Tags

,


Kalo disuruh milih, gw lebih suka windows. Dengan alasan sebagai berikut:

  • Semua hardware pasti dilengkapi dengan driver untuk sistem operasi ini. Coba aja beli printer, pasti uda dapat CD driver. Dan drivernya untuk system windows 9x, NT, XP dan segala macam. Selain itu, windows juga auto-detect untuk setiap hardware. Jadi ga perlu repot nyari driver.
  • Software di kantor gw, juga jalan pake O/S ini juga. Kali aja, kerjaan gw harus dikerjakan di rumah (walaupun sebisa mungkin jangan).
  • Dari jaman gw pertama kali kenal PC, O/S ini yang gw pelajari pertama kali. Dengan kata lain, gw familiar pake O/S ini beserta asesorisnya. Ini alasan klasik buat semua orang. Teman-teman satu tim saya ngaku belajar windows dari versi 98 ato XP. Gw yakin hampir semua orang juga punya pengakuan yang sama.
  • Semua orang pake windows gitu loh…kenapa gw engga? Biar keren gitu loh…..hehehe. Menurut Wiki, ada hampir 80%-90% pemakai Windows di seluruh dunia. Sisanya dibagi-bagi oleh Linux, Mac, dan lain-lain (yang gw sendiri juga ga ngerti bentuknya kayak gimana).
  • “Murah”. Teman gw bilang, “Cuma 40 rebu uda dapat DVD Windows Vista berbagai versi.” Hehehehe…kacau !!!
  • Gampang diinstal loh. Tinggal klik-klik, terus ditinggal tidur, windowsnya uda bisa jalan. Tapi apa beneran gitu ya?😕 … ga yakin gw…😀

Kenapa sekarang jadi penganut Linux, cak? Karena:

  • Karena gw suka donlot barang2 ga jelas. Surfing di internet sampe nyasar ndak karuan. Konsekuensi logisnya, gw harus punya anti-virus yang cukup ampuh plus security update terbaru sebagai benteng pertahanan. Itu yang ga bisa dipenuhi oleh vista bajakan gw. Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan (sampe terkesan boros) untuk beli Vista dan anti-virusnya. Linux Ubuntu bisa memenuhi kebutuhan itu hanya dengan biaya donlot security update. Jadi bukan gratis, tapi murah.
  • Karena tidak menggunakan versi resminya, semua software “bajakan” ga akan mendapatkan dukungan update terbaru dari pengembangnya. Harus disadari software bukanlah barang jadi 100%. Kadang pengembang mengeluarkan versi yang dianggap sudah “stabil”, untuk mendapatkan feed back dari konsumennya. Software tersebut di tes di dunia nyata. Jika ditemukan kelemahan, bug, ato pun celah keamanan, pengembangnya akan mengeluarkan update2nya. Sebagai pengguna versi bajakan, kita ga dapat fasilitas tersebut. Kecuali dapat lewat jalan belakang….
  • Sadar hak cipta juga sih. Gw harus bayar apa yang gw pake. Kalo engga, darimana programmer2 itu dapat makan? Karena gw ga mampu membayar mahal. Maka gw memilih jalan lain, membayar murah untuk kinerja yang sama. Bahkan linux menawarkan kinerja yang lebih baik.
  • Tampilan. Kosmetik tetap penting walaupun urutan no sekian. Linux memberikan kosmetik lebih dengan dukungan hardware minimal. Sebagai contoh, Luna sangat kepayahan menjalankan Vista Aero (entah kalo itu karena pake bajakan). Luna ga rewel waktu pake kosmetik Compiz Fusion.
  • Kesempatan untuk belajar lagi. Linux for human being. Linux untuk kemanusian /  manusia bukan berarti anda brenti belajar, loh. Tetap anda harus belajar lagi. Semua aspek hardware dan software. Kalo pun ga mau belajar susah2, ya pake Ubuntu aja. Lebih dari cukup.

Ada salah seorang teman mengeluh, “Kalo di Linux kan software terbatas kemampuannya, Cak. Coba sampean cari padanannya Adobe After Effect. Susah. Kalo engga ada, malah mahal luar biasa dibanding punya Adobe sendiri”. Makanya, dua-duanya tetap perlu. Antara satu dengan yang lain melengkapi. Ga ada yang lebih baik dari lainnya. Dua-duanya buatan manusia. Selalu ada kelemahannya. Window punya isu kelemahan di security. Linux punya keterbatasan game. Gw sendiri punya alasan kuat untuk pindah Linux. Gw pake laptop cuma buat browsing (pake FireFox aja…), baca email (pake Thunderbird), Word processing dan spreadsheet (pake Star Office, uda cukup). Ngapain ngeluarin duit lebih dari 1 juta, kalo pake yang murah aja uda bisa. Uda murah, Legal lagi. Lain masalahnya kalo gw punya duit dan kuat beli.