenarnya gampang2 susah mo nasehatin orang. Karena yang kita bicarakan adalah sesuatu masa depan. Yang belum terjadi, tidak dapat diprediksi. Hanya bisa dipersiapkan dengan plan A. kalo perlu sekalian plan B, C, D sampe Z. hehehe. Gw sendiri hanya bisa memberi saran gimana cara assembly struktur yang bener berikut lesson learned nya. Itu dari pengalaman gw yang uda sekali, dua kali bahkan tiga kali, mengerjakan pekerjaan yang sama. Tapi kalo memilih jurusan ato jalan mana yang akan dipilih setelah lulus sekolah? Hmmm…gw yakin jarang banget orang yang berpengalaman sampe berkali-kali. Yang ada hanyalah pengalaman hidup sekali jalan. Entah itu sukses ato malah gagal sama sekali (yang entah diukur darimana).

Gw sendiri dan istri pernah diskusi panjang soal ini. Berdasar pengalaman kami berdua, jika mo nerusin kuliah, niatnya yang dibenerin dulu. Satu, Kuliah mau mencari ilmu. Ato yang kedua, pengennya setelah kuliah, dapat gelar, cari kerja & bisa dapat duit banyak. Ga ada yang salah dengan keduanya. Bahkan mungkin beberapa orang bisa mempunyai 2 alasan diatas. Jika anda mo cari ilmu, kuliah bisa menawarkan samudra pengetahuan. Ilmu pun ga terbatas yang diajarkan di ruang2 kelas. Di bidang keorganisasian anda akan belajar watak manusia dan bagaimana mengatur rekan, dan mengatur strategi untuk meraih tujuan. Bahkan bukan tidak mungkin jika anda memang berprestasi, tawaran untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya bisa datang sendiri. Anda bekerja keras untuk memenuhi dahaga akan ilmu. Buahnya adalah ilmu anda bertambah.

Jika anda punya motivasi yang kedua, itu adalah motivasi orang kebanyakan. Memang di negara kita ini, gelar adalah alat untuk menaikkan gengsi di depan calon mertua umum. Menaikkan posisi tawar di depan para juragan. Apakah mindsetnya sudah sama dengan gelarnya? Apakah gelar itu sudah mewakili kinerja sang calon karyawan? Jawabannya mungkin ada di benak para manager HRD. Yang gw tau selama gw bekerja, pemikul gelar sarjana itu bak obat sakit kepala. Diharapkan menyembuhkan sakit kepala tanpa menghilangkan kepala. Loh? Orang lain sakit kepala karena suatu masalah. Kita harus punya penawarnya dengan solusi bijak. Maksudnya bener2 diharapkan anjuran2nya dengan cespleng dan akurat. Ga pake ragu2. Dan sudah mempertimbangkan baik dan buruknya. Inilah yang dimaksud mindset. Dengan basic ilmu kuliahan, diharapkan menemukan solusi yang baik untuk masalah real.

Masalahnya kadang orang belum siap dengan konsekuensinya. Beberapa orang teman gw pernah mengeluh, “Gw uda capek2 kuliah, lulus cepat dan IP bagus, eh … gw dapat gaji segini2 juga”. Yah..sabar cak…namanya juga usaha. Menurut gw, dunia kuliah uda ga bertanggung jawab dengan gaji, dan karir di dunia kerja. Dunia kuliah uda memberikan perbekalan dan senjata untuk digunakan di dunia cari duit. Setelah itu ya…usaha sendiri. “Hanya masalah gimana kita berusaha dan bertahan hidup. Lu emang sarjana, tapi emang bisa lu gadaikan ijazah sarjana lu?”, kata teman gw sambil matanya mendelik sambil meringis menahan geli. Itu makanya banyak sarjana kemudian ditemukan tidak berjalan di spesialisasi yang sudah diambil. Jika memang tidak menarik untuk diseriusin, ngapain dipaksakan bukan? Lagipula ini sudah berhubungan dengan rejeki. Kali aja uda disiapkan yang lebih baik oleh Sang Pengatur Hidup.

“Jadi jawaban pertanyaan diatas gimana, cak?”
“Pertanyaan itu tipikal dengan pertanyaan, mau anak laki-laki ato perempuan? Jadi jawabannya?… Udah tau toh…hehehe”

Bandung, Dago Pakar, 21 Juni 2008 21:00