Tags

,


Salah satu posting ga penting ini maunya sih judulnya diembel-embeli “Ayat-Ayat Cinta”. Tapi karena ga mau dituduh mendompleng ketenarannya, gw pake judul diatas. Walaupun begitu, posting ini memang terinspirasi dari film tersebut. Film Adaptasi. Kira-kira artinya, film tersebut merupakan adaptasi dari sebuah novel, komik, bisa juga games. Kenapa gw tertarik posting ginian? Seinget gw, gw pernah debat juga ama Vicky karena ga mau nonton film Harry Potter. Gw bilang takut sakit hati ga sesuai novel. Aufa pun pernah ngirimin curhat Hanung Bramantyo tentang eksekusi di lapangan, menjadikan satu departemen jadi kebelet pengen liat. Ditambah lagi, promosi sadis mba Zaenab. “Ih…bagus loh wan. Kamu harus nonton. Ajak Istrimu. Mba Jen sampe banjir air mata. Malah mo nonton sekali lagi”. Banyak juga yang rekomendasi supaya nonton film ini. Novel ini uda terkenal dan uda pantas kalo filmnya sangat ditunggu2. Gw baca novelnya ketika masih di Batam House sekitar dua tahun yang lalu. Jadi rada telat. Itu pun gara-gara dipinjemin Aufa. He…he….he. Novel yang bagus. Yaa…setingkat dibawah Supernova-nya Dee. (selera yang aneh…hehehe).
Selama ini gw seneng nonton film, ga mau ribet urusan di belakang layar. Gw menikmati aja. Contoh film adaptasi yang pernah gw liat adalah: Trilogi Lord of The Rings, Harry Potter yang terinspirasi oleh novel. Street Fighter, Final Fantasy, dan Tomb Raider diinspirasi oleh video games. Superman, Batman, X-man diinspirasi oleh komik. Harry Potter adalah film yang gw tonton film dan gw baca novelnya. Harry Potter and The Sorceres Stone, Novelnya gw baca 10x (Biasa aja sih, cuma karena ga ada bacaan aja🙂 ). Filmnya….hmmmm…..ga cocok dengan bayangan gw. Kecewa. Harry Potter and The Chamber of Secrets, Novelnya gw baca sekitar 10x juga, dan filmnya mengecewakan. Final Fantasy, yang gw kira akan meledak seperti gamenya pun, adem ayem. Belajar dari kekecewaan itulah, akhirnya ga pernah pengen menyelesaikan trilogi lord of the ring. Takut kecewa sih…. Menurut gw, filmnya uda tergolong masterpiece.
Sebenarnya pangkal permasalahannya ada di mindset kita masing2. Ketika kita membaca novel, kita membaca ide orang lain, menafsirkannya dan secara membuat bayangan2 pula. Kita sudah meng”eksekusi” novel itu. Secara ga sadar, kita sudah membuat “film” walaupun dalam bayangan. Kita terinspirasi, dan terkesan dengan bayangan2 itu. Sedangkan film, kita menerima hasil “terjemahan” orang lain. Bisa jadi lebih bagus dari bayangan kita, bisa pas, ato malah meleset. Perlu disadari, orang bikin film itu ga pake teken kontrak, perjanjian ato MOU dengan masing-masing penonton. Gw ga bisa membayangkan jika hal itu terjadi🙂 . CMIIW, sang sutradara malah teken kontrak dengan yang punya duit. Produser lah yang punya “hak” untuk memberi spesifikasi teknis, budget dan skedul pada sang sutradara. Namanya kontrak, tentu saja kewajiban kedua belah pihak menuruti. Dalam perkembangan selanjutnya bila ditemukan kesulitan untuk melaksanakan, ato hasilnya tidak sesuai perjanjian, maka harus ditemukan jalan keluar. Win-win solution. Setidaknya itu yang gw pahami dengan kerangka berpikir seorang structure engineer. Hak anda adalah mengkritik karena sudah ngeluarin duit buat nonton, eh ga sesuai promosi ato ga sesuai bayangan. Analoginya, anda ga perlu ngerti apakah premium yang anda beli itu dihasilkan dari sumur pengeboran mana. Cara ngebornya uda sesuai standar international ato ga. Apakah process pembuatannya itu melanggar prinsip perlindungan lingkungan ato enggak. Lebih bagus anda tahu tapi gw yakin yang bikin anda pusing adalah persoalan harga.
Paling gampang menyikapinya adalah meng-apresiasi keduanya sebagai dua karya yang berbeda. Jujur, sulit melakukan hal itu. Di dalam pikiran kita uda terbentuk bayangan tersebut dan secara ga sadar akan membandingkannya. Gw sendiri susah melepaskan bayangan ini. Makanya memilih ga menonton semua film harry potter, dan ayat-ayat cinta. Takut sakit hati. Gw positive thiking aja, bahwa setiap sutradara itu uda melakukan yang terbaik. Lagipula, gw inget si Rio pernah bilang, “If You try to please everyone, You please no one.” Artinya, susah lah memuaskan keinginan banyak orang. Makanya gw kagum sama orang yang bisa berpoligami….(istri saya bilang, “Hush, ora ono hubungane”) hehehe…
Jika Supernova, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh difilmkan, gw susah membayangkan sapa yang cocok jadi DIVA. Sapa kira-kira menurut anda?