Tags

, , , ,


Maknyoss, Yah !!“Apalah arti sebuah nama?” Begitulah kata Shakespeare. Banyak yang tidak setuju. Karena nama adalah doa. Karena nama adalah identitas. Karena nama adalah segalanya (contohnya para artis itu yang punya nama beken). Saya pun termasuk yang tidak setuju dengan pendapat Shakespeare. Tapi seingat saya…..kata2 ini ada terusannya (makanya ada titik2). Mungkin kata2 itu pas untuk adegan tersebut dan tak layak untuk dianggap sebagai pendapat pribadi sang sastrawan. OK, enough with Shakespeare. Gua mau cerita nama gua. Nama gua emang nama cewek. Tapi gimana lagi, itu hadiah dari orang tua gue (mami). Waktu itu mami sempat kehilangan anaknya dua kali. Dari dulu pengen kasih nama itu. Entah ngidam ato sebab laen. Emang sering timbul salah paham akibat nama ini, yang dikira cewek lah (ini prosentasenya hampir 90%), yang dikira mantan banci abis operasi kelamin (wah ini kebangetan, kira10%). It’s OK. You can have your own thoughts when you hear my name for the first time. Satu lagi, sekarang malah dipanjangin, “WAAHH…NDA TAU YA”. Kebangetan banget (waduh kata2nya jadi ambigu). Pas menikah lebih parah lagi, si pembuat undangan bingung. Lho kok? Dua2nya nama cewek. Dia sempat tanya ama mertua, “Bu, namanya uda bener ga? Kok dua2nya cewek?” HUUU……😦

Waktu berjalan dan kami akhirnya dikaruniai seorang anak. Selama masa hamil, kami berdua sempat berdebat siapa yang harus kasih nama. Istri saya bilang,”Bapaknya dong yang kasih nama. Aku kan uda hamil, melahirkan etc. etc…”. Kalo untuk alasan ini, saya menyerah kalah. OK deh. Suatu ketika di kantor, dalam sebuah perdebatan panjang , ada seseorang bilang,”….Anak itu adalah rezeki etc etc…”. Gw pikir pendapat dia benar juga. Uda dapat nama deh. Lega. Rezeki ato rizki. Kedua, saya nanya teman sekantor,”Apa bahasa arabnya orang yang gembira ato diberi kegembiraan”. Teman saya bilang,”kalo laki FARHAN,kalo cewek FARRAH.” Oke..uda dapet 2 nama.

Gw dan istri ga mau tau jenis kelamin anaknya. Makanya selepas 6 bulan kehamilan (usia dimana janin sudah bisa diketahui jenis kelaminnya), gw ga mau menemani istri saya di ruang dokter. Gw pesan ama istri, jangan kasih tau gw kalo uda tau duluan. Hehehe…..ternyata dokternya sempat maksa istri gw untuk dikasi tau. Dan kita tidak tau sampe si dia lahir di jam 11 malam hari minggu tanggal 22 mei 2005. Dan alhamdulillah terpenuhi keinginan istri gw (dan seluruh keluarga besar) untuk punya anak cowok. Setelah itu, mulai deh urusan administrasi. Harus bikin surat keterangan lahir. Waduh, masak nama anak saya pendek banget. Farhan Rizki.

Gw nanya ama adik ipar yang kebetulan lulusan IAIN, ”Nama rizki itu kalo ditulis pake huruf arab, pake hurup apa?”. Katanya, ”Kayak gini”, sambil nyodorin tulisan arab. Ternyata pake hurup qof. Jadinya Rizqi. Terus namanya ditambah dengan nama Muhammad. Waktu itu saya terkesan dengan kisah kakek Rasullulah SAW ketika ditanya oleh orang Quraisy apa maksud/makna nama Ahmad/Muhammad. Beliau bilang,”Saya pengen cucu saya Mulia di langit dan di bumi”. Masya Allah, dalam banget artinya. Nama Rizqi, gue maksudkan supaya anak gue ini nantinya, Insya Allah, bisa memberi rezeki ke orang-orang sekitarnya. Dan nama Farhan dimaksudkan supaya dia bisa memberi kebahagian kepada orang disekitarnya. Akhirnya gw imbuhi nama belakang saya biar saya dan anak saya mawas diri. Supaya ingat bahwa apapun kelakuan saya akan berimbas ke anak saya. Begitu pula anak saya, supaya hati2 menjaga nama baik keluarga kami dimanapun dia berada. Sungguh, pemberian nama belakang gue bukan dimaksudkan untuk menyaingi para keluarga batak yang menyandang nama para raja tanah batak.

Buat kami berdua, si Rizqi ini adalah rezeki dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepada kami. Waktu gw kehilangan pekerjaan, si Rizqi tak pernah sakit. Bahkan perkembangan badannya tergolong pesat (THANKS MOM). Bahkan tetangga kami banyak memberi baju, makanan dan mainan buat si kecil. Tak pernah rewel dan selalu senyum. Senyumnya adalah senyum termanis yang pernah gw lihat. Gampang akrab ama orang yang baru kenal. Pernah ada cerita seorang tetangga dekat dapet arisan pas mangku si Rizqi. Setelah berkali-kali tak dapat arisan, beliau minta ijin ama mami untuk pinjem Rizqi diajak arisan. “Buat peruntungan”, katanya. Gue sih cuma bisa bilang mungkin pas kebetulan aja.

Sebelumnya, bapak mertua gw uda menyarankan, “Memberi nama seorang anak itu sama dengan memberi kebanggan padanya. Makanya beri nama yang bagus. Beri nama yang cocok disandang olehnya seumur hidup. Bukan kamu yang hidup dengan nama itu, tapi dia. Anakmu. Jangan beri nama yang membanggakan orang tuanya tapi memalukan dirinya”. Mungkin mertua gw ini menyindir salah seorang artis terkenal. Gw inget nama seorang anak artis terkenal yang dinamai agak norak (you know what I mean). Sang artis (kebetulan adalah pencipta lagu, dan penyanyi terkenal dan terlaris) sempat mendapat protes dari penggemarnya karena bisa mencipta syair yang demikian indah tapi tak mampu memberi nama yang baik. Terserahlah. Up to them.

Ini adalah sebuah cerita kecil ketika istri gw kembali kerja. Salah satu klien, Seorang bule Italia nanya istri saya.
Bule: ”What’s your son’s name?”
Istri gue :”Rizqi”.
Bule :”What’s the meaning of Rizqi?”
Istri gue : “……???????”
Bule :”I’m sure that’s good name, isn’t it?”
Istri gue :”Yes, indeed.”
Gitu deh. Orang Italia aja punya pendapat bahwa nama harus bagus. So, kasih nama yang bagus yah untuk anaknya.

Met Ultah yang ketiga, Rizqi.
Semoga kamu menjadi seperti namamu. Btw, kalo pipis di kamar mandi, bukan di kasur
…………..aaahhhhh……………..